Terpujilah Engkau Wahai Guru
Dimas Sandya Sulistio | 02 May 2012

Benar adanya jika gelar pahlawan tanpa tanda jasa layak disematkan pada seorang guru. Andai tidak mengalaminya secara langsung, boleh jadi saya anggap julukan tersebut berlebihan. Semula saya pikir, menjadi guru adalah pekerjaan hati. Asalkan punya niat dan dedikasi, semua orang bisa jadi guru. Tapi tulus saja ternyata tidak cukup. Seorang guru harus memiliki 'keahlian' tersendiri yang cukup kompleks. Sebagai seorang pendidik sejati, guru selalu dituntut untuk bisa membuat semua hal yang sulit menjadi mudah dipahami, yang rumit menjadi mudah dimengerti, atau yang sukar menjadi mudah dikerjakan.

Berbicara tentang peran guru memang tidak sederhana. Standar bagi guru untuk memiliki berbagai kompetensi menjadi tantangan tersendiri. Bayangkan yang dihadapi guru bukanlah satu atau dua siswa, tapi bisa jadi tiga puluh bahkan empat puluh siswa per kelas. Belum lagi waktu kerjanya, yang harus intensif menyiapkan materi, membuat soal, melakukan evaluasi, dan beragam tugas administrasi sekolah. Ditambah kerja kreatif lainnya di luar jam pelajaran dari mulai mengenali psikologi siswa, hingga mengajak orang tua untuk terlibat dan berperan aktif dalam mendidik anaknya.

Sebagai salah satu pilar pembangun karakter bangsa, guru memang dituntut untuk mempertahankan idealismenya serta dinamis meningkatkan kemampuannya dalam merancang pembelajaran kreatif bagi para siswa, sesuai dengan perkembangan zaman. Teladan mereka sangat diharapkan karena sebagian waktu siswa dihabiskan di sekolah. Sekian jam bersama guru kelas, dalam waktu minimal setahun, tentu akan berkorelasi dengan sikap dan cara pikir seorang siswa. Apalagi bukan hal yang mudah membangun karakter seseorang. Selain harus memiliki kepekaan terhadap kebutuhan anak, guru juga harus memberikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa secara fisik dan psikologis.

Sedemikian besarnya peran guru, sehingga ekspresi wajahnya, nada suaranya, sikap dan perilakunya akan menjadi model bagi anak didiknya. Lebih jauh lagi, peran guru sangat diperlukan dalam membantu siswa belajar, menstimulasi rasa ingin tahu dan imajinasi siswa dengan cara bermain, mendorong siswa untuk berani bertanya, membiasakan hal-hal yang baik untuk siswa, membantu siswa memecahkan masalah yang sederhana, dan segenap bantuan lain dalam rangka mengembangkan emosi, intelektual, bahasa, dan sosial anak.

Disinilah guru punya peranan yang sangat vital dalam membentuk lingkungan belajar yang menyenangkan dan selanjutnya menentukan apakah anak akan 'ketagihan' belajar di sekolah atau malah 'apatis' dengan mata pelajaran. Tidak peduli sebagus apapun sistem di sekolah tersebut, keberhasilan dalam proses kegiatan belajar mengajar, akan sangat ditentukan oleh pendekatan yang dilakukan sang guru dan bagaimana ia menarik minat siswanya agar tertarik belajar.

Guru yang berhasil, adalah mereka yang mampu mengantarkan siswanya untuk memahami suatu materi dari konsep awal hingga aplikasinya setahap demi setahap secara konstruktif, sehingga siswa dapat menemukan manfaat materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Ibarat naik tangga, guru perlu mengajarkan siswa menapak tangga satu demi satu dengan mantap, bukan menyeret anak dengan ‘semangat’ untuk terus naik tangga sehingga anak terengah-engah dan malah tak mau naik tangga lagi.

Guru yang kompeten akan menggunakan berbagai metode dalam pembelajaran yang melibatkan berbagai aspek perkembangan siswa (fisik, motorik, emosi, sosial, bahasa, intelektual, pemahaman nilai-nilai) yang distimulasi secara proporsional. Strategi multiple intelegence juga digunakan untuk mengoptimalkan berbagai potensi kecerdasan majemuk yang ada pada siswa.

Guru yang bermotivasi tinggi akan intensif mengamati dan kembali mengamati perilaku para siswanya (observe and re-observe, consider and re-consider) untuk melihat minat dan respon siswa terhadap materi yang dipelajari. Sementara guru yang menginspirasi, adalah mereka yang mampu memupuk dan menumbuhkan nilai-nilai positif pada diri siswa, sehingga nilai tersebut melekat dan tertanam dalam karakter anak, bahkan terekam dalam memori jangka panjangnya.

Pertanyaannya apakah ada banyak guru di negara ini kita saat ini yang sudah memiliki karakteristik tersebut, atau paling tidak mendekati? Mungkinkah Indonesia yang tengah terpuruk saat ini salah satunya dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran guru dalam memahami peran dan fungsinya mencetak generasi terbaik bangsa? Jawabannya mungkin saja. Ditinjau dari sebaran kualitasnya, belum ada satu pun propinsi di Indonesia yang indeks mutu gurunya mencapai separuh dari nilai maksimal 10 (Analisis Data Guru 2009, Ditjen PMPTK). Itu artinya, masih banyak kompetensi yang belum dimiliki oleh seorang guru untuk menjalani perannya yang sangat besar.

Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa jumlah guru yang belum berkualifikasi secara nasional adalah 1.496.721 orang, dimana 75,2% dari jumlah tersebut adalah guru SD. Bahkan menurut sebuah penelitian dari OECD Education at a Glance, UNESCO Education, suplai guru seringkali berasal dari 30% peserta didik dengan nilai terendah dalam sebuah kelas. Meskipun demikian hal ini tentu tidak boleh membuat kita pesimis, karena pastinya tidak semua guru seperti itu dan bisa jadi ada sebagian oknum guru yang mengidap ‘penyakit akut’ sehingga berpengaruh pada profesionalisme dan ‘image’ mereka.

Begitulah, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, guru tetaplah manusia biasa. Namun memberikan sanjungan kepada guru tentunya merupakan hal yang pantas dan memang harus dilakukan sebagai seseorang yang tahu berterima kasih. Karena siapapun kita, apa pun posisi kita tidak terlepas dari peran guru. Sebagai seorang manusia yang mempunyai fitrah makhluk tidak sempurna, sudah dapat dipastikan seorang guru mempunyai beberapa hal yang harus diperbaiki.

Guru bukanlah orang yang dipuja-puji karena tahu segalanya. Bisa jadi siswa belajar pada ketidaktahuannya. Siswa jadi belajar bahwa mencari kebenaran itu tidak pernah berhenti. Guru juga bukanlah yang ditiru begitu saja karena tidak pernah tidak salah. Siswa juga bisa belajar dari kesalahan guru. Ia jadi tahu bagaimana harus memperbaiki kesalahan dan bertanggung-jawab atas kesalahan yang telah ia buat. Yang terpenting, guru bukan sekedar mengajarkan ini itu pada muridnya, tetapi orang yang membentuk sifat pembelajar hidup yang utuh pada anak didiknya.

Maka terpujilah engkau wahai guru. Menjadi guru adalah kehormatan bagi orang-orang yang terdidik untuk mendidik, karena sejatinya mereka adalah orang-orang luar biasa yang memilih jalan hidup sederhana. Menjadi guru juga berarti memilih untuk mengalami proses belajar tiada henti, layaknya pepatah yang mengatakan, “barangsiapa yang tidak belajar hari ini, maka ia akan kehilangan hak untuk mengajar esok hari”. Menjadi guru adalah pengabdian tak ternilai bagi ibu pertiwi, dan karenanya janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terlunaskan sudah.

Saya pun teringat sebuah pertanyaan sederhana dari sahabat saya beberapa tahun yang lalu. “Apakah setiap orang perlu menjadi guru, untuk sekedar merasakan pengalaman mendidik dalam hidupnya?”. Waktu itu saya terdiam sambil berpikir 'bukankah setiap orang pasti akan mendidik anak-anaknya kelak ketika sudah menjadi orang tua? bukankah itu keterampilan natural yang nanti bisa sendiri sesuai dengan kematangan dan kedewasaan seseorang?' Tapi kali ini saya punya jawaban lain. Saya pasti akan berkata padanya, “Kalau kamu punya kesempatan untuk menjadi guru meski sejenak. Ambillah! Karena itu pekerjaan yang terpuji yang akan memberikan banyak inspirasi dan motivasi untuk memperkaya dirimu”.

Selamat Hari Pendidikan !

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran