ARTIS-ARTIS DARI BANTAN AIR

Oleh: Fatia Qanitat (Angkatan I) | 01-08-2011
Sabtu, 11 Juni 2011 Pelajaran Bahasa Indonesia menjadi pelajaran favorti belakangan ini. Kenapa, ko bisa? Biasanya Bahasa Indonesia itu bukannya membosankan? Bentar-bentar nulis, bentar-bentar suruh membuat karangan...hehehe... ya mau bagaimana lagi, memang melalui pelajaran ini kita dibantu untuk lebih mahir dalam menuis, membaca, mendengar, dan berbicara. Memang beberapa bulan sebelumnya, anak-anak juga paling banyak mengeluh kalau sudah mulai disuruh membuat karangan. Tapi, itu berbeda dengan 3 minggu belakangan ini. Ini saatnya bermain drama. “Kalian akan menjadi artis, dan akan berperan. Tampil di hadapan orang banyak. Persiapkan diri kalian, karena kita akan berlatih, berlatih dan berlatih!” Seru saya di awal pertemuan. Anak-anak mulai antusias. Naskah drama sudah saya siapkan jauh hari sebelumnya. Sejak awal saya sudah mempersiapkan akan melakukan kegiatan ini. Saya sudah berniat, bahwa drama ini akan dipentaskan pada saat hari perpisahan kelas enam nanti. Drama yang akan mereka pentaskan berjudul Batu Menangis. Saya mengambil cerita rakyat dari Kalimantan ini, selain karena anak-anak sudah begitu mengenal cerita ini, saya rasa pesan yang ada dalam cerita juga sangat baik. Anak-anak sudah tahu sejak awal, bahwa penampil terbaik dalam setiap peran akan tampil dalam perpisahan kelas nanti. Bukannya merasa takut, eh....mereka malah tambah semangat, dan semakin meningkatkat aura persaingan di antara mereka. Semangat saya menjadi tambah bergelora (hehehe) Kelompok di bagi, peran ditentukan, dan kami mulai latihan. Latihan menjadi hari-hari yang menyenangkan bagi mereka. Begitu banyak tawa, karena memang lucu sekali melihat mereka memainkan peran mereka sambil sibuk tersenyum karena diganggu oleh kawan lainnya. Begitu banyak canda, karena memang menyenangkan sekali saat melihat anak-anak ini berperan berulang-ulang dengan suara yang masih malu-malu. Melihat mereka yang mulai berani maju ke depan, mulai berani mengeluarkan suara, mulai berani memunculkan gaya-gaya aneh, mulai berani mengeluarkan mimik yang beragam, mulai berani memainkan peran mereka dengan baik menjadi hal yang sangat membahagiakan. Kami sama-sama belajar bagaimana naskah harus dibacakan, bagaimana pentingnya kerja sama dalam satu kelompok, bagaimana cara berperan sebagai orang tua, bagaimana mengeluarkan ekspresi takut, setiap hal menjadi tahap pembelajaran yang sangat penting. Untuk mempelajari drama ini, saya berkali-kali menumbuhkan rasa percaya diri pada diri mereka. Menuntut mereka untuk bisa mengeluarkan potensi yang ada, menghilangkan rasa malu. Hal menyenangkan lain saat pelajaran drama ini adalah kegiatan di luar kelas, berteriak sekencang-kecangnya, dan berbicara terus menerus, mengulang pembacaan naskah berkali-kali dengan suara yang kencang. Saya merasakan kesenangan di balik rasa lelah itu. Masa latihan pun berakhir. Mereka mulai panik, karena takut lupa dengan naskah. Mulai panik, karena sadar akan ditonton banyak orang. “Kita sudah berlatih, maka berikanlah yang terbaik. Bangga dengan diri kalian yang sudah bisa sampai pada saat ini. Tampil dengan percaya diri, dan ingat, jangan malu!” ucap saya menyemangati mereka. Guru-guru berdatangan, kelas penuh. Kawan-kawan dari kelas lain, berdempetan melihat dari luar jendela. Wali kelas siap merekam jalannya drama. Raut wajah mereka lucu, panik tapi bersemangat. Saya memanti tidak sabar. Bismillah, semoga lancar. Lalu bagaimana hasilnya? Menurut penilaian peribadi saya lancar, sangat lancar. Semua orang tertawa saat Fitra yang sejatinya adalah laki-laki berperan sebagai ibu, memakai sarung dan selendang. Saat yang perempuan, malah berperan sebagai anak laki-laki. Semua terpingkal-pingkal saat kawan-kawan mereka membungkuk mencoba menunjukkan bahwa mereka adalah orang tua yang sudah tidak mampu berjalan. Dan semua orang terdiam saat Mala berteriak dan marah-marah kepada ibunya. Mereka terpana. Lucu, karena ada yang lupa naskah, lupa membawa kipas, lupa membawa kain jahit, lupa berjalan membungkuk, ada saja yang lupa ini , lupa itu. Tapi, bangga sekali! Bangga sekali saat mereka tetap maju melawan rasa takut yang ada. Puas sekali rasanya hati ini. Apalagi saat memberikan penilaian kepada mereka. Membaca perasaan mereka yang dituliskan dalam buku diary mereka, saya merasa senang, karena ternyata anak-anak juga merasa begitu senang melalui pementasaan ini. Jadi tidak sabar menunggu pementasan saat hari perpisahan nanti. Mereka yang terbaik akan berkumpul, berlatih lebih keras lagi. Jujur saja, ini menjadi penampilan yang paling ditunggu oleh seluruh siswa di sekolah ini...hehehe....