Sembilan Tanda Senyum
Dimas Sandya Sulistio | 01 April 2012

Tanda senyum ada sembilan,

yang pertama bajunya rapi

yang kedua berbaris antri,

yang ketiga sayangi teman

keempat kerjakan PR,

kelima bersihkan kelas

keenam datang tepat waktu,

ketujuh selalu minta izin

delapan bersikap sopan,

sembilan bersihkan kelas

kalau kau baik hai kawan,

akan dapat tanda senyum

 

Setiap pagi, kini lagu itu telah menyebar ke semua kelas hingga menjadi peraturan sekolah pertama yang diterapkan untuk seluruh siswa. Disertai gerakan yang unik untuk setiap aturannya, lagu itu pun jadi semacam tren baru di sekolah. Coba saja nyanyikan lagu itu dengan nada Rasa Sayange (di bagian pantun) dalam tempo yang cukup lambat. Sejak pertama kali diperkenalkan, posisinya terus beranjak naik ke deretan lagu terfavorit yang biasa dinyanyaikan oleh anak-anak. Menggeser lagu-lagu band atau lagu aceh yang biasa mereka dengar, hehe...

Begitulah, awalnya saya hanya mencoba untuk mengaplikasikan PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif dan Menyenangkan) di kelas. Dimulai dengan dibuatnya peraturan kelas dengan metode disiplin positif yang disampaikan dengan lagu. Agar lebih konkrit, saya lalu membuat cap tanda senyum yang diberikan di tangan anak-anak, jika hari itu berhasil melaksanakan tanda senyum. Wah, anak-anak bukan main senangnya. Mereka selalu berebut untuk mendapat tanda senyum setiap harinya.

Kesuksesan tanda senyum juga dibarengi oleh penggunaan berbagai metode pengelolaan kelas lainnya seperti penggunaan sinyal, pengaturan struktur kelas, pembuatan jadwal pelajaran, pembagian piket, pembiasaan berdoa dan berbaris sebelum masuk dan ketika pulang sekolah, pelaksanaan ulangan harian. Ditambah lagi dengan wahana tepuk Anak Indonesia, tepuk Anak Pintar, dan tepuk Semangat dalam tiga bahasa (Aceh –Inggris- Indonesia) semakin menambah riang suasana di sekolah. Kami juga punya slogan baru, yakni “HANA BANGAI MANDUM CAREUNG” yang berati “TIDAK ADA YANG BODOH SEMUA PINTAR”. Kemudian setiap hari Selasa-Kamis-Sabtu kini sudah ada Senam Riang Anak Indonesia, sedangkan pada hari Rabu-Jumat ada latihan membaca untuk anak kelas 1-3 dan mengaji surat yasin untuk anak kelas 4-6.  

Pada hari Senin, kini sudah mulai dilaksanakan latihan upacara (semacam piket), yang diinisiasi oleh salah seorang guru. Katanya ‘biar anak-anak nanti ketika SMP tidak buta apa itu upacara atau indonesia raya’. Tentu saja saya menyambutnya dengan baik. Apalagi semua ini sudah mendapat restu dari Bapak Kepala Sekolah. Yang terpenting, semua efektif membuat jam masuk sekolah menjadi lebih cepat  45 menit lebih awal, tanpa harus menunggu guru yang datang.

Lalu pada Hari Senin dan Kamis ada ekstrakurikuler Majalah Dinding dan English Club untuk anak kelas 4,5, dan 6 sepulang sekolah. Sayangnya guru yang diajak ikut kegiatan ekskul masih tampak malu-malu walau terlihat sangat antusias. Kegiatan perpustakaan pun sudah mulai dirintis dengan mengambil lokasi di balai dekat meunasah (karena lokasi sekolah terlalu jauh), menjadi semacam ekskul tematik sekaligus les tambahan dengan mengambil subjek pelajaran yang berbeda setiap harinya. Dengan koleksi 200 buku dari berbagiai sumber, cukup menjadi magnet bagi sekitar 20-30 anak untuk datang kesana setiap harinya.

Begitulah, senyum anak-anak itu, binar mata mereka yang penuh dengan semangat untuk bermimpi, sungguh membuat saya tak pernah ingin berhenti. Tantangan boleh datang silih berganti, hambatan boleh hadir sesuka hati, tapi dengan ketulusan dan keikhlasan semua mendadak pergi. Keduanya tidak akan pernah tumpul, selama terus diasah dengan kesabaran. Sabar untuk berbakti, sabar untuk terus menempa diri. Dan semua masih perlu bukti, hingga purnama kedua belas nanti.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran