Kali Pertama Katong Ikut Olimpiade
Emy Aditya Pramita Sari | 29 May 2017

Pagi pagi semangat”
“Semangat Semangat pagi”
“Buang rasa lelahmu “
“Mari berkompetisi “
Sebuah lagu yang masih terus terngiang di ingatanku tentang semangat anak anak pulau Damer ketika kali pertamanya mereka mengikuti Olimpiade Sains Kuark 2017. Mereka menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat.
Pagi itu tepatnya tanggal 18 Februari 2018, beberapa guru di pulau Damer sekaligus guru dari Indonesia Mengajar dan SM3T saling berkolaborasi untuk menyelenggarakan Olimpiade Sains Kuark di kecamatan Wulur. Salah satu tujuan kami mengikutsertakan beberapa murid dari SD Kristen Kehli, SD Kristen Wulur, SD Negeri Wulur, SD Kristen Bebar, dan SD Kristen Batumerah adalah untuk memberikan pengalaman sekaligus bisa bertemu dengan beberapa teman dari SD yanga ada di pulau Damer.
Aku sebagai pengajar di SD Kristen Batumerah pun ikut menyaksikkan antusias sekaligus perjuangan mereka selama mempersiapkan diri untuk mengikuti OSK di kecamatan. Mulai dari rutinitas belajar sore hingga malam hari, tak pernah ada yang mengeluh, adapun yang sakit tetap memaksakan diri untuk mengikuti belajar tiap sore. Sebagai guru pembimbing, aku ikut merasakan semangat mereka yang membara sehingga menambah semangatku untuk terus berjuang demi mereka yang merupakan tunas tunas bumi Kalwedo.
Perjalanan mereka menuju kecamatan pun untuk mengikuti seleksi OSK tak semulus yang dibayangkan, gelombang laut saat musim barat dan hujan menjadi saksi perjalanan mereka. Dua hari sebelum keberangkatan menuju kecamatan, gelombang laut masih belum teduh. Kala itu aku merasa goyah antara pergi atau tak pergi, kembali lagi aku melihat satu persatu wajah muridku yang penuh harap untuk tetap ikut. Aku pun bertanya kepada mereka
“Kalau sampai besok Jum at laut masih belum teduh, katong jalan sudah e ke kecamatan seng apa- apa toh?”
Padahal aku tahu perjalanan darat ke kecamatan bukan hanya memerlukan waktu 2 jam, lebih dari itu bisa 6 hingga 8 jam yang melewati semak semak , jurang , dan tebing gunung. Aku melontarkan pertanyaan itu , hanya ingin tahu sebesar apa semangat mereka ketika alam tak bersahabat dengan keinginannya.
“Iya ibu guru, katong jalan sudah”
Sahut mereka dengan lantang
Aku pun tersenyum sekaligus bangga medengar jawaban mereka. Tak ada kata menyerah dalam diri mereka.
Tepat hari keberangkatan, seakan semesta mendukung perjalanan kami. Awan sangat cerah dan lautan sudah teduh sejak pagi hari. Tidak hanya menyaksikkan perjuangan anak anak , aku juga menyaksikan perjuangan para orang tua murid, pihak desa dan sekolah yang sangat mendukung dan membantuku selama persiapan keberangkatan hingga pelaksanaan OSK di kecamatan. Para orang tua murid yang ikut mengantar sudah mempersiapkan bahan makanan, kayu bakar, dan beberapa hal yang dibutuhkan anak anak sehari sebelum keberangkatan. Satu persatu dari mereka bahu membahu memikul kayu bakar, kelapa, pisang dan tas yang berisi pakaian maupun makanan ke dalam speedboat. Aku melihat ketulusan dari wajah mereka sekaligus perjuangan untuk anaknya yang terpilih menjadi perwakilan sekolah di tingkat kecamatan.
Perjalanan ke kecamatan dengan speedboat ditempuh dalam waktu 2 jam, belum tiba di kecamatan , hujan telah mengguyur kami. Sehingga sesampainya di kecamatan kami sudah basah kuyup dan kedinginan, aku pun segera menemui salah satu guru yang di kecamatan untuk mendapatkan informasi tempat tinggal yang sebelumnnya sudah dikoordinasikan dengan kepala UPTD dan masyarakat desa di sana. Setelah mendapatkan informasi, aku pun mengajak semua anak anak dan para orang tua pergi kesana.
Aku kira anak anakku sudah lelah karena kehujanan, sehingga sesampai di rumah singgah mereka akan segera tidur. Namun aku salah, ternyata mereka langsung membuka buku dan belajar tentunya setelah membersihkan diri sebelumnya. Meskipun hanya dengan pelita, karena masih harus membeli minyak dahulu untuk mendapatakan penerangan dari lampu mereka pun tak mengeluh . Semangat mereka berhasil mengalahkan rasa lelah dan dingin selama perjalanan laut tadi.
Hari yang ditunggu – tunggu pun tiba, pagi pagi mereka sudah siap dengan seragam merah putih, sepatu hitam dan beberapa peralatan yang dibutuhkan selama olimpiade sudah mereka siapkan. Sebelum berangkat, aku pun berfoto dengan mereka dan mengapresiasi semangat mereka yang masih membara. Tak lupa aku memberikan pesan
“Ibu guru bangga dengan kalian, semangat kalian sampai saat ini ibu guru acungi jempol. Ibu guru tak menuntut kalian menang, karena ini pertama kalinya katong ikut olimpiade toh. Buat pengalaman saja dan mengenal beberapa teman dari SD lain”
“Masih semangat toh ?”tanyaku
“ masih ibu, sahut mereka
“Mari katong pi SD Wulur ! ajakku sambil mulai berjalan
Sampai sejauh ini aku dan murid muridku bisa melangkah bukan hanya semata karena usaha kami, tapi beberapa orang yang dengan tulus dan peduli akan potret pendidikan di negeri ini. Mulai dari kepala sekolah, guru dari tiap sekolah, masyarakat desa, hingga orang tua murid tentunya.
Usaha kami seakan terbayarkan dengan hasil pengumuman semifinal OSK 2017 bahwa salah satu murid dari SD kami berhasil lolos ke tahap semifinal yang diadakan pada tanggal 8 April 2017. Meskipun hanya sebatas semifinal kami bisa melangkah, tapi sebuah pencapaian terbesar dari murid – murid SD Kristen Batumerah. TeTerimakasih telah mengijinkan ibu guru menjadi saksi perjuangan kalian meraih cita- cita.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran