DOOR TO DOOR VERSI KE-DUA

Oleh: Fatia Qanitat (Angkatan I) | 01-08-2011
Perjalanan dari pertengahan bulan Mei-Juni Saya datang ke setiap rumah, mengambil rapor anak-anak kelas tiga satu per satu. Ini sengaja saya lakukan untuk mengenal lingkungan tempat tinggal para siswa, sekaligus bersilaturrahmi dengan orang tua mereka. Keputusan awalnya, saya hanya berniat mendatangi kurang lebih sepuluh siswa yang membutuhkan penanganan khusus. Perlakuan khusus untuk mereka didasari oleh keistimewaan juga keterbatasan kemampuan saya dalam menanggapi sikap dari siswa-siswa tersebut. Oleh karena itu, saya merasa sangat perlu untuk mengenal mereka secara lebih dekat lagi. Tiba-tiba datang ke rumah mereka, tentu akan mengundang banyak pertanyaan. Ada apa? Kenapa? Apa ada masalah? Begitulah respon yang umumnya saya dapatkan. Saya merancang pertemuan ini dengan seksama. Saya atur kedatangan ini seakan-akan untuk mengambil rapor yang masih ada di tangan siswa, biar tidak memunculkan banyak pertanyaan. Setiap satu minggu saya akan mendatangi 2 sampai 4 rumah siswa. Alhamdulillah, setelah dua bulan, 31 rumah siswa, bisa langsung saya datangi. Saya berkenalan dengan keluarga mereka. Mengenal mereka dengan lebih dekat. Kegiatan yang awalnya hanya diniatkan untuk sepuluh siswa saja, saya rubah. Saya merasakan manfaat yang sangat besar dengan kegiatan ini. Akhirnya saya putuskan untuk mendatangi satu persatu seluruh rumah siswa. Selain disebabkan karena siswa-siswa yang belum saya datangi rumahnya merengek menanyakan kapan saya bisa datang ke rumahnya. “Ibu, minggu depan rumah saya ya,” “Saya ya Bu,” “Ibu, ko rumah saya ngga?” “Ibu kapan mau ke rumah saya?” Begitu ulah mereka meminta saya juga datang berkunjung ke rumah mereka satu per satu. Pertama kali, saya datang ke rumah siswa-siswa yang sulit menerima pelajaran. Komunikasi secara langsung dengan orang tua mempermudah saya dalam memaparkan kondisi anak di sekolah. Selain itu, melalui orang tua mereka, saya juga mengetahui kegiatan-kegiatan mereka saat di rumah. Pertemuan langsung ini, sekaligus sebagai upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran orang tua terhadap pentingnya keterlibatan mereka dalam pendidikan anak mereka. Bantuan dari masing-masing orang tua akan sangat berpengaruh. Di setiap rumah saya meminta kepada orang tua untuk memperhatikan cara belajar anak mereka. Dengan pengetahuan seadanya, saya coba menjelaskan teknik-teknik pengajaran yang bisa diterapkan di rumah. Hubungan yang tercipta antara saya dengan orang tua, alhamdulillah luar biasa. Kedatangan saya ke rumah mereka, membantu saya memahami pribadi siswa dengan lebih baik lagi. Saya pun menjadi semakin menyayangi anak-anak ini. Sejatinya, tidak ada orang tua yang tidak peduli dengan pendidikan anak mereka. Semuanya berharap yang terbaik. Tampak raut wajah bahagia saat mengetahui anak kesayangan mereka melakukan berbagai hal luar biasa saat di sekolah. “Ibu, Puput rajin sekali membaca. Bahkan saat jam istirahat lho,” ucap saya. “Ibu, Saya bingung memberikan nilai di rapor untuk Ikmal, nilai matematikanya hampir selalu 100, masa di rapor saya kasih seratus?” canda saya. “Ibu, Fitra adalah siswa yang paling rajin di kelas. Dia adalah ketua kelas yang betul-betul luar biasa. Saya selalu dibantu olehnya,” kata saya. “Ibu, Dani suka sekali mengunting-gunting, tiba-tiba dia menciptakan topeng pahlawan ksatria saat di kelas lo, hebat sekali!” tutur saya. “Ibu, Mala menjadi anak yang paling saya banggakan. Ia selalu maju ke depan. Mala bisa bernyanyi dengan suara merdu, berpuisi dengan mantap, perperan dengan luar biasa. Kawan-kawannya di sekola sangat kagum denganya,” papar saya. Begitulah. Dalam setiap pertemuan selalu ada raut bahagia yang saya temukan di wajah mereka. Tapi tak jarang muncul juga raut kekhawatiran yang memperlihatkan kepedulian dan rasa sayang orang tua kepada anaknya yang begitu besar. “Ibu, saya bingung untuk meminta Jihan mengerjakan tugas, karena dia selalu mempunyai cara untuk memanfaatkan waktunya dengan melakukan kegiatan lain. Bagaimana biasanya ibu bersikap kepadanya di rumah?” tanya saya. “Ibu, nilai Zira untuk pelajaran matematika masih sangat kurang. Saya mohon kepada ibu untuk membantu melatihnya juga di rumah. Saya juga mohon izin agar Zira pulangnya lebih lambat dari kawannya, tidak apa-apa kan bu?” izin saya. Pada kesempatan ini pula, saya menyampaikan berbagai sifat dan kecenderungan dari siswa yang berhasil saya temukan. Ada anak yang begitu suka membaca, saya menyarankan kepada orang tua untuk menyediakan buku bacaan kepada anak tersebut. Ada anak ayng sangat pandai bernyanyi, saya beritahukan kepada orang tua untuk mendukungnya. Ada anak yang luar biasa aktif, saya minta kepada orang tuanya untuk memacu sang anak untuk berkegiatan dalam hal yang positif. Inilah komunikasi yang saya harapkan bisa terbina antara guru dengan wali murid. Melalui saya, wali murid bisa mengetahui perkembangan dari sang anak saat di sekolah. Sikap mereka saat di sekolah, nilai-nilai pelajaran dan kemampuan serta kebiasaan mereka yang saya kenali. Sebaliknya, melalui orang tua, saya mengenal bagimana pribadi siswa tersebut saat di rumah. Saya menyadari bahwa kondisi masyarakat di sini tidak memungkinkan untuk meminta orang tua datang ke sekolah memantau pendidikan anak mereka. Dalam tulisan sebelumnya pun, sempat saya ceritakan bahkan pada pembagian rapor tidak ada orang tua yang datang ke sekolah. Anak-anak ini mengambil rapor mereka sendiri. Itulah mengapa akhirnya saya memutuskan untuk mendatangi secara langsung orang tua ini satu persatu, dari pintu ke pintu. Sekitar setengah sampai satu jam saya habiskan untuk berdiskusi dengan orang tua dalam setiap pertemuannya. Sayangnya, saya tidak beruntung untuk bisa bertemu secara langsung dengan seluruh orang tua siswa. Ada beberapa siswa yang tidak tinggal dengan orang tua mereka, karena sang orang tua bekerja di pulau seberang. Ada juga siswa yang hidup berpisah dengan orang tua mereka. Kondisi-kondisi spesial ini menyentuh hati saya. Tidak sedikit siswa yang harus hidup yatim atau piatu dalam usia yang sangat kecil. Salah seorang siswa bahkan tinggal berdua dengan ibunya yang menderita tunarungu dan tunawicara di rumah yang sangat sederhana. Mengetahui kenyataan ini membuat saya kehabisan kata-kata. Ini hanya salah satu kenyataan yang saya temukan melalui perjalanan saya dari pintu ke pintu. Saya berharap dengan mengenal mereka lebih dekat, hubungan yang tercipta akan lebih erat. Menyadari tanggung jawab yang ada semoga membuat saya lebih memaksimalkan diri dalam bertindak. InsyaAllah