Hari Pahlawan (Tanpa Tanda Jasa) yang Terlupakan
Hafiz Iqbal Maulana | 25 November 2011

TERIMA KASIHKU.. KU UCAPKAN..

PADA GURUKU YANG TULUS..

ILMU.. YANG BERGUNA..

SELALU.. DILIMPAHKAN..

UNTUK.. BEKALKU.. NANTI..

SETIAP..HARIKU..DIBIMBINGNYA..

AGAR..TUMBUHLAH..BAKATKU..

KAN KU... INGAT SLALU..

NASEHAT GURUKU...

TERIMA.... KASIHKU... GURUKU...

*  *  *

     Tatkala teringat lagu itu, seketika itu pula hati ini seakan bercampur aduk rasanya. Bergejolak menahan rindu, sedih dan bahagia. Teringat akan tentang pengabdian dan pengorbananmu. Inginku meraih jemarimu dan menciumnya dengan segenap penghormatan dan rasa terima kasih. Karena tanpa ketulusan itu, mungkin hari ini kita  semua tak kan menjadi seperti ini. Tanpa kesabarannya, mungkin banyak diantara kita yang tersesat kehilangan arah.

     Kawan, marilah sejenak kita kenang mereka. Mereka yang telah mengalirkan segenap ilmu berharga dalam sanubari kita. Mereka yang telah mengabdikan sebagian usianya demi mencetak generasi penerus bangsa ini. Mereka yang sabar dengan ketidaktahuan dan kenakalan kita. Melalui merekalah.. aku, kamu, dan kita semua dapat berdiri tegak menghadapi kerasnya dunia guna mewujudkan mimpi dan asa semasa bocah dahulu kala.

     Kawan, marilah sejenak kita panjatakan Do’a tulus untuk mereka yang mungkin detik ini tak lagi muda. Agar mereka senantiasa ikhlas menjalani tugas mulianya sebagai guru kehidupan. Sehingga dengan keikhlasan itulah pahala dari-Nya mengalir deras hingga akhir masa. Sehingga dengan keikhlasan itulah rezeki yang barokah dan berkecukupan terlimpahkan untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Semoga di masa tuanya nanti, mereka tetap bangga dan terus bersyukur telah mencetak ribuan juta tunas bangsa yang memakmurkan dan mengharumkan negeri ini kelak. Terima kasih wahai Ibu - Bapak Guru, hanya melalui Do’a ini lah cara kami membalas jasa-jasamu.

*  *  *

     Masih tetap di bulan November, namun atmosfer dengan tema Pahlawan masih juga tergambar jelas. Sepertinya bulan ini memang di khususkan untuk mengenang jasa para Pahlawan yang telah berjasa untuk negeri ini. Pahlawan yang sudah gugur ataupun yang belum. Pahlawan dengan tanda jasa maupun tanpa tanda jasa.

     Berbicara mengenai Pahlawan tanpa tanda jasa, hari ini merupakan hari untuk mereka. Sebuah momentum yang memang bukan (bahkan mungkin tidak dianggap) sebagai hari besar Nasional. Oleh sebab itu tidak ada tanggal merah alias hari libur saat ini.  Tak ayal kebanyakan khalayak umum tak ingat atau tidak tahu ada apa gerangan yang terjadi setiap tanggal 25 November. Bahkan, ketika mengajar kelas V SDN 005 Tanjung Harapan, akupun bertanya pada murid-muridku, “Anak-anak, sekarang adalah tanggal 25 November. Adakah yang tahu hari apakah sekarang?”. “Hari Jum’at Pak!”, pekik salah satu muridku. Aku pun menjawab, “Ya, memang tidak ada yang salah anak-anak, hari ini Tanggal 25 November adalah hari Jum’at. Kalau kemarin tanggal 10 November kita memperingati Hari Pahlawan. Nah, hari ini kita juga memperingati hari Pahlawan juga, tapi Pahlawan tanpa tanda jasa. Ada yang tahu siapa itu Pahlawan tanpa tanda jasa?”. “Bapak!”, sahut muridku. Aku terdiam sejenak melihat kepolosan jawaban mereka. Seketika itu aku tersadar bahwa sekarang aku berdiri di depan kelas sebagai Guru bagi mereka.  Ya, sebagai guru! Yang dalam bahasa Jawa, guru merupakan akronim dari digugu lan ditiru (diteladani dan dicontoh). Tak salah memang, seorang guru adalah seseorang yang berdiri Seseorang yang kuanggap begitu istimewa ketika aku masih berseragam putih merah persis seperti murid-muridku sekarang. Seseorang yang selalu bersemangat dalam mengajarkan hal-hal baru sebagai bekal mereka untuk menghadapi hidup. Tidak hanya sekedar mengajarkan logika dalam ilmu pasti namun juga mengajarkan sebuah realita dalam ilmu nisbi. Keteladanan mereka memiliki peran dalam proses pembentukan karakter mereka.

     Berbicara mengenai seorang guru, dapat dipastikan aku akan menyebut orang tuaku sebagai orang pertama yang sangat berjasa bagi perkembangan pribadiku. Mereka berdualah yang menginspirasiku untuk menjadi seorang guru saat ini. Mereka berdualah yang membuatku memantapkan niat untuk memulai langkah besar ini dengan menjadi seorang guru SD terlebih dahulu. Sebab mereka berdualah guru pertamaku yang mengajari banyak hal semenjak aku melihat dunia ini untuk kali pertama. Aku ingat ketika Ayah mengawali karirnya selepas lulus kuliah menjadi seorang guru terlebih dahulu di salah satu STM (Sekarang SMAK) di Surabaya. Walaupun saat ini Ayah sudah tidak lagi menjadi seorang guru, namun beliau telah berhasil menanamkan konsep didikan yang cukup keras kepadaku sedari kecil. Begitupula Ibu yang hingga kini tetap setia menjadi seorang guru ekonomi di salah satu SMA Negeri di Sidoarjo. Hasil tempaan dan keteladanan mereka jualah yang mengantarkanku hingga dapat berdiri di depan murid-murid kelas V SDN 005 Tanjung Harapan saat ini, sebuah SD yang terletak begitu terpencil dan sangat jauh dari keramaian kota. Yang ada hanyalah keramaian bising bunyi motor perahu milik nelayan yang sudah sangat akrab di telingaku saat ini. Di desa inilah aku mengawali karirku selepas menyandang titel Sarjana Teknologi Pertanian. Sebuah titel yang rasanya jauh dari kata sinkron dengan apa yang aku kerjakan saat ini. Tak ada rasa malu sedikit pun ketika aku ditanya oleh beberapa orang, “Kerja apa sekarang mas?”. Aku pun menjawabnya dengan tegas dan mantap, “Guru SD!”. Yang ada adalah rasa bangga dan terhormat karena dapat turut ambil bagian dalam upaya untuk melunasi janji kemerdekaan, yakni Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

     Guru, sebuah profesi yang tidak terbersit sama sekali dalam benak cita-cita ini. Bahkan dalam memilih sebuah jurusan sekalipun saat awal masuk kuliah dahulu. Kini kumengerti betapa beratnya menyandang status sebagai seorang guru. Amanah yang dipikulnya sungguh tidak main-main,  yakni mendidik. Mendidik tunas bangsa untuk kemudian menjadi pemimpin bangsa ini kelak. Ribuan bahkan jutaan orang sukses telah lahir dari tangan dingin seorang guru. Namun apalah daya, jasa mereka seakan hanya untuk terkenang bak angin berembus. Sejuk seketika, dan lenyap seketika itu jua. Banyak yang terlupa akan nasihat-petuah yang pernah mereka sampaikan. Mereka tetap ikhlas, tersenyum, dan terus mengingat kita tatkala rambutnya telah banyak  dihiasi helai-helai putih. Tak sadar air mata ini pun menetes mengingat jasa mereka saat murid-muridku mencium tangan ini sebelum meninggalkan kelas tanda berakhirnya pelajaran. Kuresapi dan kumaknai dalam-dalam arti hormat dan rasa terima kasih melalui tradisi mencium tangan yang dahulu kulakukan. Terima kasih atas bakti dan jasamu dalam membimbingku selama ini wahai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa! J

*sebuah persembahan kecil berupa VIDEO dari murid-murid SDN 005 Tanjung Harapan untuk guru-guru mereka :

Oh guruku,

Kau sangat berjasa bagiku

Tanpamu, aku tak bisa belajar

Tanpamu, aku tak bisa berhitung dan membaca Tanpamu, aku tak bisa meraih cita-citaku

Oh Guruku,

Betapa mulia hatimu

Kau rela suaramu habis

Demi kami Pandai Karya : Wahdah SDN 005 Tanjung Harapan

 

 

Oh guruku,

Kau sangat berjasa bagiku

Tanpamu, aku tak bisa menulis

Tanpamu, aku tak mengenal huruf apa-apa Oh guruku,

Kau sangat berjasa bagiku

Tanpamu, pikiranku melayang tanpa arah

Dan tanpamu, aku tak bisa meraih cita-citaku

Sekali lagi kau sangat sangat sangat berjasa bagiku

Karya : M. Ridwan kelas 5 SDN 005 Tj.Harapan

 

SELAMAT HARI GURU!

Desa Selengot, Kecamatan Tanjung Harapan, Kabupaten Paser - Kalimantan Timur. 25 November 2011

Seseorang yang sedang menikmati peran barunya sebagai seorang GURU! :)

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran