Mar
04

Boleh jadi saya sedikit beruntung karena bisa memiliki banyak keluarga selama menjadi Pengajar Muda. Semua berawal ketika masa kedatangan kami bertepatan dengan libur panjang sekolah. Alhasil saat pertama kali tiba di Aceh, saya tinggal dulu untuk sementara di rumah Bapak Kepala Sekolah yang jaraknya masih 30 km dari sekolah atau dusun tempat saya akan menetap. Disanalah, masa liburan dan perkenalan saya dengan adat kebiasaan masyarakat Aceh dimulai. Termasuk mengenal kisah menarik tentang Gampong (desa) Rambung Payong.

Konon, nama Rambung Payong berasal dari sebuah Pohon Rambung besar yang menyerupai payung. Saya sendiri belum pernah melihatnya, tapi dari cerita orang-orang saya membayangkan mungkin bentuknya seperti pohon beringin. Yang menarik, masyarakat yang tinggal di Gampong ini ternyata masih satu ‘nenek’ atau berasal dari keturunan yang sama. Jangan heran bila berbincang-bincang dengan warga pasti ada cerita ‘oh si ini yang saudaranya si itu’, ‘dia masih saudara dengan saya’, ‘iparnya dia, abangnya saya’, dan sebagainya. Intinya mereka semua masih saudara.

Ada lagi yang unik, konon masyarakat Rambung Payong tidak bisa memakan ikan lele. Menurut cerita Bapak, dulu nenek moyang masyarakat Gampong ini pernah membuat perjanjian dengan ikan lele. Suatu ketika ia sedang memandikan kerbaunya di sungai. Lalu entah merasa terganggu atau karena lupa minta izin, kerbau tersebut ditenggelamkan oleh sekelompok ikan lele sehingga tidak bisa bangkit. Sang nenek kemudian memohon kepada ikan lele agar melepaskan kerbaunya, bahkan berjanji bahwa ia hinga tujuh keturunannya tidak akan memakan ikan lele semasa hidup. Akhirnya ikan lele setuju dan melepaskan kerbau itu.

Cerita ini sekilas hanya terdengar seperti dongeng bagi saya. Tapi kata Bapak, kalau penduduk disini ada yang makan lele, nanti kulitnya bisa bersisik atau kering mengelupas. Bapak sendiri pernah mengalaminya ketika di suatu kenduri tanpa sengaja memakan gulai ikan lele. Lalu cara menyembuhkannya adalah dengan mandi menggunakan air sungai yang ada di Gampong ini. Malah Bapak bilang kalau ada orang yang menikah dengan warga sini, maka ‘kutukan’ itu seolah ikut menempel, karena Ibu juga sekarang jadi tidak bisa makan lele. Begitu pun anak-anaknya.

Kata Bapak, saat ini ia adalah keturunan yang kelima. Jadi sampai Bapak memiliki cucu, legenda ini sepertinya masih akan jadi kenyataan. Lantas tiba-tiba saja saya jadi berpikir, mungkinkah saya jadi tidak bisa makan lele setelah menjadi ‘anak angkat’ Bapak. Karena penasaran, saya pun iseng-iseng mencoba ketika tiba di kota. Untunglah kulit saya tidak berubah menjadi bersisik seperti cerita Bapak. Mungkin karena tidak ada pertalian darah, mungkin juga kisah itu sekedar sugesti.  Entah benar atau tidak, kisah ini tetap menarik untuk saya. Dan saya percaya bahwa pasti ada kearifan lokal di baliknya. Apapun itu, toh yang penting saya tetap bisa aman makan lele, hehe..

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!