BANG BING BUNG, YO KITA NABUNG
Fatia Qanitat | 21 April 2011

16/02/2011

“Mulai minggu depan, kalian akan menabung!” ucap saya di depan kelas pada pembuka semester baru ini.

ini dia kebiasaan yang coba saya tanamkan kepada siswa-siswa kelas tiga. Setiap anak akan menabung setiap hari sabtu minimal Rp 1.500. Saat pertama kali saya menyebutkan hal ini, kebanyakan dari mereka sudah mengeluh. “Payah lah buuu....” ucap mereka. Walaupun begitu saya tak pantang menyerah.

“Menabung itu penting. Kalau uang kalian sudah banyak, nanti bisa membeli barang-barang yang kalian ingikan. Bisa membeli buku, pensil warna, dan lain-lain,” papar saya.

“Udah punya bu,” jawab mereka.

Huuuuhhhh, saya menjadi sedikit lesu. “Coba pakai cara lain, ayo pikir, pikir.....bujukan apa lagi yang bisa digunakan untuk menarik perhatian anak-anak ini????” ungkap saya dalam hati.

“Kalian mau membeli apa? Barang apa yang sangat kalian inginkan, yang selama ini belum mampu kalian beli?” tanya saya lagi.

“Sepatu, mainan...” sahut mereka.

“Nah, kalian bisa menggunakan uang tabungan kalian nantinya untuk membeli barang-barang itu. Uang yang kalian tabung, akan ibu kembalikan saat akhir semester ini. Kalau kalian rajin, pasti uangnya akan banyak. Senang tidak kalau uangnya banyak?” jelas saya bersemangat.

“Harus Rp 1.500 Bu? Kalau tidak ada?” ucap salah satu siswa.

“Coba, ibu mau tanya, setiap hari kalian jajan berapa?” tanya saya kepada seluruh siswa.

Jawaban yang keluar dari mulut mereka beragam. Ada yang menjawab sampai Rp 5.000, bahkan sampai Rp 6.000 (jujur saya kaget sekali mendengar siswa saya yang menyatakan jumlah tersebut). Tapi rata-rata berkisar antara Rp 2.000-3.000 (kalau dilihat dari jumlah uang jajan mereka, kehidupan di pulau Bengaklis ini bisa dikatakan cukup. Malah bisa dikatakan sangat cukup). Walaupun begitu tidak sedikit yang jajannya hanya Rp 1.000.

Saya lalu meminta kepada mereka untuk menyisihkan Rp 300  saja setiap harinya, dari hari senin sampai jumat. Kalau mereka bisa, maka saat hari Sabtu, bisa terkumpul Rp 1.500. Tapi, khusus anak-anak yang jajannya sedikit, saya tidak terlalu memaksa mereka memenuhi tabungan tersebut. Mereka boleh menabung berapa saja. Dengan catatan, yang penting mereka tidak boleh ketinggalan untuk menabung.

“Kalau lebih boleh Bu,” tanya mereka lagi.

Yes!!! Saya senang akhirnya mulai tampak semangat pada diri mereka.

“Tentu boleh. Bahkan lebih baik lagi. Eittttssss tapi kalian tidak boleh meminta uang lagi ya kepada orang tua kalian. Harus dari uang jajan sendiri.  Awas kalau sampai ada yang minta kepada bapak ibu di rumah. Pasti akan ketahuan oleh ibu,” ancam saya sambil berjalan ke arah mereka (jangan dibayangkan saya mengancam dengan tampang polisi kepada tawanannya ya....hehehe).

Yahhhh ibuuuuuu....begitulah ucap sebagian besar dari mereka. Saya hanya tersenyum menanggapinya. Untuk menambah semangat mereka lagi saya kemudian berkata, “Mudah kan? Hanya Rp 300 sehari! Masa tidak bisa? Malunya......” tantang saya kepada mereka.

Sifat dasar anak-anak ini adalah tidak mau kalah. Saat mendapatkan tantangan dari saya, muncul kembali semangat mereka. Sambil berteriak mereka berkata, “Bisa Bu, bisa, bisa!!!”

Hehehehehe.....^_^v
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran