DRAGON FRUIT, SLURRPPPPP
Fatia Qanitat | 21 April 2011

19 April 2011

Jujur saja, saya tidak pernah suka dengan buah ini sebelumnya. Pertama kali saya mengetahui bahwa ada suatu buah yang bernama sama dengan nama seekor binatang adalah saat saya kelas 2 SMA, 7 tahun yang lalu (subhanallah, ternyata usia saya sudah banyak juga ya....hehehe) Saya merasa lucu, buah ko namanya naga? Biar tampak lebih keren, seringkali kita mendengarnya dalam bahasa inggris yang disebut sebagai dragon fruit. Rasanya? Mmmmmm..... Tidak jelas. Masam? Tidak. Manis? Tidak. Itulah mengapa saya tidak menyukai buah ini.

Walaupun begitu, bentuk buahnya menarik mata. Berwarna merah cerah, seperti memiliki sisik di sekitar tubuhnya, layaknya seekor naga. Sisiknya berbeda dengan buah salak yang menyerupai sisik binatang kadal. Tidak sama juga dengan buah nanas yang menyerupai sisik buaya. Sisik buah naga ini seperti helai daun yang menjulur. Indah. Sayangnya, apa yang tampak indah di mata saya, tidak seindah saat disentuh lidah saya.

Tapi, buah naga di pulau ini berbeda. Dengan yakin saya mendeklarasikan buah ini sudah menjadi salah satu buah favorit saya. Pertemuan pertama saya dengan buah ini terjadi sejak hari kedua saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di pulau bengkalis ini. Saya tidak tahu kalau yang disajikan di pertemuan tersebut adalah buah ini. Buah ini berbeda. Saya ambil sepotong, bermaksud ingin mencoba. Kemudian saya ambil lagi, karena menjadi suka. Diakhir perbincangan dengan dinas pendidikan, saya ambil buah itul, saya bungkus dalam kantungan...hehe... Barulah saya tahu bahwa buah yang saya makan dengan lahap itu ternyata buah naga, saat saya sudah puas menghabiskannya.

Kulit buahnya sama persis dengan buah naga pada umumnya. Bagian dalamnya walaupun mempunyai tekstur sama, tapi buah naga ini mempunyai warna yang berbeda. Saya selalu mengenal buah naga yang berwarna putih bagian dalamnya. Tapi, yang satu ini berwarna merah keunguan, mirip warna buah kiwi. Dan rasanya? Slurrrrrrppp. Kalau belum terlalu matang ia sedikit masam. Kalau sudah matang, terasa manis. Saya paling suka bila ada sedikit rasa masam.

Kata adik laki-laki saya, sejak awal rasa buah naga memang terasa sedikit asam, dan dia suka sekali dengan rasa buah ini. Saking sukanya, setiap kali ibu saya membeli buah ini, maka dia bisa dengan sangat ikhlas untuk menghabiskannya sendirian. Dan berhubung saya tidak suka, saya juga bisa dengan sangat ikhlas memberikan buah itu untuk dia makan sendirian. Entah mengapa, bagi saya buah yang ibu saya belikan di Jakarta memiliki rasa yang berbeda dengan di sini. Menurut saya buah naga di pulau bengkalis rasanya ada yang manis dan asam dan saya menyukai rasa itu. Tapi, buah naga di Jakarta tidak jelas apakah manis apakah asam, karena cenderung hambar.

Oya, akhirnya saya mengetahui persis bagaimana bentuk pohon buah ini secara keseluruhan. Ternyata, bentuknya memang betul-betul menyerupai naga. Bukan hanya pada bagian buahnya saja, tapi juga kepada keseluruhan bentuk pohon tersebut. Seperti naga yang mempunyai banyak kepala, dengan bentuk batangnya yang menjulur panjang membuat buah ini menjadi semakin tampak layaknya seekor naga. Dan yang paling istimewa adalah, pohon naga ini mempunyai bunga yang sangat cantik. Besar dan putih. Bahkan saya sudah meniatkan untuk membawa tunas pohon ini jika saya kembali ke jakarta nanti. Untuk ditanam di depan rumah, ingin saya.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran