Jan
06

“Aih, Ibu jelas e. Su (sudah) paling lancar bermain komputer” kataku menggoda salah seorang Ibu Guru yang tengah mengotak atik laptopku.

“Hahahaa”  tawanya berderai panjang mendengar komentarku. Matanya berbinar seiring dengan suara tawanya. Ia tampak begitu bersemangat mengotak-atik laptop sambil sesekali melihat catatan yang kuberikan. Terkadang, ketika ia tak memahami maksud catatan atau instruksi yang kuberikan, Ia meringis ke arahku tanda meminta bantuan. Kemudian kembali menyunggingkan senyum setelah berhasil melalui tantangan- tantangan yang kuberikan. Berkali-kali ia meminta maaf, merasa seperti anak kelas satu yang masih mengeja aksara, mencari-cari huruf di keyboard dan membuatku menunggu lama.  Tak ada rasa malu untuk menanyakan hal-hal yang ia belum tahu, pun tak malu untuk mengatakan maaf dan menyatakan kelemahannya.

Hari itu memang ada yang berbeda di kantor guru. Ada raut muka serius di depan laptop sembari sesekali menggaruk kepala tanda kebingungan. Ada juga yang menertawakan dan mengganggu teman guru lainnya karena tak kunjung ingat hal-hal sederhana, sekedar cara memadamkan komputer.  Hari itu, kami menyisingkan gengsi untuk saling mengakui kelemahan diri, juga saling belajar untuk meningkatkan kapasitas diri.

Sekarang, setiap Sabtu kami meluangkan waktu satu dua jam untuk belajar bersama. Program “Sabtu Seru” kami menyebutnya. Kami memulai program ini dengan belajar komputer. Beberapa guru yang sudah bisa mengoperasikan komputer menjadi pembimbing untuk guru lain yang masih belajar. Mulai belajar mengenal bagian dan istilah dalam komputer, belajar menyalakan dan mematikan, juga mengetik surat dan mencetaknya.  Dengan jumlah laptop dan fasilitas pendukung seadanya, kami tetap memulai kegiatan belajar kami. Kami juga harus berpacu dengan daya tahan baterai yang bisa habis kapan saja. Maklum, listrik di sini hanya menyala ketika malam datang, mengandalkan sinar matahari yang sedari pagi mengisi daya solar cell.

Mungkin usia mereka memang sudah tak muda, tapi jangan salah, semangat mereka untuk maju tak bisa dipandang sebelah mata. Dan biarpun kami jauh dari kota, bukan berarti kami mau ketinggalan jaman. Sekalipun berbagai keterbatasan seringkali kami hadapi, toh tak menyurutkan semangat kami untuk terus belajar dan berusaha.

Dan inilah kami, sekumpulan penjaga anak-anak batas negeri yang akan selalu menempa diri. Karena kami tahu, kami akan menghadapi mimpi-mimpi anak-anak yang demikian tinggi.

                                                                                                                                               

1 Komentar
  • esessen
    haloo.. :-)
    aku pernah tinggal di pelosok negeri sih. saat itu masih pakai desel milik pribadi, jika gak ada pasti pakai lampu ublik. kalo sekarang udah pake desel besar yang nyediain pemerintah, dan biaya listriknya muahal, gak main2 dah. biaya iuran petbulan aja buat jaga2 bila rusak 25 000 , belum bayar listriknya. :v
    pasti seneng banget tuh, liat wajah yang berbinar-binar..
    ahh tapi cerita di atas masih ngambang, hahaha, mungkin karena kesimpulannya belum mengena kali ya aku bacanya. :v
    tapi, aku tahu.. ada rasa kebahagiaan dibalik ceritanya. ahh~ pengen. :v
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!