KELUARGA BARU, SEKOLAH BARU
Fatia Qanitat | 21 November 2010

18/11/2010, kamis, 12:40

Bagaimana bisa di sebut kampung, apabila dari luar rumah kami sudah bisa melihat mobil senia parkir di halaman rumah yang bertingkat. Roy berkata di samping saya, “Ini di mana ya fat? Bukan di Jakarta kan?”

Saya tinggal di rumah milik kepala sekolah tempat saya mengajar nanti. Bapak Abu Talib adalah kepala sekolah SD N 25 Bantan Air dan juga sebagai bapak angkat saya di sini. Pa Abu merupakan orang Bengkalis asli, dan mempunyai istri asal dari Trenggalek, Jawa Timur. Istri Pa Abu, Ibu Toyiyah juga mengajar di SD yang sama, sebagai wali kelas satu.

Rumah milik pa Abu Talib ini memang rumah yang paling besar di desa Bantan Air ini. Saya melihat kemampuan ekonomi pa Abu juga bisa dibilang mampu. Selain beliau mempunyai satu buah mobil, ia juga mempunyai tiga buah honda dan akan ditambah satu honda lagi sebagai transportasi saya pribadi. Fasilitas lain yang ada dalam rumah memang tidak secanggih fasilitas yang biasa saya dapatkan di Jakarta. Tapi, dengan adanya magic com, mesin cuci, dispenser, dan juga kulkas, ini benar-benar sangat mempermudah hidup saya di desa ini.

Rumah ini memiliki dua tingkat. Sampai sekarang, saya belum pernah melihat bagaimana keadaan di lantai dua. Kebetulan pa Abu mempunyai dua anak laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengan saya. anak pertama beliau Bobby, berusia 24 tahun dan menjadi guru honorer di sd yang sama dengan saya. sampai saat ini saya tidak pernah berbicara dengannya. Satu orang lagi bernama Agung, usinya dua tahun di bawah saya, dan sekarang masih berkuliah di Pekanbaru semester lima. Sampai saat ini saya belum pernah bertemu dengannya.

Ada satu oran lagi anak pa Abu, perempuan. Dewi, begitu saya biasa memanggilnya. Dewi ini masih kelas 2 SPM dan ia adalah anak yang sangat pemalu. Awalnya, setiap saya duduk di sebuah ruangan, dewi pasti langsung menyingkir, kata ibu sih karena di merasa malu. Tapi belakangan, Dewi sudah mau berinteraksi dengan saya, bahkan kemarin Dewilah yang membawa saya berkeliling daerah Bantan air. Walaupun bicaranya masih sedikit sekali, tidak sekuat saya.

Rumah pa Abu ini sangat lapang. Ini merupakan penggabungan dua buah rumah. Bagian muka, rumah masih terbuat dari kayu, seperti rumah milik kebanyakan warga di sini. Tapi, dibagian belakang, dua tahun yang lalu dibangun lagi rumah bersambung dengan rumah kayu yang ada dengan menggunakan semen. Pa Abu berkata tidak tega merubuhkan rumah kayu ini, karena merupakan peninggalan dari orang tuanya.  Di rumah yang terbuat dari kayu, saya disediakan satu kamar pribadi dengan kasur dan satu buah meja di dalamnya. Sebagai bonus, saya bahkan mendapatkan kamar mandi pribadi.

Jarak dari rumah ke sekolah cukup membuat berkeringan jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya saya tidak keberatan sama sekali, karena sekaligus olah raga, pikir saya saat itu. Tiga buah honda yang dimiliki keluarga ini dipergunakan satu persatu oleh bapak, ibu, dan Bobby. Satu-persatu mereka pergi ke sekolah menggunakan honda masing-masing. Saya sendiri, selalu dibonceng oleh ibu. Dengan kebaikan hatinya, pa Abu menjanjikan akan menyediakan satu honda lagi sebagai kendaraan untuk saya. Dan honda itu sudah terparkir di depan rumah hari minggu kemarin.

Sebagai bapak angkat, pa Abu sangatlah baik dan berusaha menyediakan berbagai alat untuk memudahkan diri saya. Sebagai kepala sekolah, pa Abu sangat menyanjung saya dan mempunyai pikiran yang sangat maju dan terbuka. Hal ini sangat mempermudah diri saya dalam melaksanakan setiap tugas di sekolah. Pa Abu pernah berkata, “Apa pun yang kamu butuhkan untuk pengajaran, langsung katakan. Di sini sama saja dengan di kota. Kami bisa menyediakan berbagai kebutuhan terkait dengan pengajaran. Masalahnya, masih banyak guru yang segan dan malas untuk menggunakan fasilitas yang ada.”

Menjelang ujian semester ganjil pada 13 Desember nanti, saya akan mengajar di setiap kelas. Terdapat delapan rombel dengan masing-masing kelas berisi hampir 30 murid. Bila sesuai rencana, nantinya saya akan mengajar di kelas 3 bersama dengan satu orang guru lainnya.

Sebenanrnya, jumlah guru di sekolah ini sudah mencukupi, bahkan lebih dari cukup. Dari delapan rombel yang ada, terdapat 16 guru yang bertanggung jawab. Dengan pembagian guru bidang studi, seharusnya murid-murid dapat belajar dengan jauh lebih maksimal. Guru-guru tersebut adalah bu Laila, bu Asma, bu Erdina, bu Darmi, bu, Sopia, bu Toinah, bu Pina, bu Lilis, dan bu Khalifah. Lalu guru laki-lakinya adalah, pa Sunarto, pa Boby, dan saya lupa dengan beberapa nama yang lain. Lain kali akan saya lengkapi, hal ini karena saya jarang sekali berinteraksi dengan guru-guru laki-laki.

Keberadaan saya di sini sendiri diharapkan pa Abu dapat meningkatkan kemampuan guru dengan bentuk metode pengajaran yang lebih variatif. Saya sendiri sebenarnya masih merasa kurang percaya diri. Dengan kemampuan yang masih bisa dibilang sangat minimal tentang pedagogis, saya malah berharap bisa banyak belajar dari guru-guru yang sudah jauh lebih berpengalaman. Saya berharap akan tercipta sebuah simbioasis mutualisme di antara guru-guru di sini.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran