PENGAMBILAN RAPOR KELAS TIGA

Oleh: Fatia Qanitat (Angkatan I) | 01-08-2011
Jumat, 26 Juni 2011 Inilah hasil akhir yang membuat para guru seharusnya ikut merasa dag-dig-dug. Anak-anak yang melaksanakan ujian akhir, tapi saya sendiri yang merasa panik. Saya khawatir anak-anak tidak paham, tidak bisa mengerjakan soal, tidak bisa ini, tidak bisa itu, perasaan dipenuhi oleh prasangka negatif. Haduuuhhhh... ini harus dihentikan. Saya harus percaya dengan kemampuan mereka untuk menyelesaikan soal-soal ujian. Lalu, bagaimana hasil akhirnya? Bagaimana hasil ujian itu mempengaruhi nilai rapor mereka? Apakah nilai yang diperoleh baik? Atau malah sebaliknya? Siapa yang mendapatkan juara kelas? Apakah mereka naik kelas? Atau ada nilai yang tidak cukup? Bagaimana kalau ada yang tidak naik kelas? Pertanyaan inilah yang menghantui saya sebagai pendidik, dan ikut memikul tanggung jawab bila ada siswa saya yang tidak memenuhi nilai minimal. Pasti akan merasa bersalah, saya akan merasa telah gagal mengajar mereka. Ya Allah, saya selalu mendoakan mereka dalam shalat saya. Berharap agar mereka dapat menerima pelajaran dengan baik, mampu menjawab soal dengan benar. Menjelang ujian, doa ini menjadi sering sekali saya ucapkan. “Semoga ya Allah, yang terbaik bagi mereka,” ucap saya lirih. Waktu ujian tiba. Nilai-nilai pun sudah diperoleh. Hasil ujian mereka tidak terlalu memuaskan, tapi saya bersyukur secara garis besar, mereka bisa melewatinya dengan baik. Tapi, ada satu hal yang membebani bahwa 70 persen siswa saya harus melakukan ujian ulang pelajaran matematika, karena nilai mereka yang masih kurang. Saya mulai geleng-geleng kepala. Untuk mengangkat nilai mereka, tingkat kesulitan soal harus saya turunkan, kalau tidak, nilai tidak akan ada yang membaik. (itulah trik yang saya lakukan). Yap, setelah meramu nilai dengan menggunakan program excel, nilai harian dicampur nilai ujian, dicampur nilai remedial, maka keluarlah nilai akhir alias nilai rapor. Ada nilai yang tinggi sekali, dan membuat saya benar-benar merasa ikut berbahagia atas pencapaian itu. Tapi, sayangnya ada dua orang siswa saya yang nilainya masih di bawah nilai minimal. Saya berdiskusi dengan wali kelas. Bagaimana? Apakah mereka menjadi tidak naik kelas? Saya merasa khawatir. Alhamdulillah, melalui diskusi ini, setelah mempertimbangkan sikap, nilai keseharian, dan kemampuan siswa, kami sepakat untuk menaikkan anak ini. Dan, ini merupakan pencapaian yang luar biasa, saat tidak ada satu anak pun yang tinggal kelas. Sementara, yang saya sedihkan seluruh kelas lainnya pasti ada anak yang harus tinggal, bahkan ada yang mencapai 10 anak. Walaupun begitu, ini tetap merupakan kabar yang membahagiakan. Seluruh orang tua siswa kelas 3 sudah tahu sebelumnya bahwa pada pembagian rapor kali ini, mereka harus datang mengambil rapor anak mereka sendiri ke sekolah. Hal ini sudah saya sampaikan kepada orang tua saat mendatangi rumah mereka satu per satu. Walaupun begitu, saya kembali mengingatkan kepada para siswa untuk mengingatkan orang tua mereka datang ke sekolah pada hari pengambilan rapor. Ada tiga hal, begitu ucap saya kepada siswa di depan kelas. “Ada tiga hal yang akan diserahkan saat pembagian rapor besok. Pertama adalah rapor, kedua uang tabungan, dan ketiga buku diary. Oleh karena itu, wajib orang tua yang datang mengambil rapor kalian di sekolah besok. Paham?” jelas saya dihadapan para siswa. Saya juga mengatakan bahwa kalau orang tua tidak datang, maka semuanya tidak akan diberikan. “Ibu Fatia akan menahan rapor, uang tabungan, dan buku diarynya. Nanti, Ibu Fatia akan tunggu orang tua kalian sampai pukul 11 siang. Paham?” jelas saya lagi. Sebelumnya saya sudah mencoba meminta kepada guru lain untuk meminta orang tua siswa yang mengambil rapor ke sekolah. Tapi, sayangnya hal ini tidak bersambut. Kata salah seorang guru,”Kalau orang tua disuruh datang ke sekolah, pasti dikira akan dimintain duit Fatia. Begitu kondisi masyarakat di sini. Kan orang tua mereka juga banyak yang harus motong getah. Kalau kelas 3  kan sekalian ambil uang tabung.” Saya paham dan hanya diam. Saya sempat khawatir jika tidak ada orang tua yang mau mengambil rapor anak mereka karena kendala kesibukan di rumah. Tapi, luar biasa. Subhanallah! Sejak pukul 8 pagi mereka sudah datang, bahkan ikut serta dalam penyerahan hadiah kepada siswa-siswa berprestasi. Saat saya umumkan bahwa seluruh siswa kelas 3 naik kelas, penuh syukur menghiasi wajah mereka. Dan kelegaan memenuhi dada saya. Alhamdulillah .... Ada dua orang tua yang sampai waktu terakhir tidak kunjung datang mengambil rapor anak mereka. Saya sedikit sedih. Saya putuskan untuk datang langsung ke rumah mereka, menyerahkan rapor kepada orang tua mereka. Baru saya ketahui bahwa sebenarnya orang tua ini tidak tahu bahwa ada pembagian rapor di sekolah hari itu, dan meminta maaf karena tidak bisa datang. Saya tersenyum. Kepada mereka saya terangkan bagaimana nilai rapor anak mereka, ada yang mengalami peningkatan ada juga pelajaran yang mengalami penurunan. Alhamdulillah, melalui usaha dan tentu jalan dari Allah, akhirnya hari ini menjadi momen yang begitu memuaskan bagi saya.