UPACARA PERDANA
Edison Parulian Manik | 25 December 2016

“Hiduplah Indonesia Raya…” lirik terakhir lagu tersebut mengantarkan bendera merah putih sampai di ujung tiang bendera sekolah kami. Saat itu senin di awal bulan Oktober, pertama kali kami menyanyikan Lagu Indonesia Raya di lapangan untuk mengiringi naiknya bendera merah putih berkibar di langit biru SD N Wiwirano Atas, Desa Walandawe, Kecamatan Routa. Dengan suara yang merdunya pas pasan, dan kadang kadang tidak serentak kami peserta upacara yang berjumlah hanya 21 orang (dengan petugas) menyanyikan lagu tersebut dengan penuh semangat.

Ditengah teriknya matahari pagi saat itu, upacara bendera yang kami sebut “upacara perdana” itu diikuti Kepala Sekolah, dua orang Guru, dan 18 siswa (6 sebagai sebagai petugas). Pada foto diatas tampak suasana upacara bendera yang sempat saya abadikan pagi itu.

Sedikitnya jumlah peserta upacara adalah salah satu alasan mengapa upacara tidak pernah terlaksana di SDN Wiwirano Atas. Pak Ramlin, satu satunya guru tetap mengutarakan hal itu. “jumlah siswa hanya belasan, jadi saya buat apel pagi saja". Begitulah selama enam tahu saya mengajar disini Pak Edi” katanya saat saya berdiskusi dengannya di sekolah. Tetapi beliau jugalah yang pada akhirnya sangat bersemangat menyambut baik saat saya ajak melaksanakan upacara bendera disekolah dengan kondisi jumlah siswa keseluruhan hanya 18 orang. Hingga pada akhirnya kamipun memulainya.

Satu bulan sebelumnya murid murid berlatih lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional lainnya. Saat itu, mereka tidak mengetahui satu pun lagu nasional. Hanya ada dua orang saja yang mengetahui lagu Garuda Pancasila. Baris berbaris juga demikian, diperkenalkan dari awal. Murid murid sangat bersemangat untuk hal baru, demikian juga untuk berlatih lagu dan baris berbaris hingga upacara. Mereka melakukannya dengan semangat.

Hingga upacara perdana itu terlaksana mereka selalu bersemangat dengan upacara bendera. Di kelas besar, tujuh murid saya selalu bersorak “Yeee…” saat diminta latihan upacara. Mereka membayangkan dirinya menjadi tentara dan pahlawan saat menjadi petugas upacara.

“Pak Guru, kalau jadi pemimpin upacara, nanti saya akan seperti tentara to?”. “pembawa bendera juga, to Pak Guru?”kata Aldi dan Herdin disela sela latihan. Kedua murid saya itu memang terobsesi dengan tentara, seperti yang dia tempelkan di pohon cita cita.

“Pak Guru, dulu Pahlawan meninggal supaya bendera merah putih berkibar dan kita bebas dari penjajah. Makanya kita harus upacara bendera to?” kali ini kata Rikal. Saya tersenyum sambil menjawab semua pertanyaan mereka tentang upacara.

Pertanyaan Rikal tersebut adalah sepenggal dari jawaban yang saya berikan dulu, ketika dia bertanya “Pak Guru, kenapakah kita harus upacara bendera? Soalnya kami tidak pernah upacara”. Saya senang Rikal masih mengingat penjelasan saya itu.

Satu bulan semua dipersiapkan, mereka pun melakasankannya dengan sangat baik. Tidak tanggung-tanggung murid murid melebih ekspektasi saya. Menirukan tentara, begitulah suara dan langkah mereka saat bertugas. Diawal saya memang pernah menunjukan video upacara kenegaraan 17 Agustus dan upacara lainnya yang dibawakan oleh tentara dan paskibraka. Mereka menyerapnya dengan baik.

Tidak hanya petugas, 12 murid lainnya yang di atur oleh Pak Ramlin menjadi 12 baris (satu orang satu baris), mengikuti dengan baik upacara bendera sampai selesai. Dan saat itu kepala sekolah berpesan dalam amanatnya, upacara bendera akan menjadi rutin setiap seninnya. Saya berharap nantinya upacara bendera rutin ini tidak hanya meningkatkan cinta tanah air tetapi juga memberikan inspirasi baru bagi murid murid di SD N Wiwirano Atas.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran