Di balik Zink...
Hasan Asyari | 06 August 2011

Ketika saya bergabung dengan Indonesia Mengajar (IM) berarti saya harus sipa menyerahkan sepenuhnya jiwa raga ini untuk-Nya dan berdedikasi untuk bangsa ini. Saya sudah SIAP dengan konsekuensi, tantangan, dan rintangan  yang harus saya hadapi. Bahkan saya sudah SIAP  meninggalkan ZONA KENYAMANAN (comfort zone) selama ini. Saya bersama teman2 PM mau tidak mau harus berpisah sejenak dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Kita sudah RELA...IKHLAS...TULUS SEPENUH HATI. Siap...atau Tidak...saat itu bukan pilihan, karena jawabannya 'HARUS SIAP".

Saya sudah membayangkan bagaimana kondisi yang akan saya hadapi seperti yang sudah disampaikan oleh IM: tak ada listrik, sinyal terbatas, sumber air bersih tak banyak, akses jalan sulit, intinya jauh dari "peradaban". Memang di awal saya sempat RAGU, tidak yakin, apakah saya akan tetap maju ke "MEDAN TEMPUR". AKAN TETAPI, ketidakyakinan adalah bukan pilihan, atribut kenyamanan harus siap ditanggalkan, seolah kita SUPER HERO di zaman Reformasi untuk memberantas "PENJAJAH" kebodohan dan kemiskinan.

Perjalanan DEPLOYMENT dari awal No Problem! mulai dai Soekarno-Hatta sampai Raden Intan, Bandar-Lampung semua baik-baik aja. Mulai dari Lampung Selatan, Lampung Tengah, Bandar Jaya suasana kota mulai sepi. Apalagi dari Menggala sampai Unit 2 lalu memasuki Kec. Way Kenanga lalu Gunung Agung suasana makin sunyi dan mencekam (lebay...) samping kanan-kiri sepanjang jalan kebun karet dan kelapa sawit. Awalnya senang dengan view karet dan sawit, tapi lama kelamaan boring (bukan borang hehe) dan kok GARING ya...(tetep harus semangat!).

Memasuki desa masing-masing PM, mulai dari tempat tinggal Isal, Rusdi, dan kita mulai dipisahkan  oleh jarak dan waktu. Saya melihat rumah yang ditempati Faisal dan Rusdi saat itu sekilas BAIK dan BAGUS. Dalam benak saya "ya mudah2an saya diberikan induk semang dan tempat tinggal terbaik" apa pun bentuk rumahnya, yang penting sanitasi cukup layak. Akhirnya sore itu kira2 pukul 15.30 saya sampai di rumah tinggal saya, keluarga induk semang dan para tetangga menyambut begitu hangat, "inilah keluarga baru saya", saya pun sangat SENANG telah diterima dengan baik di sini.

Hari pertama saya masih melihat situasi dan kondisi, lalu mulai memperkenalkan diri dengan orang tua dan keluarganya. Hari kedua saya mulai berkenalan dengan para tetangga termasuk Pak Lurah dan Pak RK. Hari ketiga saya mulai berangkat ke sekolah untuk berkenalan dengan guru-guru dan anak-anak. Secara sekilah rumah induk semang saya cukup baik dan bagus (tanpa bermaksud membandingkmulaian) mulai dari halaman sampai pawon (dapur) terbilang luas (12 x 18 m) belum lagi kamar mandi terpisah dari rumah. Rumahnya terdiri: 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 5 kamar, 1 pawon, dan 1 gudang.

Sejauh itu Alhamdulillah baik-baik saja. Pandangan pertama begitu mempesona selanjutnya (terserah anda...), terus saya tanya ke mbah "mbah kalo toiletnya dimana?" mbah jawab "o..h masih di belakang" terus gw mikir "wah di belakang mana nie? terus mbah ngajak " ayo Pak Hasan liat dulu!" saya "iya mbah". terus saya liat ternyata toiletnya terpisah cukup jauh dari rumah, tetapnya di kebun belakang rumah, kalo dari rumah kira-kira 15 meter. Saya liat, dalam hati "OK, mudah2an bisa!

Toilet itu berukuran 1 x 1 meter yang ditutup oleh lembaran seng setinggi 0,5 meter. dalam UNSUR PERIODIK lembaran seng adalah unsur Zn (Zink). di balik zink tersebut ada lubang kecil berdiameter kira 20 cm (gak perlu dibayangin). Zink tersebut sudah tampak coklat berkarat, rapuh, dan cukup memprihatinkan. Masyarakat di sini menyebutnya "WC Cemplung" tapi saya lebih senang mengistilahkan "Tirai Zink", saya ngarang sendiri lho.... "Tirai Zink" itu beratapkan langit, dan beralaskan bumi, tanah coklat, dan sedikit semen berlumut. Di sekitar "tirai  zink" ada 3 pohon kelapa, 1 kelapa sawit, 1 pohon alpukat, 1 pohon melinjo, beberapa pohon coklat, sampai di situ masih tidak ada masalah.

Di samping tirai zink ada jalan setapak (saya pikir jalan buntu)  ternyata sebagai jalan terobosan, artinya sering dilewati banyak orang. Waduuuh...nah itu yang menjadi masalah, kalo keliatan atau diliatin sama mbah-mbah bisa "HANCUR HARGA DIRI" ku, apalagi kalo ada murid lewat di situ, wah bagi saya itu "uda jatuh ketimpa tangga lagi". Makanya saya men "SIASATI" jika ke tirai zink waktu subuh-subuh, di kala masih gelap dan sunyi, atau sore hari menjelang maghrib (gw ko kayak burung hantu munculnya gelap2 hehe). Karena kalo gak gitu bisa berabe euy!.

Pernah suatu kali saya bangun kesiangan kira2 jam 6 otomatis "raja siang" sudah menampakkan taringnya, terus pengen "PUP" karena uda kebelet tanpa pikir panjang saya menuju tirai zink, eeh taunya ada yang lewat bocah laki-laki naik sepeda. Saya berusaha bersembunyi, gak menampakkan diri, bahkan gw uda nahan nafas (sampai nutup hidung rapet-rapet hehe..) dengan harapan bocah itu lewat tanpa melihat saya atau pura-pura gak liat. Pas bocah itu uda sedikit melewati tirai zink, gw komat-kamit "ayo cepetan lewat...ayo cepetan!" eeh taunya bocahnya itu (murid SD 1) dengan polos menyapa saya "Pak Hasan..." gw sambil mukul kepala "waduh gawat...ketauan juga gw sia-sia donk usaha gw" (sampe gak nafas gw), pokoknya adegan ini mirip CRAYON SHINCHAN.

Sejak saat itu, saya belajar dari pengalaman, dan saya selalu berusaha bangun subuh meskipun mata masih ngantuk. mudah2an ini gak terjadi sama temen2 cukup saya yang mengalami (sok bijak...), Jejak Langkah Bersama IM, menjadi Sang PM adalah The Best Experience.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran