Sebut Saja Sekolah (Potret Kelas Jauh)
Erma Purwantini | 07 May 2012

Bangun pagi hari ini rasanya tak seperti biasa. Lelah badan sehari kemarin melalu perjalanan dengan medan yang cukup menguras tenaga terbayar oleh jamuan warga di Dusun 4 Desa Muara Medak ini. sungguh aku merasa sangat mulia sebagai tamu di rumahnya. Rumah orangtua dari Bapak Kadus yang berasal dari Sunda sangat khas logatnya. Ikan sarden, nasi putih panas lengkap dengan kerupuknya rasanya sangat nikmat di pagi yang hangat. Pukul 07.30 kami sudah siap untuk melanjutkan misi yang sudah dikoordinasi. Bisa dikatakan misi ganda. Aku yang ingin menggali potret sekolah di Desa Muara Medak, dan Pak Sekdes yang juga sekaligus menyapa warga-warga nya untuk masalah administrasi desa. Misi edukasi plus administrasi J

Ya, dua hari ini aku bersama perangkat desa Bapak Sekdes berpetualang untuk bisa menembus jalan-jalan hutan antar dusun untuk lebih jauh mengenal apa yang selama ini disebut sekolah.

Perjalanan hari ini diberikan rejeki berupa pinjaman motor Pak Kadus 4 untuk menuju di sekolah yang paling ujung. Dari kata paling ujung ini saya sudah terpikirkan perjalanan yang seru tentunya. Awal perjalanan kami melewati jalan di antara kebun-kebun sawit, senyum saling sapa terjalin disana sesekali saja ketika warga melintas. Sedikit bernafas lega ketika merasakan jalan beraspal setelah setengah jam melewati jalan keriting. Seketika saya mengernyitkan dahi, melihat gapura bertuliskan “Selamat Jalan-Desa Muara Jambi”. Ternyata kami sudah lintas provinsi. Untuk menuju dusun lain yang masih dalam satu wilayah desa, harus melewati Provinsi Jambi. Inilah jalan satu-satunya yang menjadi akses warga.

Tak lama rasa nyaman jalan aspal itu kami nikmati. Jalur pipa Pertamina kami susuri sepanjang kurang lebih 5 km. Lalu lalang alat berat dan truk perusahaan menambah suasana daerah kaya disini. Kaya akan sumberdaya alam tentunya. Meski aku mulai tak betah duduk dengan jalan yang mengguncangkan seluruh badan ini, roda motor terus melaju dengan kencangnya. Hingga sampai pada pemandangan rumah di kanan kiri yang tidak saling berdekatan, namun juga tidak terlalu jauh. Roda mulai perlahan dan Pak Sekdes terlihat sedang kebingungan mencari dimana sekolah yang akan kami datangi. Aku pun turut membantu dengan cermat mengamati setiap bangunan walaupun masih jauh dari pandangan mata. Di kiri jalan, masih belum tampak itu bangunan sekolah. saya berkata “belum sampai kok Pak!” dengan nada sok tau banget J

Dan roda motor pun berhenti seakan mendadak.

Rupanya Pak Sekdes agak lupa dimana posisi pas sekolah ini. yang ada di benakku, kali ini aku bisa melihat bangunan dan tiang bendera, itu saja paling tidak. Maka akan terdengar riuh gemuruh suara dengan nada tinggi khas anak-anak. Tapi, ini tidak. Aku meminta turun dari motor sebelum Pak Sekdes menempatkan motornya lebih dekat. Lebih dekat ke rumah itu, rumah yang di’kolong’nya kulihat warna merah dan putih. Sapa lagi kalau bukan murid-murid sekolah dasar. Mereka tampak dari belakang sedang konsentrasi mendengarkan penjelasan guru. Semakin mendekat, aku menyimak Pak Guru yang sedang mencoba menjelaskan kepada anak-anak tentang materi berat suatu benda. “Manakah yang lebih berat almari atau tikar?” pertanyaan yang sangat mudah dijawab oleh orang dewasa.

Lalu “ini kelas berapa saja pak?” tanyaku. Pertanyaanku memakai kata ‘saja’ karena dalam satu sekolah tentunya ada beberapa kelas. “Semua kelas satu Bu” jawab Pak Guru dengan nada yang terlihat sangat sabar ini. namun, dalam hatiku bukan tidak percaya, melihat postur tubuh mereka semestinya ada yang bukan kelas 1. Langung saja saya diberikan amanah untuk berbagi dengan murid-murid di hadapan mereka. Bukan pelajaran apa yang mau saya sampaikan disini, namun ada satu pertanyaan yang ingin saya tau jawaban dari para bocah berseragam merah-putih yang berjumlah 12 anak ini.

“Kamu senang sekolah disini?” tanyaku pada salah satu murid bernama Ridwan yang tengah asyik mengerjakan tugas dariku membuat apapun dari kertas yang aku bagikan. “Senang Bu!” nadanya sungguh lantang dan ekspresi nya tak bisa dibohongi. Namanya anak-anak, memang sangat jelas dia menunjukkan sekpresi sesuai kata-kata yang diucapkan.

Sebut saja sekolah. sepakat bukan?disitu ada murid,ada guru, ada papan tulis dan ada proses belajar mengajar.

Kemudian, aku mencoba berbincang dengan Pak Guru yang saya benar-benar lupa namanya. Ternyata beliau guru pengganti yang sebelumnya seorang Ibu Guru bernama Ibu Ida yang mengajar disitu. Yang bukan lain adalah istri Pak Guru tersebut. Kata Pak Kades istrinya sedang tidak bisa mengajar karena melahirkan. Penampilan Pak Guru sangat sederhana. Tinggalnya beberapa puluh meter dari sekolah ini. Pak guru menuturkan, ketika hutan-hutan mulai dibuka, harimau sering melintas ketika anak-anak berangkat menuju sekolah yang lebih jauh dari sini. Karena keresahan orangtua dan masyarakat setuju diadakan kelas jauh, maka Pak Guru beserta istri inilah yang memulai untuk mengeja huruf untuk mereka di sekolah. “setelahkami data, kami mengajukan ada kelas 1 sampai 4, namun baru kelas 1 saja yang disetujui. Ya sudah kami gunakan ini rumah sebagai sekolah” kata beliau. Rumah ini merupakan rumah milik seorang pekerja kebun yang menggarap lahan orang yang mempunyai tanah tempat kami berdiri ini.

Senyum bangga menyelimuti hati ini ketika seorang anak berjalan lewat luar bangunan dan menghampiri. “Ibu besok ngajar lagi kan?” aku tak bisa menjawab, namun Pak Guru tersebut lah nanti yang akan menjawab dengan kedatangannya setiap hari menyapa anak-anak dengan berbagai ilmu. Aku belajar dari Pak Guru tentang ketulusan berbagi. Apapun kondisi, sekolah itu bisa terjadi J

Sembari menyiapkan baju rapi untuk mengikuti Upacara Bendera Memperingati Hari Pendidikan Nasional di SDN Muara Medak esok hari.                                            

________________________________________Memori Satu hari sebelum tanggal Dua Mei 2012

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran