Satu Hari Penuh Cinta
Diastri Satriantini | 25 June 2011

Saya menulis ini pukul 1 dini hari. Mata yang tadinya digelayuti kantuk kini terbuka lebar. Kepala saya penuh, tidak bisa tidak menuangkannya ke dalam tulisan sekarang juga.

Hari ini benar-benar satu hari yang penuh cinta. Pagi-pagi di rumah Ibu Torim ini sudah terjadi kehebohan. Olivia, putri kedua Ibu Torim, sudah merasakan sakit di perutnya, pertanda waktu kelahiran bayi sudah dekat. Semua pun berbagi tugas, sebagian bertugas mengemasi barang-barang yang akan diperlukan saat persalinan, sebagian lain bergegas membawa Via ke rumah sakit terdekat, RS Fatima, yang bisa dicapai dengan berjalan kaki saja.

Olivia masih sangat muda, baru akan genap 22 tahun bulan Oktober nanti. Perawakannya pun sangat mungil. Saking mungilnya, orang tidak akan menyangka usia kandungannya sudah 9 bulan, karena perutnya juga tidak nampak terlalu besar. Suaminya, Veki, juga masih muda, 23 tahun. Penampilannya akan membuat orang mengira ia seorang mahasiswa dan bukannya seorang calon ayah. Bayi ini adalah anak pertama mereka, juga cucu pertama di keluarga Torim.

Saya selalu tersenyum hangat tiap kali melihat keduanya berjalan berdampingan. Rasanya ikut senang melihat mereka yang semuda itu telah menemukan the love of their life dan berjuang bersama untuk hidup bahagia.

Hingga sore hari pukul 16.30 WIT, Olivia tidak kunjung ada kontraksi, padahal ketubannya sudah pecah. Keluarga pun memutuskan mengambil jalan operasi caesar. Olivia pun dipindahkan ke RSUD Saumlaki, dan operasinya dijadwalkan pukul 22.00 malam ini.

Sembari menanti tibanya pukul 22.00, kami duduk-duduk (di lantai, hehe) di sekeliling ranjang Olivia di bangsal rumah sakit. Satu per satu keluarga dan kerabat datang. Keluarga dari pihak Ibu Torim, dari pihak Bapak Torim, serta dari pihak keluarga Veki. Bahkan ada pula seorang sahabat keluarga yang ternyata adalah orang Toraja. Ia tidak memiliki hubungan famili apa-apa dengan keluarga Torim, namun sudah dianggap kerabat sendiri.

Saya terpesona melihat kemajemukan ini. Berbagai agama—Protestan, Katolik, Islam—dan berbagai suku bangsa—Tanimbar, Ambon, Toraja, Jawa—berbaur menjadi satu demi rasa sayang kami pada Olivia. Saya terpesona pada jalan takdir yang membawa saya ke sini, di RSU Saumlaki. Yang saya tidak sangka-sangka, malam ini saya belum akan berhenti terpesona.

Pemandangan penuh cinta kembali dihamparkan di hadapan saya saat operasi mulai berlangsung. Veki tidak pernah jauh dari pintu ruang operasi, di mana kita bisa melihat dari luar bayang-bayang dokter yang berpakaian hijau sedang menjalankan tugasnya.

Veki, berkaus hijau, berdiri bersandar pada dinding dengan kepala tertunduk. Kedua belah tangan tersembunyi dalam saku, sesekali ia mengangkat kepala melayangkan pandangan ke arah pintu ruang operasi. Sesekali ia duduk. Sesekali ia beranjak keluar ruangan untuk merokok, tak lama kemudian kembali lagi ke dinding tempatnya bersandar semula. Sayup-sayup terdengar suara kardiogram dari dalam ruang operasi, berdenyut teratur, tut tut tut tut...

Sekalipun seandainya saat itu saya membawa kamera, saya tidak akan tega memotret, takut merusak suasana syahdu yang tercipta. Saya hanya akan mematrinya baik-baik di dalam lembaran memori saya, semoga ia tinggal sebagai long-term memory saya.

Siang tadi, saya sempat berpikir enaknya mau memberikan apa ya kepada keluarga Torim sebagai rasa terima kasih karena telah menerima saya di rumah. Ternyata, jawabannya mungkin tidak harus menunjukkan rasa terima kasih dengan memberikan barang, tapi dengan menjadi bagian dari keluarga ini.

Tidak ada dalam job desc saya sebagai Pengajar Muda yang menyebutkan bahwa saya akan berada di rumah sakit hingga dini hari, menunggui persalinan seorang Olivia yang baru saya kenal sehari sebelumnya. Namun, saya justru sangat bersyukur bisa berada di sini.

Melarut. That’s what I’m doing. Sungguh-sungguh melarut. Bukan hanya satu keluarga baru yang saya dapatkan dari Indonesia Mengajar ini, tapi saat ini saja sudah dua—Lasuatbebun dan Torim. Tentu, tidak tertutup kemungkinan akan bertambah lagi.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran