Malam di Tengah Sungai Terekam Seumur Hidup
Adji Prakoso | 14 November 2012

“Desa selalu memberikan pengalaman unik bagi penikmatnya“

Rabu, 26 September 2012 sebuah kejadian menarik terekam memori jangka panjang dan cerita untuk anak cucuk di kala senja usia. Pengalaman menariknya terdampar dalam perahu motor ditengah sungai Lalan yang lebar dan terkenal dalam. Cahaya penerangnya hanya sebuah senter kecil, tidak ada bantuan dari rembulan dan bintang yang terselimuti awan tebal.  Pengalaman ini tidak dirasakan oleh anak muda lainnya yang  berkecimpung dalam rutinitas kota.

Awal mula ceritanya ketika diminta mendampingi ibu kepala sekolah rapat pengelolaan data  kondisi sekolah ke UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Pendidikan yang terletak di kecamatan. Perjalanan pagi hari pukul 06.00 WIB menuju kecamatan tidak ada permasalahan di perahu motor yang kami tumpangi. Tantangannya hanya melawan dingin dari kabut selama dua jam setengah perjalanan. Maklum saja lintasan kami di kanan kirinya terbentang hutan Sumatera, walaupun beberapa sudut termakan kerakusan korporasi multinasional.

Rapat pengelolaan data kondisi sekolah di UPTD berjalan hingga pukul 14.30 WIB. Perahu motor biasanya kembali menuju desa jam 13.00 WIB, kali ini diminta menunggu kami hingga selesai. Jika tidak meminta supir perahu motor menunggu hingga tugas selesai, akibatnya tidak bisa pulang ke desa hari itu juga. Dikarenakan perahu motor rute desa ke kecamatan dan sebaliknya satu kali pulang pergi. Apalagi jumlahnya saat ini tinggal satu buah.

Perjalanan awal pulang menuju desa dilalui tanpa kendala, namun saat menempuh jarak  satu jam dari kecamatan seketika perahu mati. Pengemudi langsung bergegas mengecek mesin motor tunggal tersebut. Beberapa kali percobaan menghidupkan mesin motor gagal total. “Apa yang terjadi pak ?, tutur saya. Kacau ini, ass mesinnya longgar tidak bisa lagi diperbaiki. Harus mencari bantuan untuk menarik perahu pulang ke desa, agar tidak bermalam di tengah sungai”,  jawab juri kemudi.

Mendengar penjelasan juru kemudi membuat otak beropini negatif. “Nampaknya malam kamis ini akan dihabiskan di tengah sungai, sembari mewaspadai kemunculan buaya sungai Lalan. Belum lagi kondisi langit tidak bersahabat, beberapa sudutnya bermunculan awan hitam”, ujar saya dalam hati. Tetapi saya tidak mau terjebak dalam ketakutan, mencoba rileks dan mendoktrin diri ini adalah pengalaman luar biasa. Pengalaman yang mungkin tidak  terulang lagi.

Pengemudi perahu motor bergelut dengan sulitnya signyal untuk menghubungi rekan atau keluarganya agar dapat menarik perahunya hingga ke desa. Akhirnya ponsel milik sang juru kemudi terhubung dengan anaknya yang menarik perahu ketek didesa dekat kecamatan. Kami sabar menunggu juru selamat datang, sembari melihat perahu motor terbawa arus sungai yang tenang. Ketika langit sore hendak berubah wujud menuju malam, anak juru kemudi baru datang menjemput kami yang mulai putus asa menunggu datangnya bantuan.

Waktu di jam tangan saya menunjukukan jam 17.40 WIB ketika perahu motor mulai ditarik oleh perahu ketek. Tiga orang penumpang dan satu juru kumudi langsung berpindah posisi duduk di perahu ketek. Jalannya pelan berbeda dengan perahu motor milik ayahnya. Saya bertanya, “berapa jam kiranya waktu tempuh sampai ke desa ?. InsyaAllah sekitar pukul 21.00 WIB kita sudah tiba di desa, tetapi saya tidak berani menggaransinya”, ucap pengemudi perahu motor.

Dalam hati berfikir, “lama juga perjalanan menuju desa  biasanya ditenpuh sekitar dua jam setengah dari kecamatan”. Sebelum malam menjemput, saya lawan kebosanan dengan membaca koran. Namun tidak lama berselang malam pun datang, lembaran koran terpaksa ditutup sembari mencoba aktivitas memejamkan mata. Percobaan memejamkan mata gagal, karena dihantui kewaspadaan melihat juru kemudi perahu ketek mengalami kesulitan menembus malam dengan penerangan senter kecil milik ayahnya.

Waspada jika harus berpapasan dengan perahu besar milik korporasi multinasional yang rutin mengambil sumber daya alam seperti, kayu dan batubara dari wilayah ini di malam hari. Ketakutan lainnya perahu menabrak bongkahan kayu yang kerap melintang di aliran sungai. Kewaspadaan semakin menjadi ketika kemudi tidak dapat dikendalikan, karena setir lost tersambung dengan mesin hingga menabrak pohon dipinggir sungai. Beruntungnya kejadian ini segera teratasi, perahu ketek dapat berjalan normal kembali.

Jam ditangan menunjukan pukul 21.00 WIB, namun desa kami belum terlihat. Yang terlihat hanya petir berkilauan di langit malam itu. Suara hewan di hutan pinggir sungai menambah suasana semakin mencekam. Doa tidak hentinya dipanjatkan agar selamat hingga desa dan tidak diguyur hujan. Tidak lama berselang pengemudi perahu motor berucap, “kita mendekati wilayah perusahaan pinang mas”. Areal PT pinang mas jikalau ditempuh normal menggunakan perahu motor sekitar 45 menit dari desa. Tetapi saya tidak bisa memprediksi waktu tempuh dalam keadaan luar biasa.

Setelah melewati beberapa desa dekat tempat kami tinggal. Perahu ketek akhirnya melintasi desa kami. Semua penumpang turun serempak di jeramba ( pelabuhan kecil terbuat dari kayu ) dekat sekolah, agar memudahkan ibu kepala sekolah menuju rumah karena beliau  satu-satunya penumpang perempuan. Perjalanan menuju rumah orang tua asuh di hulu desa, disambung dengan menumpang motor pemuda yang melintas di jalan desa. Waktu menunjukan pukul 23.05 WIB ketika langkah finish di rumah. Sungguh perjalanan yang membekas dalam ingatan jangka panjang.

 

  

 

  

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran