Wall of Fame (part 1)
Diah Setiawaty | 19 February 2011

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya memiliki Magic Box yaitu tempat anak-anak menuliskan berbagai perasaan, kritik, saran, dan pertanyaan yang ingin diberikan kepada saya di akhir pelajaran. Banyak tulisan-tulisan yang saya dapatkan yang memberi saya kekuatan dan semangat untuk menjalani hari-hari di tempat ini.

Ya, betapa ingin saya menuliskan bahwa hari-hari saya di sini selalu menyenangkan, tetapi seperti halnya kehidupan, roda tidak selalu ada di atas. Terutama jika anda sendirian di tengah-tengah pedalaman. Sesungguhnya kawan saya bocorkan kepada anda sekarang, bahwa terdapat banyak sekali faktor yang dapat membuat para PM stres,mulai dari kesibukan hingga tidak ada kesibukan, mulai dari segudang tantangan hingga tidak ada tantangan (meskipun tidak ada tantangan merupakan tantangan tersendiri, mulai dari berhadapan dengan berbagai konflik dengan orang lain (masyarakat, rekan guru, murid, orang tua angkat) hingga berkonflik dengan diri anda sendiri. Oleh karena itu saya katakan tugas menjadi PM tidak mudah, sungguh, tetapi kenapa masih saja banyak pemuda-pemudi Indonesia yang ingin menempuh jalan yang, kata teman saya, "aneh" ini? Tentu saja jawabannya berbeda-beda setiap orang.

Setiap calon PM maupun yang menjadi PM pastinya memiliki berbagai alasan mulai dari idealis, pragmatis, realis, sampai surrealis. Bagi saya sendiri, saya selalu ingin hidup saya berguna bagi orang lain, saya ingin menolong, dan saya selalu ingin tinggal dan bekerja di tengah hutan (dekat dengan alam), mengalami berbagai petualangan dan hidup mandiri well, this is my dream, but despite all... betapapun saya sudah bisa dibilang meraih impian saya, dan bukannya saya tidak bersyukur, tapi sebagai manusia tetap saja ada kekurangan yang saya rasakan, lack yang menurut Lacan pasti di rasakan setiap manusia (terutama perempuan). Hari ini saya membuat pengakuan  jujur sebagai manusia yang kebetulan saat ini menjadi PM, bahwa saya tetap tidak dapat tidur karena cemburu ketika mengetahui sahabat baik saya mendapat beasiswa, di jurusan yang saya minati, di Jerman universitas ternama di Jerman! Arrgh!!. Saya tidak dapat menahan perasaan ingin mencakar sahabat saya sambil mengatakan betapa saya ingin menjadi dirinya ketika ia memenangkan perlombaan di Jepang (ok, mulai sadis. Maaf ya Des, ndak serius kok :p). Saya terlebih lagi tidak bisa tidak mendambakan saya tidak ingin melakukan pekerjaan apa-apa setelah masa PM saya habis nantinya selain belajar, bertualang, dan menulis, I really want to be a best-seller-novelist yet a proffesor. Oh dan ini yang paling parah kawan, percaya atau tidak setiap kali sendirian di tengah hutan Kalimantan ini saya sering menonton film romantis-heteronormatif- di laptop (*diah berlutut dan memohon agar tidak dibilang koruptor karena menggunakan peralatan kantor ) saya tidak bisa tidak merasa kesepian dan menangis (I know it sounds so lame and ridiculous) tapi saya tidak bisa tidak menghayalkan pasangan hidup seperti John Mayer!(Aarrgh I  Love you so much John!).

Intinya dari semua celotehan ini  adalah ada beberapa saat dimana ketika stress melanda seringkali saya tidak bisa tidak menghayal dan membayangkan masa depan dan menahan ego saya dari kepanikan dan manic depression untuk segera melompati kuantum waktu dan melesat menuju masa depan! Fuiih, I really sound like desperate housewife, tenang kawan saya belum menikah dan tidak punya keinginan untuk bunuh diri. Saya yakin perasaan ini normal bagi seorang PM (baca:manusia). Mungkin kalau mesin masa depan Doraemon ada maka segala masalah sedemikian dapat dihindari, saya tinggal membuka laci meja belajar masuk ke mesin tersebut tanpa menghabiskan banyak waktu..bruuum.......ngueng...nguengg...nguenngg.....tiba-tiba saya sudah ada di tahun 2012 akhir dan membuktikan apa kiamat itu ada. Tetapi tentu saja itu hanya hayalan semata, tidak ada yang namanya lompatan kuantum waktu.

Saat ini yang ada hanya saya dan ego....

...dan segudang masalah sosial yang harus dihadapi. Maka untuk menahan ego itu dari memberontak lebih liar lagi, saya menciptakan apa yang saya sebut good mood society. Saya mulai memilih, menulis, menciptakan atau memikirkan, atau membuat apapun yang dapat membuat mood saya bagus . Tetapi tulisan ini bukan tentang Good mood society, entah kenapa saya bisa sampai disini? (*diah sedikit melamun dan disorientasi)

Next! kembali ke kisah Magic Box. Beberapa Dari tulisan yang benar-benar berkesan di dalamnya saya abadikan dan saya tempel di dinding kamar saya beralaskan kertas karton khusus berwarna pink lembut. Sejauh ini baru lima anak yang tulisannya saya abadikan dalam wall of fame tetapi Magic Box. Inilah nama-nama mereka dan apa yang mereka tulis..

Yudi

“ Hari ini aku senang karena hri ini ulangan walaupun aku nggak tahu aku senng karena aku suka Bahaa Inggris dan aku juga senang hari ini bisa bercanda dan tertawa”

Alfin

“Aku senang karena Ibu Diah cantik dan gagah Saya bahagia karena ibu Diah tidak marah dan sabar”

Anonim

"Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi saya, saya sangat puas dengan permainan Amazing race"

Irma

"Saya sayang kepada ibu

dulu saya tidak sayang kepada Ibu"

Badaruddin-Army

"Ibu saya senang hari ini karena mau mengelilingi di Eropa. Selamat jumpa Ibu................!"

Ya itulah t.ulisan-tulisan yang masuk ke dalam wall of fame, di kertas karton shocking pink, di dinding kamar saya.

Kesemuanya tidak hanya karena saya menyukai isi tulisannya tapi juga cerita di balik tulisan-tulisan itu..

(to be continued)
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran