ANAK-ANAK ITU MENGAMBIL RAPORNYA SENDIRI
Fatia Qanitat | 01 February 2011

26/12/2010

Ini adalah nyata. Betul, tidak sedikit pun saya rekayasa. Kejadian ini betul terjadi. Tak ada kebohongan di dalamnya (maaf kesannya malah seperti dilebih-lebihkan, hehehe..........).

Saya terkejut saat mengetahui bahwa ternyata murid-murid sekolah saya, yang juga ternyata dialami oleh kawan-kawan sesama PM kecamatan Bantan lainnya, bahwa ANAK-ANAK ITU MENGAMBIL RAPORNYA SENDIRI!!!! Rapor semester ganjil mereka. Ko bisa? Ya bisa. Saya langsung protes saat mengetahui hal ini (tidak seperti demonstrasi atau teriak-teriak dengan penuh emosi yang ada di tipi-tipi).

Saya bertanya kepada salah satu guru, “Kenapa tidak orang tua mereka yang mengambil rapor mereka bu?” suara saya normal (Jangan dibaca seakan-akan saya menaikkan volume suara ditambah memberikan tekanan – mana mungkin saya berbicara dengan nada seperti itu kepada ibu yang usianya seperti orang tua saya. Walaupun rasanya dalam hati saya benar-benar ingin memprotes kebijakan yang ada).

“Yah, orang tua mereka sibuk potong getah (istilah berkebun karet atau sedang mengambil getah karet),” ucap guru tersebut.

“Yah tapi ini kan pengambilan rapor bu, masa anak-anak sendiri yang mengambil rapor mereka?” sanggah saya tidak puas.

Guru lain menimpali, “Kalau di sini memang begitu. Nanti kalau rapor semester genap baru orang tuanya yang suruh ambil. Itu pun banyak yang tidak mau datang.”

“Tapi masa iya sih bu, dari satu semester sekolah cuma minta satu hari untuk mengambil rapot, masa orang tua tidak mau?” tambah saya lagi.

“Emang gitu, susah. Ini kan masih semester ganjil, tidak apa-apa anak yang ambil,” ucap guru yang sama dengan guru yang tadi menimpali (bukan guru yang saya beri pertanyaan saat di awal tadi).

“Kalau di Jakarta, sekolah adik saya (adik saya yang masih SD, bukan yang sudah kuliah dan ia sekarang bersekolah di sekolah swasta) bagi rapor sampai empat kali. Setiap mid semester (alias pertengahan semester) ada bagi rapor juga. Semuanya wali mereka yang mengambil,” jelas saya.

“Kalau di Jakarta sampai empat kali? Yah di sini ya begini,” timpa guru lainnya. Guru ini berbeda dengan guru yang menimpali sebelumnya.

“Iya bu. Jadi kan sekolah bisa meminta kerja sama dari orang tua mereka untuk memantau belajar mereka di rumah. Apalagi waktu anak-anak ini kan banyak di rumah dari pada di sekolah, jadi perlu ada perhatian yang banyak dari orang tua mereka. Jadi penting kalau orang tua yang harus mengambil rapor anak-anak ini secara langsung,” ungkap saya.

“Sibuk motong getah. Payahlah (maksudnya susah) kalau harus mengambil rapor,” ucap guru yang saya tidak ingat siapa tepatnya guru yang mengucapkan ini. Apakah guru pertama, apakah guru yang menimpali, apakah guru lain yang menimpali, saya tidak ingat. Atau jangan-jangan guru lain yang baru lagi yang menimpali? Saya lupa, hehehe.

“Ya sudah, rapor anak itu tidak usah dikasih sampai orang tua mereka yang mengambilnya langsung,” saran saya.

“Rapor kenaikan kelas saja yang setahun sekali susah meminta mereka untuk mengambil ke sekolah, apalagi yang semester ganjil. Itu saja banyak yang akhirnya diberi ke anak-anak langsung,” ucap guru yang menimpali.

Perbincangan di sekolah ini berlanjut di rumah. Saya yang belum merasa puas, kembali menanyakan masalah ini kepada bapak asuh yang juga menjabat sebagai kepala sekolah. Beliau menjawab seperti apa yang dikatakan oleh para guru di sekolah tadi. Karena orang tua mereka sibuk, karena orang tua mereka sulit untuk diminta datang ke sekolah, bahkan, kepala sekolah menyebutkan sampai sekarang masih ada ijazah yang tidak diambil.

“Ada (ijazah) yang masih di rumah. Kata mereka (maksudnya orang tua murid) biarlah bapak yang simpan. Nanti kalau mereka membutuhkan baru mereka ambil. Memang begitu kalau di desa, Ya (panggilnya terhadap saya),” ucap Pa Kepala Sekolah.

Saya meminta bapak untuk menerapkan kebijakan untuk pengambilan rapor diwajibkan oleh orang tua mereka. “Seandainya orang tua mereka tidak mengambil, ya tidak usah diberikan rapornya pa,” pinta saya kepada beliau.

Bapak menjelaskan bahwa pembagian rapor yang diambil oleh orang tua biasa diberikan pada setiap kenaikan kelas, kalau semester ganjil bisa langsung diberikan kepada anaknya. “Nanti kan anaknya bisa memperlihatkan kepada orang tua mereka. Tak payahlah orang tua yang harus mengambilnya,” jawabnya dengan cara yang sama seperti jawaban guru-guru tadi.

Saya menjelaskan bahwa dengan orang tua yang mengambil rapor anak mereka, maka sekolah bisa sekalligus memberikan pengarahan kepada orang tua untuk turut serta bekerja sama terhadap pendidikan anak-anak mereka di rumah. Dengan adanya pertemuan antara orang tua dengan guru, sekolah bisa menjelaskan secara langsung bagaimana pentingnya peran orang tua dalam proses kemajuan pendidikan anak-anak mereka.

Kalau pertemuan seperti itu, jelas Pa Kepala Sekolah, sudah dilakukan saat pertemuan dengan wali murid setiap awal kenaikan kelas. “Pertemuan dengan orang tua itu ada, setiap tahun ajaran baru. Yang datang juga masih sedikit, apalagi kalau disuruh datang ambil rapor,” jelasnya lagi.

Saya kecewa, bingung, dan tidak tahu harus berkata apa. Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya ternyata masih sangat kecil. Mereka menyerahkan tanggung jawab ini sepenuhnya kepada sekolah. Sementara, waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah, sehingga dibutuhkan perhatian yang besar dari orang tua mereka.

Saya kecewa, karena saya tidak mampu mengubah kondisi yang ada. Saya tidak mampu mempengaruhi sekolah untuk dapat menetapkan kebijakan yang lebih tegas untuk mengubah kondisi ini.  Saya kecewa, karena saya pada akhirnya diam dan mengikuti arus sama seperti yang lainnya.

Saat pembagian rapor akhirnya datang, anak-anak berlari menuju kepada wali kelasnya masing-masing. Setiap guru membagikan rapor layaknya membagikan buku tugas dengan memanggil siswa-siswa satu per satu, dan rapor pun sampai di tangan mereka masing-masing. Pesan-pesan disampaikan di depan kelas.

“Rapor jangan lupa diperlihatkan kepada orang tua kalian di rumah. Rapor harus di jaga baik-baik, tidak boleh rusak. Rapor dibawa lagi saat hari libur telah usai,” begitulah kurang lebih pesan-pesan yang disampaikan oleh guru kepada anak murid mereka.

Saya kebetulan diminta untuk membantu wali kelas satu untuk membagikan rapor kepada anak-anak. Saya masuk kelas dan diam sejenak. Saya berpikir dan mencoba untuk melakukan sedikit hal berbeda dengan yang ada.

Anak-anak saya minta duduk dengan rapi. Saya panggil satu per satu nama mereka. Layaknya orang tua mereka, saya membuka rapor dan menjelaskan satu per satu kekurangan ataupun kelebihan yang mereka miliki, sesuai angka yang tertulis di rapor. Satu per satu saya jelaskan dan meminta mereka untuk belajar lebih giat lagi. Kepada anak yang mendapatkan nilai tertinggi di kelas, sama-sama kami ucapkan selamat dan memberi yang lain semangat agar tidak boleh kalah.

Sulit untuk mengubah kondisi ini. Hanya itu yang saat ini bisa saya lakukan. Memang masih sangat sedikit. Harapan saya, semoga kepedulian dan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak dapat direalisasikan secara penuh. Dan pelan-pelan, semoga hal ini bisa berubah menjadi lebih baik lagi.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran