The Majestic Moment
Diah Setiawaty | 17 December 2010

Malam ini saya mendapatkan kabar dari salah seorang sahabat bahwa salah satu teman baik saya semasa di SMA dan universitas melahirkan seorang anak laki-laki. Tentu saja saya senang mendengarnya. Saya menipkan salam dan ucapan selamat lewat sahabat saya seraya mendoakan dalam hati agar anak tersebut dapat menjadi anak yang baik, anak yang mampu membanggakan dan membahagiakan dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya terutama orang tuanya.

Entah bagaimana saya menjadi teringat ketika seorang asing yang baru saya kenal dalam sebuah konsultasi bisnis berkata kepada saya mengenai rejeki yang dia cari dan dia dapatkan. Ia mengatakan

“ Apapun yang saya perbuat saat ini semata-mata untuk anak saya, walaupun saya belum menikah saat ini.” Jelasnya.

Saat itu saya sangat tersentuh mendengar pernyataannya.

Pernah juga suatu kali saya menyaksikan perjuangan seorang Ibu (yang juga merupakan teman baik saya) ketika melahirkan dan membesarkan anaknya. Pengalaman itu benar-benar sebuah pengalaman yang sangat berharga. Malamnya kami baru saja membicarakan tentang majestic moment yang sangat ingin kami saksikan setelah menyaksikan sebuah film. Ketika ada pertanyaan apakah majestic moment yang ingin anda saksikan jika anda dapat mewujudkan segala keinginan anda di dunia? Saya pun menjawab

“Melihat aurora di Kutub Utara”

Ya...sebuah konser cahaya yang sangat indah walau harus di bayar dengan dinginnya suhu yang bahkan dapat membunuh seorang manusia. Pada saat itu keinginan teman saya cukup sederhana, di usia kandungannya yang tinggal menunggu masa-masa kelahiran, dia hanya ingin melihat bayinya lahir dengan sehat dan selamat. Keesokan harinya ketika teman saya memeriksakan kandungannya di rumah sakit, tahulah ia bahwa waktu kelahiran tinggal menunggu hitungan jam. Sekitar dini hari keesokan harinya lahirlah seorang bayi yang sehat dan cantik. Detik itu kami menyadari bahwa saya sedang menyaksikan majestic moment yang tiada terkira. Menyaksikan bagaimana perjuangan teman saya yang hampir meregang nyawa pantaslah surga ada di telapak kaki Ibu. Terutama bagi Ibu yang berbakti kepada anaknya dan tidak hanya menuntut bakti dari anaknya. Apalagi Ibu yang durhaka kepada anak dengan mentelantarkan, menyiksa, dan mengabaikan anaknya. Atau lebih parah lagi Ibu yang membunuh anaknya sendiri setelah ia melahirkannya.

Jujur ketika mendengar tentang kelahiran yang terjadi pada malam hari ini (15 Desember 2010) saya sempat termenung dan memikirkan  “Kira-kira kapan ya giliran saya?” wong calon saja belum ada. Tetapi tidak berarti saya tidak pernah memikirkan kemungkinan menjadi seorang Ibu. Saya bahkan seringkali memikirkan tentang bagaimana kelangsungan hidup anak saya kelak

I’m a only human with an unborn child...

Itu adalah salah satu lirik lagu Anggun yang berjudul Eden in Her Eyes. Lagu ini sering kali terngiang dan lirik ini benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Karena erkadang saya pun kerap kali berangan-angan dan memikirkan bagaimana cara memberikan yang terbaik untuk anak saya nantinya. Memformulasikan bagaimana memberikan pendidikan terbaik untuk anak saya nantinya. Bagaimana mengukir masa kecilnya agar ia tumbuh menjadi anak yang sehat tanpa gangguan psikologis apapun karena suatu hal yang pernah saya perbuat atau proses apapun yang saya teruskan melalui dirinya. Bagaimana membuatnya berbicara tanpa menekannya. Bagaimana memaksimalkan potensi terbesarnya agar ia dapat meraih segala apa yang ia cita-citakan. Bagaimana mengeluarkan segala yang baik dalam dirinya dengan menunjukkan segala nilai-nilai baik yang pernah ia miliki. Saya benar-benar ingin belajar mencintai dengan tulus. Mencintai dengan syarat apapun....

Ini mengingatkan saya pada Syair Kahlil Gibran yang berjudul Anakmu Bukan Anakmu

Anakmu bukan anakmu

Mereka putra putri kehidupan yang rindu akan diri mereka sendiri

Mereka datang melalui engkau tetapi bukan dari engkau

Dan walau mereka ada bersamamu tetapi mereka bukan kepunyaanmu

Engkau dapat memberi mereka cinta kasihmu

Tetapi tidak pikiranmu sebab mereka memiliki pikirannya sendiri

Kau bisa merumahkan rumahnya tetapi tidak jiwanya

Sebab jiwa mereka bermukim dalam rumah masa depan yang tidak dapat kau sambangi

Bahkan tidak dalam impian-impian mu

Engkau dapat berusaha menjadi seumpama mereka

Tetapi jangan membuat mereka seperti dirimu

Sebab kehidupan tiada surut ke belakang pun tiada sama seperti hari kemarin

Engkaulah busur

Dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Pendidikan, baik dari orang tua maupun guru, adalah salah satu aspek terpenting bagi perkembangan mental dan intelektual seorang anak. Begitu pentingnya masalah pendidikan ini sampai-sampai banyak dari sahabat saya yang berencana membuat kurikulum pendidikan sendiri sejak anaknya lahir sampai remaja. Ada pula yang memikirkan metode pendidikannya. Ada yang ingin mendidiknya setiap hari dengan membawanya bekerja ketika nantinya ia menjadi pembicara atau mengisi kuliah sehingga anak tersebut menjadi tidak hanya anak biologis tetapi juga anak ideologis. Saya bahkan membaca buku-buku bagaimana mendidik anak sejak dalam kandungan.

Sampai di poin ini  tiba-tiba saya sampai kepada kesadaran yang menghenyakkan bahwa sebetulnya saya sudah memiliki anak. Tidak hanya satu tetapi banyak anak! Jumlahnya mencapai ratusan orang. Ya anak-anak di pedalaman Kalimantan yang di titipkan kepada saya untuk saya didik dengan sebaik-baiknya agar suatu hari mereka dapat melesat sejauh-jauhnya seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Pengalaman ini adalah salah satu pengalaman yang saya kategorikan sebagai Majestic Moment dalam hidup saya. Pengalaman di mana saya banyak belajar dan  juga mengajar. Saya berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan dan kehormatan ini seraya memohon dan berdo’a agar kelak di  masa depan mereka dapat manusia seutuhnya dan dapat meraih segala yang mereka inginkan dan mereka cita-citakan. Aaaamiiiin.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran