PULAU TERPENCIL “BETING ACEH” (2-6 MARET 2011)
Fatia Qanitat | 01 August 2011

Subhanallah.....

Semuanya berwarna  putih. Dari setiap sudut mata memandang, yang terpantul hanyalah putihnya pasir yang mengelilingi pulau nan indah ini. Sebagai salah satu pulau terluar di Indonesia, pulau kecil ini luar biasa menakjubkan. Diameternya dalam penghitungan asal-asalan, dengan perkiraan jarak yang seadanya, mungkin tidak sampai satu kilo meter. Dengan perasaan seperti itu, saya meyakini akan mampu mengitari pulau ini. Yah, keyakinan itu sayangnya tidak bisa langsung saya buktikan hari itu juga.

Sabtu pagi seharusnya kami sudah siap berangkat menyeberang ke pulau yang berada di utara daerah Pulau Rupat ini. Kami memang sudah melakukan yang seharusnya. Jam setengah tujuh pagi, sambil merapikan barang-barang, di sertai makan pagi, semangat kami menggebu-gebu. Walaupun, hujan yang turun sejak subuh tadi, tak kunjung berhenti juga. Mau bagaimana lagi, berharap nanti jam tujuh pagi hujan akan berhenti, kami tetap berkemas sejak dini hari. Sayang, harapan tinggal harapan, rintik hujan tampak awet turun perlahan.

Apa yang sudah direncanakan ikut mundur mengikuti kemauan alam. Kami menunggu, sedikit cemas, takut tidak jadi jalan. Walaupun begitu, dengan sembilan orang kawan, menunggu bukan menjadi hal yang menyebalkan. Ketertundaan ini ternyata tetap memberikan suguhan istimewa kepada kami semua. Walaupun hujan, langit malah menyambut pagi dengan senyuman berwarna-warni. Pelangi muncul, di tengah rintikan hujan. Saya dengan takjub terus memandang langit. Ini ke dua kalinya bersama kawan-kawan, kami disambut oleh pelangi.

Pelangi memudar, rintik hujan pun ikut berhenti pelan-pelan. Jam tangan menunjukkan pukul setengah sembilan. Sudah hampir siang. Tanpa memperlambat, kami langsung bergegas pergi menuju pompong (kapal kecil yang akan membawa kami menyeberang).

Sudah setengah jam, pulau yang sudah tampak sejak awal dalam pandangan, tapi tak kunjung sampai-sampai. Ini baru sepertiga perjalanan. Lama juga, pikir saya saat itu. Tidak langsung pergi ke pulau beting aceh, pompong kami merapat terlebih dulu di pulau sebelahnya, yang dikenal sebagai Pulau Babi. Kenapa? Saya juga tidak tahu pasti. Ada yang bilang, ditengah-tengah pulau tanpa penghuni itu, yang masih dipenuhi oleh pohon-pohon, masih banyak terdapat babi di dalamnya.

Saya tidak lama berhenti di sana. Paling hanya sekitar lima belas menit saja. Sebab, selain karena tidak tertarik untuk menelusuri pulau karena takut dihadang oleh babi, dan merasa sudah sangat tidak sabar untuk melanjutkan ke pulau sebelahnya, saya tidak keberatan untuk bersegera pergi dari sana. Walaupun posisi pulau ini bersebelahan, tapi komposisi alam di kedua pulau ini sangat jauh berbeda. Pasir di pulau ini sedikit, dan lebih banyak dipenuhi oleh tanah liat. Walaupun begitu, rasanya tetap luar biasa. Kapan lagi kamu bisa pergi ke sebuah pulau yang dipenuhi oleh tanah liat? Hehehe....

Seperti layaknya seorang yang norak, tidak pernah naik pompong, saya duduk di tepi, menceburkan kaki ke dalam air, menendang-nedang kegirangan, saat pompong bergegas menuju pulau sebelah. Pulau beting aceh, menanti kami. Dari jauh tampak kalau sisi timur pulau babi bersambung dengan sisi barat pulau beting aceh. Saat air laut sedang surut, jalan pasir putih menyambungkan kedua pulau tersebut. Dari jauh terlihat jarak antar pulau tidak terlalu jauh, tapi saat sudah sampai, niat awal ingin mencoba berjalan menyeberang, urung saya laksanakan. Keliatannya akan sangat melelahkan.

Saya tak sabar ingin segera melompat, saat pompong mulai menepi. Berlari-lari, kaki saya menapak dan merasakan halusnya pasir di pulau ini. Pulau ini memberikan kita dua pilihan. Berenang langsung di pinggir pantai, atau berenang langsung di pinggir pulau. Dengan keluarbiasannya, alam membentuk langsung sebuah danau yang mengaliri air laut menembus sisi kanan dan keluar di sisi kiri pulau. Saya tidak ragu melompat ke dalam danau air asin yang dibetuk alam di bagian sisi luar pulau ini. Seperti mempunyai kolam renang pribadi rasanya ^_^ Perasaan ini begitu meluap-luap. Bersyukur sekali  bisa merasakan langsung kenikmatan alam ini.

Walaupun matahari sudah cukup tinggi, menjelang pukul 11 siang, kami tak kunjung lelah melewati waktu dengan bersenang-senang di pulau ini. Sayang, banyaknya jadwal yang sudah disusun tidak bisa dibatalkan. Saya dengan berat hati harus meninggalkan pulau ini, dalam waktu satu jam kemudian. Sangat berharap di kemudian hari, bisa berlayar lagi ke sana.

Namun, ada satu hal yang sangat saya khawatirkan. Ketika sampai di pulau ini, pompong kami tidak sendiri. Ada satu buah kapal lain yang ukurannya jauh lebih besar, seperti kapal pengangkut barang. Dengan awak kapal yang berjumlah sekitar 7 orang, mungkin lebih, mereka “bergotong royong” di pinggir pulau. Dengan tertatih-tatih mereka terus memasukkan pasir, karung demi karung, ke dalam kapal. Saat saya sampai di sana, separuh bagian kapal sudah dipenuhi oleh karung-karung yang saya duga berisi pasir.

Seperti yang saya ceritakan, pasir di pulau kecil ini memang sangat bagus dan indah. Saya khawatir, bila hal ini terus dilakukan, tidak mustahil pulau ini akan hilang. Jangan, jangan sampai. Balon yang sudah ditiup, siap untuk diterbangkan, sayang tertusuk oleh jarum, dan meinggalkan luka yang tak pernah hilang. Kebahagian hari ini terusik. Balon tidak jadi terbang. Kejadian ini menjadi pelajaran sekaligus pekerjaan rumah. Semoga pekerjaan rumah ini bisa dan mampu saya laksanakan. Walaupun begitu, nikmat hari ini begitu besar. Sangat keterlaluan bila rasa syukur tidak saya ucapkan. Alhamdulillah, terima kasih  ya Allah ^^
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran