It’s time to explore Borneo!
Hafiz Iqbal Maulana | 02 November 2011

      Ya, kalimat itulah yang ku ucapkan ketika mengetahui bahwa aku akan ditempatkan di pulau terbesar di Indonesia, yakni Pulau Kalimantan. Kalimat tersebut cukup menggambarkan diriku yang sangat gemar berpetualang menjelajah tempat baru sekaligus tentunya berwisata kuliner di tempat yang aku singgahi. Jiwa travelling pada diriku ini secara tidak langsung sudah tertanam semenjak balita ketika orang tuaku mengajakku beserta adikku untuk hijrah dari tempat tinggalku ke tempat nenek saat lebaran tiba alias mudik. Orang tuaku mulai mengenalkan tentang makna mudik bagi orang Islam. Menurutku, mudik tidak sekedar berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Mudik merupakan suatu tradisi unik umat Islam yang mungkin cuma dilakukan di Indonesia, yang mana dimaksudkan untuk lebih mempererat tali sillaturrahmi kita sebagai saudara sesama umat Islam. Dari mudik jugalah aku dapat mengetahui beberapa tempat baru beserta keindahan alam, wawasan dan pengalaman baru, keberagaman masyarakatnya serta tentunya belajar mengenai kehidupan yang tidak akan aku dapat hanya dengan berdiam diri di tempat tinggalku saja. Saat itulah hati ini mulai tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan perjalanan.

      It’s time to explore Borneo, semuanya berawal ketika aku beserta 46 calon Pengajar Muda (CPM) Indonesia Mengajar (IM) angkatan III yang lain sedang digembleng dalam Training Intensif di Gedung Modern Training Centre (MTC) Bogor. Saat itu menjelang maghrib, selepas sesi bersama fasilitator, kami semua berkumpul di pintu masuk gedung MTC. Hampir semua CPM mendadak tegang dan cemas. Ketegangan itu jelas tergambar dari raut muka mereka. Hal itu dikarenakan pada saat itu fasilitator mengumumkan bahwa lokasi penempatan sudah ditentukan, dan kami semua dapat mengetahui lokasi penempatan kami dengan mencari nama kami diantara rerumputan di lapangan upacara MTC. Namun, ketegangan itu tidak berlaku  bagiku. Sejujurnya, aku tidak tegang ataupun cemas sama sekali. Aku  benar-benar rileks, pasrahkan dan ikhlas akan lokasi penempatan yang telah ditentukan. Karena aku yakin bahwa semua lokasi penempatan itu sama saja dan apabila aku mendapatkan salah satu dari 5 lokasi tersebut, itu merupakan lokasi yang tepat dipilihkan oleh Allah SWT untukku. Tapi tetap saja harapan untuk bisa memilih lokasi juga ada pada diriku. Aku hanya berharap tidak ditempatkan di Majene, Sulawesi. Kenapa? Karena aku sudah pernah singgah di beberapa kota di Pulau Sulawesi, dan itu menurutku cukup untuk mewakiliku dalam mengunjungi sebuah daerah atau Pulau. Selain Sulawesi, aku belum pernah mengunjungi 4 daerah penempatan yang lain sehingga membuatku sangat ingin ditempatkan di salah satu daerah tersebut. 4 daerah penempatan tersebut adalah Paser, Halmahera Selatan, Tulang Bawang Barat, dan  Bengkalis.   

      Alhamdulillahirabbilalamin, doaku terjawab. Dengan langkah yang santai dan tanpa beban, aku cukup sekali saja mengarahkan tubuhku ini menuju sisi kanan dari lapangan upacara MTC dari tempatku berjalan pada awalnya. Disitu aku temukan secarik kertas yang tersembul diantara rerumputan lapangan upacara MTC. Kucari namaku disana, dan akhirnya kutemukan namaku diantara 9 CPM yang akan bersama-sama denganku selama 1 tahun di lokasi penempatan yang sama denganku nantinya, yaitu Kabupaten Paser. Tidak seperti teman-teman CPM yang lain yang bahkan harus mencari lokasi penempatan mereka hingga ke semua penjuru lapangan upacara MTC, aku cukup sekali saja mencarinya dengan penuh keyakinan pada langkah kaki ini. Akhirnya, setelah semua teman-teman CPM berhasil menemukan nama-nama masing-masing, kami berpelukan satu sama lain dan sujud syukur atas pilihan terbaik yang telah ditetapkan oleh-Nya.

      Esok harinya, kepala ini masih terngiang akan kata Paser, suatu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur. Wajar, karena hal ini menjadi sesuatu yang baru bagiku untuk dapat mengunjungi Pulau Kalimantan atau yang biasa kusebut dengan Pulau Semar ketika aku masih duduk di bangku SD. Memang menurutku Pulau Kalimantan mirip sekali dengan tokoh Semar dalam cerita pewayangan Jawa Kuno. Bentuk pulaunya yang seakan seperti mempunyai hidung dan perut gendut serta pantat yang seperti bebek selalu tergambarkan dalam otakku sebagai sosok Semar. Seperti yang telah kita ketahui, Semar tergambarkan memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

      Terlepas dari itu, Pulau Kalimantan seakan menjadi salah satu Pulau yang seakan mistis bagi beberapa orang Indonesia yang belum pernah berkunjung kesana. Entah karena enggan, takut ataupun belum ada kesempatan. Tapi memang kuakui bahwa Pulau Kalimantan memiliki suatu keunikan tersendiri. Lihat saja bagaimana Pulau tersebut berdiri kokoh dan terlihat sangat eye catching sekali karena terletak di tengah-tengah bentangan negara kepulauan Indonesia dengan bentuk Pulau yang unik disertai ukuran paling big size diantara Pulau-Pulau lainnya di Indonesia. Suatu pertanyaan pun timbul dalam benakku, “Kenapa ya letak Pulau Kalimantan berada di tengah-tengah Kepulauan Indonesia dengan bentuk yang unik dan ukuran yang paling besar?”. Dalam hati aku sempat mengutarakan hipotesisku yang lagi-lagi aku kaitkan dengan kesamaan bentuk dan rupa Pulau itu dengan Semar, “Semar merupakan sosok yang bijak dan memiliki pemikiran luas dan jauh kedepan untuk kesejahteraan manusia. Selain itu dia mempunyai peran yang besar dalam membantu Ksatria-Ksatria Pandawa saat mengambil keputusan. Mungkin saja, jiwa seperti Semar inilah yang patut kita lestarikan dan kita jaga demi keberlangsungan hidup serta kesejahteraan rakyat Indonesia. Pantasnya, jiwa tersebut memang di tempatkan di antara rakyat sebagai pengayom dan teladan agar seluruh rakyat dapat dengan mudah melihat dan mencontoh sikapnya. Itulah sebabnya bentuk Pulau Kalimantan, yang berada di tengah bentangan Indonesia menyerupai bentuk Semar, agar kita selalu ingat untuk menumbuhkan sikap Semar dalam diri kita di tengah  masyarakat”. Selain itu, berdasarkan fakta yang ada, Pulau Kalimantan memiliki peran tak hanya di Indonesia saja, namun juga bagi umat manusia di dunia. Pulau Kalimantan menjadi sumber penghasilan bagi bangsa ini dengan Sumber Daya Alam berupa batu bara, emas, gas, kayu, minyak bumi, kelapa sawit, dsb. Pulau Kalimantan juga memiliki salah satu hutan tropis terbesar di dunia sehingga mendapat julukan Earth Lung. Oleh karena itulah aku berusaha menyibak misteri Pulau Kalimantan dengan segala hal yang menurutku make a sense. Namun di balik semua rahasia di balik penciptaan Pulau Kalimantan yang demikian, patutnya kita beryukur kepada Allah SWT atas segala anugerah dan kuasanya yang memberikan Sumber Daya Alam yang begitu melimpah kepada negeri ini. Wallahu allam bis shawab terkait kenapa tercipta Pulau Kalimantan yang demikian. Hanya Allah SWT lah yang tahu alasannya.      

      Kemistisan Pulau Kalimantan di dalam benak ini tidak berhenti sampai itu saja. Aku masih saja terbayang akan beberapa cerita dan film yang mengisahkan tentang black magic yang masih terpelihara sebagai adat dan budaya suku pribumi di Pulau Kalimantan. Seketika itupula aku teringat akan joke seorang teman dekatku, yang mengatakan kepadaku bahwa ia sangat yakin bahwasanya dalam program Indonesia Mengajar angkatan III ini aku akan ditempatkan di Kalimantan dan akan mendapatkan jodoh disana sehingga tidak akan bisa balik lagi ke Pulau Jawa. “Oh dear, baiklah doamu sekarang terjawab dan aku akan jawab tantanganmu!”, spontan dalam hati aku berkata demikian.

      Seakan ingin menjawab tantangan temanku tersebut, setiap kali aku berselancar di dunia maya, selalu kusempatkan untuk melihat bagaimana sudut-sudut Pulau Kalimantan. Tak lupa aku juga mencari tahu beberapa informasi mengenai lokasi penempatanku nanti di Kabupaten Paser. Sejauh ini, berdasarkan informasi yang aku peroleh, ternyata Paser tidak seperti yang ada dalam bayanganku selama ini. Positif. But, who knows? I haven’t ever visited the place. Menurutku, yang paling penting adalah kembali pada niat awalku untuk turut mencerdaskan anak bangsa dan always keep positive thinkin’. Jika niat kita sedari awal baik, maka kita juga akan mendapat sambutan yang baik pula. Selain itu tak lupa sebagai bonus dalam tugasku, aku dapat mengeksplorasi dengan berkeliling di pulau itu kelak sebagai wujud dalam memaknai hakikat “Bhinneka Tunggal Ika”. Sebuah semboyan yang hanya akan terbujur kaku tak bermakna dalam cengkeraman Garuda ketika aku hanya masih berkutat di Pulau Jawa saja. Memang Bali, Lombok (NTB) dan Sulawesi sudah pernah aku jelajahi. “Namun, Indonesia bukan hanya sekedar Bali, Lombok (NTB) dan Sulawesi kawan! Berkelilinglah Indonesia dan buktikan patriot Pancasilamu!”, gumamku dalam hati dengan penuh semangat. Kini saatnya aku harus menjadi guru SD sekaligus menjadi seorang pemimpin yang berdiri di tengah-tengah masyarakat dan mampu bertindak sebagai seorang pendengar yang baik, pengayom serta sebagai teladan bagi mereka layaknya seorang Semar. Akan kujadikan pengalaman berharga ini sebagai suatu pelajaran hidup. Agar suatu ketika aku dapat memberikan sumbangsihku untuk negeri ini kelak. Dan sekarang saatnya aku bersiap untuk melihat Indonesia dari sudut yang lain. It’s time to  explore Borneo! Bismillahirrahmaanirrahim!

 

Jakarta, 2 November2011

Yang sedang tidak sabar menanti Deployment,

Hafiz Iqbal Maulana

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran