Purnama di Muara Medak
Erma Purwantini | 05 May 2012

“ibu....!!!sekarang kan tanggal 29?!kok ditulis 24!!” teriak anak-anak di kelas 2. Aku tak mengira, rupanya aku sangat menikmati tempat tugasku yang baru ini.

Setiba disini,ya...di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan lebih tepatnya di Kecamatan Bayung Lencir Desa Muara Medak, aku langsung berusaha menyelami anak-anak asli daerah Pempek ini. Mengenal lingkungan baru mungkin mudah bagi kita, namun menjadi bagian dari mereka itu hal yang lebih berwarna. Delapan bulan yang lalu aku sangat ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rencong. Toleh kanan kiri, tengok ke belakang dan tetap berjalan ke depan. Terasa asing aku disana. Tak mengenal siapa-siapa bahkan sanak saudara. Hingga aku bertemu satu persatu, berpasang-pasang mata, berjuta senyum disana. Aktivitas mengajar yang menjadi hal utama sebagai tugas mulia, justru mengajarkanku tentang arti dari berbagi. Bukan membagi barang layaknya bantuan untuk orang-orang yang memerlukan, namun lebih dari itu. Seperti sinar cahaya yang mengintip di balik awan saat teriknya siang, ataupun sinar rembulan yang memecah kegelapan malam. Alam ini membagi energi dengan rendah hati, percaya bahwa semangat dan optimisme itu akan abadi. Malam terus bergantian dengan siang, memberi warna pada setiap suasana. Mendung, cerah, hujan, berbintang, hingga purnama.

Awal kedatangan, Purnama menyambutku. Ya, Ibu Purnama yang menjadi Kepala Sekolah SDN Muara Medak tempatku mengajar sekarang. Nampak senyum ketulusan memancar seperti bulan di malam hari. Mengapa?ya, karena simpel saja. Jauhnya perjalanan dari desa hingga ke kabupaten tak menyurutkan semangat untuk menjemputku sebagai guru baru di sekolahnya.

Roda mobil Pak Bastoni, salah satu pengawas di UPTD Bayung Lencir bergulir dengan cepatnya membawa rombongan kami menuju tempat tugas. ada 6 orang dalam perjalanan ini, aku, Mila, Ibu Laila Kepala Sekolah SDN Kepayang, Ibu Pur Kepala Sekolah SDN Muara Medak, Pak Bastoni sebagai supir handalnya, dan satu lagi salah satu bapak guru di UPTD Bayung Lencir yang aku lupa namanya J

Sampailah di Kecamatan Bayung Lencir yang letaknya di kilometer 205 Jalan Raya Palembang-Jambi ini. jam tangan bulatku menunjukkan pukul 16.00 WIB. Masih diantarkan Pak Bastoni, aku dan Bu Pur bergegas menuju ‘laut’, untuk berganti moda transportasi menuju Desa Muara Medak.  Mila dan Ibu Laila sudah lebih dulu turun di sebuah penginapan di daerah kecamatan karena harus menunggu ‘speed boat’ di esok harinya. Desa penempatanku lebih dekat ditempuh dari kecamatan dibandingkan desa penempatan Mila.

Segera mungkin kami segera menurunkan barang-barang, terutama barang bawaanku yang seperti awal deployment. Penumpang ‘speed’ tampak sudah menunggu dari tadi, teringat dalam perjalanan di mobil pun Bu Pur sudah menelepon supir ‘speed’ untuk menunggu kami.

Kubuka perlengkapan tambahan berwarna oranye yang masih terbungkus plastik, syarat keberadaan air di daerah penempatan Pengajar Muda.

Mata dan perasaan ini tak bisa dibohongi. Benar-benar merasakan hal yang tak pernah aku rasakan. Melihat hal- hal yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dermaga penumpang yang tinggal 1 speed kami saja yang tersedia, rumah rakit yang mengapung di pinggir sungai, dan pemandangan diriku sendiri. Yang memakai vest oranye, sedangkan melihat penumpang yang lain tampak sesekali melirik kepadaku J  ada pemandangan aneh rupanya. Seperti mataku yang juga aneh melihat sepanjang perjalanan ini.

Semak-semak pohon tampak di kiri kanan. Berapa kali aku lupa, kami melewati dermaga-dermaga PT yang mulai nampak kapal-kapal buesar mengangkut balok-balok kayu.

Kurang lebih 1 jam, ‘speed’ berhenti di kampung pertama setelah melewati pemandangan semak-semak tadi. Tampak sebuah bangunan paduan warna kuning dan biru. Tampak cerah. Inilah markas sahabat merah-putih ku. Dan di sebelahnya lah markas ku mempersiapkan diri. Rumah orangtua angkat yang akan menjadi ayah dan ibuku selama 4 bulan ini terletak ‘parak’ (=dekat) dengan sekolah.

Hingga senja datang, aku menunggu orangtua angkatku pulang. Belumlah bertemu dengan keduanya, aku sudah menempati kamar yang sudah dipersiapkan untukku ini. Dari cerita Yu’ Noni yang tinggal bersama bapak ibu bahwa ibu sedang menunggui Suci anak angkatnya yang sedang sakit di Jambi. Dan bapak akan pulang nanti malam.

Pertama kalinya aku menikmati listrik diesel, setelah bapak pulang di remang-remang lampu 5 watt kami ngobrol tentang banyak hal di ruang tamu yang dilengkapi kursi kayu berbusa yang khas dengan jaman doeloe J menyampaikan ucapan permisi untuk menjadi bagian dari keluarg selama bertugas di Muara Medak ini.

Bapak berpesan “Mengajarlah Ma, lakukan apa yang menjadi niatmu disini, apa yang menjadi tugasmu. Fokus pada hal mengajarmu itu, hal-hal di luar ngajar tak usah kau pikirkan”,aku menunduk hormat atas nasehat-nasehat dari bapak angkat.

Ditemani bulan yang menyinari malam ini, yang tak henti-hentinya membagi energi cahaya di Muara Medak.

-salah satu guru yang sebelumnya mengajar di SDN 16 Kutamakmur, Aceh Utara-

Erma Dwi Purwantini

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran