280711: MORE THAN SPECIAL
Hasan Asyari | 02 August 2011

280711: More Than SPECIAL

Hari kamis tanggal 28 Juli lalu bagi saya adalah hari biasa seperti hari lainnya, tak ada yang special semua terasa biasa saja, aktivitas berjalan seperti biasa, semua serba biasa. Pagi jam 05.30 saya bangun tidur, shalat subuh, beres-beres rumah, dan membangunkan anak-anak (kayak uda punya anak aja..hehe) kebetulan memang hampir setiap hari Rico, Astra, Wahyu, dan Doni (murid, keponakan ibu, sekaligus sahabat kecil) menginap di rumah buat menemani saya selama Bapak pergi ke Jawa. Kehadiran anak-anak itu benar-benar menjadi sahabat kecil kapan pun dan dimana pun, mereka yang tampak polos begitu dekat dan “setia” menemani saya hampir dalam setiap aktivitas yang saya lakukan. Pagi itu saya  “merasa hampa”, sepertinya ada sesuatu yang terlupakan, saya sendiri tidak tahu jawaban, dalam hati “hari ini ada apa ya?, kok kayak ada something yang terlupakan dan sulit diungkapkan”.

Saya berpikir sejenak “ada apa ya?” kemudian saya melanjutkan beres-beres rumah, membangunkan anak-anak, menyapu kamar dan ruang tamu. Pas saya lagi nonton METRO PAGI, dalam newsticker tercantum jam dan tanggal: 06.23 28 Juli 2011, saya Istighfar sekaligus bersyukur “Ya Allah ini adalah tanggal lahir saya” kenapa saya bisa lupa sama hari lahir sendiri, entahlah. Memang tradisi di keluarga saya, jika ada anggota keluarga yang berulang tahun, semua dianggap biasa saja, tidak ada yang istimewa, kalo kata Bapak sama Ibu “syukuri atas apa yang telah Allah karuniakan”. Bapak, Ibu, Kakak, adik, dan saudara-suadara saya tidak pernah mengenal Hari Ulang Tahun (entahlah apa mereka tidak tau tanggal lahirnya atau mereka mempunyai pandangan tersendiri terkait Ultah). Hari ulang tahun bagi keluarga  tidak ada ucapan selamat, tidak ada kado istimewa, tidak ada pesta, karena hari itu justru jatah hidup kita berkurang, hanya itu tak ada yang lebih semua mengalir begitu saja. Kalaupun di keluarga ada yang berulang tahun kami merayakan dengan ACARA SYUKURAN sederhana: jamuan sederhana, tempat sederhana, pakaian sederhana, itu pun jika kami punya “rezeki lebih”.

Perayaan Ulang Tahun baru saya kenal ketika duduk di bangku SMA dan Kuliah, karena saya aktif berorganisasi di sekolah dan kampus, dan teman-teman selalu memberi SURPRISE yang tidak saya duga. SURPRISE itu seperti mematikan ruangan, kemudian tiba-tiba terdengar nyanyian “HAPPY BIRTHDAY” secara serempak lalu lilin-lilin kecil dinyalakan di atas kue coklat, lalu kita MAKE A WISH, dan potong kuenya dan kita bagikan kue ke teman-teman, sebuah ritual mirip adegan di TV-TV. SURPRISE itu pertama kali saya rasakan ketika saya di kelas 2 SMA. Ritual itu lalu berlanjut hingga bangku kuliah, minimal ucapan selamat lewat SMS atau FACEBOOK, tapi keluarga saya tetap  dengan kesederhaannya bahwa Hari Ulang Tahun cukup dengan bersyukur, dan saya pun memakluminya.

Ketika pagi itu saya baru menyadari bahwa itu hari lahir saya, saya bergegas mencari handphone siapa tau ada ucapan selamat dari keluarga, teman, atau sahabat (ngareeep hehe), ternyata inbox –nya kosong. Dalam hati “ko tega bener ya...gak ada satu pun yang inget hari ulang tahun gw” apa karena saya jauh diperantauan sehingga “dilupakan zaman”. Ya sudahlah! (kata Bondan) jalani dan nikmati saja gak perlu gundah apalagi GALAU hehe. Saya segera mandi untuk siap-siap berangkat ke sekolah, di sekolah pun terasa biasa saja dan saya tetap berusaha profesional mengemban tugas mulia ini (ciee gayanya). Pulang sekolah saya merasa semakin hampa dan galau padahal ga ada beban tugas apa-apa.

Akan tetapi dalam sekejap prasangka negatif saya berubah 180 derajat, pada hari KAMIS dan JUMAT menjadi hari Luar biasa (extraordinary days)... pasalnya saya baru sadar 28 Juli adalah Hari Ulang Tahun saya, itu pun pas pagi mau berangkat ke sekolah. Dalam hati HUT saya kali ini tak ada yang spesial semua berjalan kaya rutinitas biasa, saya sempet hopeless tapi akhirnya ya udahlah!!! Yang penting saya BERSYUKUR (kata Bapak sama Ibu) kepada sama Allah SWT atas berbagai anugerah yang dikaruniakan kepada saya. Di sekolah saya mengajar seperti biasa di kelas 4 IPA, di kelas 5 Bahasa Inggris. Pulang sekolah saya langsung istirahat+lunch+nonton TV. Jam 01.30 Rico datang ke rumah cuma sekedar main games di laptop, ya saya nemenin dia dulu, sepulangnya Rico saya langsung meluncur ke rumah kepala sekolah buat menuntaskan kewajiban saya bikin papan nama.

Lagi seru-serunya menyusun papan nama, tiba-tiba Ibu Herlina ditelepon sama Asti dan meminta saya pulang ke rumah, mereka nunggu saya. Saya berpikir ada apa Asti tiba-tiba datang ke rumah kayaknya saya gaK ada janji sama dia. Saya buru-buru merapikan papan nama, dan meluncur kembali ke rumah, sesampinya di  rumah saya mengucapkan salam ternyata suasana sepi dan hening, kamar saya kuncinya terbuka.  Saya mulai curiga...pas masuk kamar SELAMAT ULANG TAHUN HASAN!!....Asti, Riza, Rusdi, Nila ternyata sudah di  dalam kamar, di atas kasur ada kado+ucapan selamat+kembang-kembang tujuh rupa (emang gw Suzana hehe) saya benar-benar SURPRISE!!! Isi kadonya pengen tau apa? TOPI ADIDAS PUTIH+ 1 toples SO NICE, wah I AM VERY HAPPY, terima kasih sahabatku semua!

Kebahagiaan itu ternyata tak berhenti sampai di situ (dramatisasi), Jumat seperti biasa senam bersama di lapangan sekolah, istirahat sebentar lalu masuk kelas. Nah saat di kelas 6, anak-anak tiba-tiba meminta saya ikut mereka ke sawah sepulang sekolah jam 2, kata mereka “Pak ikut ke sawah ya..kita makan-makan sebelum bulan Puasa”. Ya tanpa berpikir panjang dan gak ada salahnya  jam 2 saya ikut mereka  ke sawah sekaligus menemani mereka. Dari rumah ke sawah saya cuma ditemani satu anak, sesampainya di sawah kok sepi cuma ada 3 murid saya (Siti, Yuni, Ila) waktu saya tanya “dimana anak-anak?” Siti cuma menjawab “gak tau Pak!”. Ternyata dari balik semak-semak tiba-tiba “SELAMAT ULANG TAHUU....UN Pak Hasaaan!” sambil membawa kue kecil plus lilinnya. Seketika hati ini terasa campur aduk: senang, terharu, terkejut, dan rasa bahagia terpancar bagai Romeo memeluk Juliet sebuah kebahagiaan melebihi luasnya semesta. Saat itu juga sawah diselimuti keceriaan, tawa, dan canda anak-anak mulai dari kelas 1 sampai kelas 6, walaupun tidak semuanya hadir tapi tidak memudarkan kebahagiaan kami. Anak-anak langsung pada bercebur ke sungai baik anak laki-laki maupun anak perempuan, byuur!!!ayo pak ikut! saya pun ikut bercebur “byuur!!! hanyut ke dalam satu pusaran kebahagiaan, LUAR BIASA!

Dalam hati “GILAAA nie anak-anak!” saya tidak habis pikir, anak-anak seusia itu, sepolos itu memiliki ide dan inisiatif untuk merayakan hari lahir gurunya yang baru mengenal dan mengajar mereka lebih kurang 9 bulan, padahal saya pun tidak pernah mengutarakan kepada anak-anak kapan tanggal lahir saya, sungguh di luar nalar saya. Perayaan ulang tahun di sawah bersama anak-anak itu hanya sederhana, tidak ada pesta glamor, tidak ada sajian istimewa, hanya ada kue kecil yang langsung dibagi-bagikan dan habis seketika sore itu juga. Kata mereka ini perayaan ulang tahun pertama untuk gurunya, hati saya langsung bergemuruh, saya seperti mendapatkan intan berlian yang tak terhingga nominalnya. Perayaan itu tidak spesial, tetapi LEBIH DARI SEKEDAR SPESIAL, karena memberikan MAKNA yang begitu MENDALAM. Terima kasih anak-anakku! Terima kasih ya Rabb!
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran