4 Jam Menuju Rumah Baruku...
Diastri Satriantini | 21 June 2011

Saya sudah duduk di atas bus, baris kedua di belakang sopir. Di sebelah kiri saya terhampar barang-barang bawaan para penumpang lain―karung goni, kardus, tas plastik; sementara di sebelah kanan saya duduklah seorang bapak setengah baya. Kami pun ngobrol. Pak Muis ini, beserta kedua temannya yang duduk di depan kami, adalah pedagang. Pak Muis berasal dari Kendari, sudah hampir 2 tahun tinggal di Saumlaki, punya kios kecil di terminal, dan hari ini mencoba pergi ke Kilmasa―desa tetangga Lumasebu―untuk menilai prospek membuka kios baru di Kilmasa.

Terus terang, saya takjub mendengarnya. Selama ini saya selalu tinggal di kota, di mana konsep hidup yang banyak dipegang masyarakat adalah urbanisasi; merantau ke kota besar dengan harapan mendapat penghidupan yang lebih layak daripada di desa.

Lah, yang dilakukan Pak Muis justru sebaliknya. Yang pertama, dari Kendari ke Saumlaki. Itu saja saya sudah tidak paham. Kenapa harus Saumlaki? Jika memang ingin mencari daerah yang lebih rural daripada Kendari, kenapa harus sejauh itu ke Maluku Tenggara Barat? Bahkan setelah cukup mapan di Saumlaki, eeeeh, lagi-lagi berpikir untuk “ekspansi bisnis” ke daerah yang makin rural lagi: Kilmasa, desa nelayan 4 jam jauhnya dari Saumlaki. Desa nelayan. Desa.

Sayangnya, kami tidak sempat ngobrol banyak, situasi dalam bus tidak kondusif untuk ngobrol. Bagaimana bisa kondusif kalau ngomong saja harus berteriak untuk meningkahi suara VCD karaoke yang disetel keras-keras oleh si sopir bus. Jangan tanya sabaraha kencengnya. Ya ampun, sueeeer deh, sampai-sampai saya he-ri (heboh sendiri) sobek-sobek kertas hingga kecil untuk sumpel telinga, dan kemudian ditutup pakai earphone. Jika tidak begitu, gendang telinga saya sakit kena dentuman-dentuman bass lagu-lagu ini. No exaggeration here.

Hmmm, bukan PM namanya jika tidak bisa having fun di segala situasi. Daripada bengong, saya pun asyik menonton layar TV yang menampilkan lirik lagu karaoke yang sedang diputar. Selain mengamati gaya si penyanyi yang bak Sylvester Stallone, saya juga otomatis membaca lirik lagunya. Waaaah kebetulan, bisa belajar bahasa dan dialek lokal nih! :)

Orang Maluku suka menyingkat-nyingkat kata. Contoh: Jang lupa ale su pung cinta deng beta (jangan lupa engkau sudah punya cinta dengan diriku). Hehehe. Oh! Dan jangan sampai lupakan salah satu istilah lokal yang harus diketahui semua pendatang di MTB: “seng”, yang artinya “tidak”. JAda juga “dong”, singkatan dari “dorang” yang artinya―insya Allah―bisa “mereka”, bisa “kalian”.

Setelah khatam menonton VCD karaoke, saya jadi bisa merangkai satu-dua kalimat yang akan saya praktikkan: “Jang kelas 6, Bu... Nanti samua seng mangarti deng beta pung dialek. Bisa-bisa dong sulit menangkap pelajaran, padahal mau ujian akhir to...” Hahaha merancang kalimat ngeles... :p

Perjalanan makin seru dengan munculnya kabar burung dari Pak Nuk―salah satu teman Pak Muis―bahwa akan dibangun BTS Telkomsel di daerah perbatasan Kilmasa-Lumasebu. Katanya, seluruh perlengkapan sudah siap, tinggal dirangkai di tempat dan berdirilah itu menara. Estimasi waktu: 2 minggu, atau selambatnya 1 bulan dari sekarang. WAOW! Yahuuuuuuuu!! :D hehehe meskipun masih kabar burung, namun tentu hati ini spontan bersorak girang. Ya Allah, mohon jadikanlah kabar burung ini kenyataan...

Topik berikutnya adalah menghina-dina life vest oranye ngejreng saya yang memang diletakkan di hadapan Pak Nuk. Para bapak ini tertawa, katanya: kalau saja kita sedang di atas kapal laut, kemudian ada yang bawa pelampung, itu wajar. Lah ini? Naik bus ngapain bawa pelampung??? :D huahahahaha... The silver lining is, Pak Nuk kemudian dengan serta-merta mengumumkan bahwa dia punya perahu motor, dan menawarkan tumpangan pada saya jika ingin ke Larat (mengunjungi Matilda, mungkin) nanti setelah tiupan Angin Timur mereda. Yay! :D

Pak Ang, anggota terakhir dari 3 serangkai bapak-bapak pedagang ini, tak mau kalah dan ikut menceritakan tentang dirinya. Ternyata Pak Ang ini punya semacam kos-kosan di Saumlaki. Apabila kami bertujuh, Tim MTB “Jodoh Bangetz”, hendak berkumpul di Saumlaki dan butuh tempat menginap, bisa coba ke tempat Pak Ang. Waaahh, tentu saya senang dapat banyak kenalan baru begini! :D Saya jadi berpikir, kali berikutnya kami berkumpul di Saumlaki, sepertinya kami tidak bisa lagi “selfish” seperti kemarin, yakni lebih prefer tidur di penginapan daripada bersosialisasi. We would have to mingle and visit people, now that we have so many acquintances in the town. :)

Begitulah...

Semuanya dalam 4 jam perjalanan ini patut disyukuri. Berkenalan dengan (calon) pedagang di desa tetangga, pemilik perahu motor, dan pemilik kos-kosan; kemudian belajar dialek lokal lewat VCD karaoke; hingga mendengar kabar burung rencana pembangunan BTS. Itu pun belum ditambah pemandangan sepanjang perjalanan yang alamak aduhainya, dengan laut biru berkilauan di sebelah kanan dan hijaunya hutan pegunungan di sebelah kiri. Saya pun turun dari bus dengan wajah dan hati berseri-seri, siap memulai lembaran baru dengan gembira.

Everything started great. Alhamdulillah.

Ya Allah, please let this great beginning continue on... :)

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran