Perkenalan Pulau Rantau: Another Tragic Comedy (Part II-End)
Diah Setiawaty | 01 January 2011

Cerita ini adalah kisah saya ketika mengunjungi sebuah pulau di seberang desa tempat tinggal saya, Pulau Rantau. Pulau rantau ini terletak di pinggir sungai besar Kandilo.  Rumah-rumah di pinggir Sungai ini rawan sekali lenyap tenggelam, terutama ketika sungai sedang pasang seperti sekarang. Rumah yang dibangun sangat tinggi di tepian sungai hingga pada waktu-waktu biasanya kita harus memanjat untuk sampai ke dermaga atau tepian rumah tersebut setelah turun dari perahu. Kini di masa air pasang kita hanya tinggal melompat ke dermaga. Sesampainya di sana kami langsung menuju ke rumah ketua RT yang letaknya persis di depan dermaga kecil tempat perahu-perahu kecil tersebut bersandar. Yang saya maksud dermaga adalah sususan bambu menyerupai anak tangga menuju sebuah jembatan yang terbuat dari papan yang menghubungkan bagian kanan dan kiri pulau Rantau. Ibu RT menyambut kami dengan sumringah ketika kami menyampaikan  bahwa tujuan kami kesana adalah untuk meminta ijin untuk memberikan les di sana. Beliau sangat menyambut gagasan ini, Ia bercerita terkadang memang sulit untuk mengantar anak-anak menyebrang untuk sekolah karena perahunya di gunakan ayahnya untuk sekolah. Ia pun bercerita bahwa disini tidak ada mata pencaharian untuk memancing di sungai ini pun sulit, terkadang setengah jam pun menunggu tidak akan ada apa-apa. Sehingga mata pencahariannya hanya mencari dan menjual kayu-kayu.

Ketika sedang bercengkrama dengan Ibu RT saya tertegun melihat seorang anak duduk disamping Ibu RT Mungkin usianya sekitar enam sampai tujuh tahun menatap kami dengan penasaran. Ia menggunakan kaos singlet lusuh dan celana pendek hitam, tubuhnya sangat kurus tetapi perhatian saja terkagum-kagum pada otot lengannya. Untuk anak sekecil itu ia memiliki otot bisep dan trisep yang kekar dan kencang. Ketika Bu RT mendapati saya memperhatikan anak itu Ia pun berkata “Di sini anak-anak kecil saja  terkadang sudah bisa membawa perahu mesin ke menyebrang Bu”.  Saya pun mengerti dari mana anak itu mendapatkan otot-ototnya. Saya bahkan lebih terkejut lagi ketika mengetahui ternyata anak itu bukan anak laki-laki melainkan anak perempuan bernama Annisa. Sungguh tidak ada suatu apapun yang dapat mencirikan keperempuanan dari anak itu selain potongan rambut anak itu yang sedikit agak panjang dari anak laki-laki lainnya.

Singkat cerita kami pun pamit dari rumah Ibu RT untuk mengetahui kehidupan anak Pulau Rantau yang sebenarnya, Kami menyebrang untuk masuk lebih pelosok lagi. Saat itu saya menggunakan sepatu kets dan kaos dan celana training karena berniat setelah ekspedisi ini saya akan jogging dari rumah Zaki menuju rumah saya yang jaraknya kurang lebih sekitar 4 km. Tetapi penduduk setempat langsung mengatakan tidak bisa menggunakan sepatu Bu. Sudah ada jalan tetapi becek sekali. Akhirnya saya pun dipinjamkan sendal untuk perjalanan menuju ke sana. Begitu melihat medannya tahulah saya kenapa sepatu tidak memungkinkan untuk dipakai, jalan menuju ke pemukiman penduduk adalah kubangan air setinggi betis. Yang disebut jalan pun bukan jalan aspal seperti yang saya pikirkan, melainkan sebuah jalan yang dibuka dari menebasi alang-alang setinggi manusia dengan parang. Dengan medan seperti itu bahkan sandal pun bukan solusi. Baru dua menit berjalan sandal teman saya Zaki putus karena kubangan itu juga licin dan berlumpur. Karena peristiwa itu tempat yang agak kering saya memutuskan untuk membuka sandal saya, selain lebih efektif, saya ingin lebih menyelami kehidupan anak-anak di daerah ini. Baru satu langkah membuka sandal kaki saya langsung disambut oleh tanaman berduri. Hanya sela satu langkah! Saya meneguhkan hatiu untuk melangkah. Dari satu rumah menuju salah satu rumah penduduk kami harus melompati sekitar lima batang pohon-pohon besar yang sudah mati yang tergenang di kubangan air. Lompatan itu pun bukan lompatan biasa melainkan lompatan-lompatan besar.

Tiba di rumah penduduk terdekat Seorang nenek menyambut kami dengan senyum terkembang dan cangklong di tangannya. Ternyata benar itu salah satu murid Zaki, kakak beradik Ardian dan Adrian yang dengan usia sekecil itu sudah bisa mengendarai perahu mesin. Kalau tadi kaki telanjang saya disambut dengan tanaman duri, kali ini kaki Zaki segera disambut dengan kotoran Ayam begitu ia menginjakkan kaki di teras rumah. Sang tuan rumahpun  berkata,

“Cuci saja Bu disana na..”

Ternyata yang dimaksud tempat cuci kaki adalah kubangan air bercampur lumpur dan sampah-sampah. Rasanya seperti membersihkan najis dengan najis baru. Ditempat itu lah air mata saya menetes. Mendengarkan penuturan dari tuan rumah betapa anak-anaknya ingin les di tempat Zaki tetapi tidak ada perahu untuk mengantarkan. Betapa banyak anak-anak disini yang akhirnya putus sekolah karena tidak ada akses menuju sekolah. Saya kaget, bahkan ada anak yang seharusnya kelas enam akhirnya putus sekolah.

Ya Gusti....

Saya ingin segera mengajar saat itu juga. Saya ingin sekali memperkenalkan dunia di luar sana, mimpi-mimpi yang bisa diwujudkan. Mengajarkan berbagai ilmu yang menguak berbagai misteri kehidupan.

Walau saya tahu bahwa sayalah yang sedang belajar banyak dari mereka. Saya yang mencuri berbagai ilmu mereka. Saya yang sedang menguak berbagai misteri kehidupan di tempat terpencil ini....

Saat itu saya melakukan flash back kehidupan saya. Alasan saya belajar bukanlah menjadi kaya. Bukan semata-mata ingin memperbaiki ekonomi keluarga meskipun keluarga saya bukan keluarga berada. Seingat saya sejak saya masih sangat kecil,

Saya yang hidup di ibu kota negara hanya punya satu cita-cita. Menolong orang lain. Selain karena fakta bahwa sangat banyak yang menolong saya dari kecil hingga dewasa terutama dalam hal pendidikan. Tetapi juga karena saya tahu di luar sana lebih banyak lagi yang membutuhkan pertolongan. Tentu sangat naif dan munafik kalau saya bilang saya tidak punya keinginan memperbaiki ekonomi, memiliki kehidupan yang layak dan berkecukupan bahkan lebih. Tetapi toh semua itu juga saya inginkan agar dapat membawa manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Mereka yang membutuhkan. Karena itu pun setiap kali saya memasuki zona nyaman ataupun zona kritis saya selalu berpikir

There must be more to life than this....

Dan hari ini saya berdiri di sini, sangat jauh dari ibu kota, mewujudkan mimpi-mimpi yang saya miliki dari kecil. Impian untuk melakukan sesuatu, menolong orang lain seraya menolong diri saya sendiri. Walaupun saya meragukan kualitas dan kuantitas bantuan yang saya berikan, saya hanya berharap dan berdoa agar niat baik dan bantuan kecil yang saya berikan tidak di salah artikan dan tidak sia-sia. Bukan sia-sia karena saya mengharapkan imbalan, bukan sama sekali. Tetapi sia-sia dalam arti tidak berdampak apa-apa dalam kehidupan mereka. Cukuplah bagi saya jika mereka dapat menolong diri mereka sendiri.

Beberapa murid zaki mendengarkan penuturan kami kepada tuan rumah tentang maksud kedatangan kami. Mereka

pun terlihat antusias. Binar di mata mereka dan senyuman kecil mereka seolah-olah mengatakan.

“Cepat-cepatlah dimulai! Kami ingin segera belajar.”

Di luar rumah yang berhalaman sungai ini saya melihat salah seorang anak mencuci muka karena panas. Ia terlihat sangat menikmati, bagaikan mendapat minuman di tengah dahaga. Saya bergidik, teringat gatal-gatal yang saya alami karena alergi air yang disinyalir karena air sungai Kandilo yang kami gunakan sehari-hari sudah tercemar oleh limbah tambang dan pestisida perkebunan sawit. Anak-anak ini dengan casual menggunakan air ini seperti orang-orang Swiss meminum air dari keran-keran umum di pinggir jalan. Swiss logis karena pipa-pipa ledeng serta kualitas airnya terkenal terbaik di seluruh dunia. Tetapi Kandilo???

Ketika berpamitan pulang saya mengalami kembali sebuah komedi tragis, sesuatu yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup saya. Saya sedang mencuci kaki di dermaga ketika tiba-tiba paku-paku dari papan yang saya duduki lepas dan...

Krek! Byur!!!

Dalam waktu sepersekian detik,saya amblas, menghilang tertelan sungai Kandilo... saya sempat melihat sedikit cahaya sebelum akhirnya gelap... anehnya saat itu tidak ada ketakutan sama sekali, hanya geli di dalam hati.

Nothing really coinsidence, everything is a sequence.

Tiga orang pria dengan spontan menceburkan diri ke air untuk menolong saya. Selain fakta terdapat buaya di sungai itu, ditambah debit air yang sedang pasang sehingga kedalaman bisa mencapai 10 m dengan arus sungai yang agak deras dan sedikit berombak. Mereka juga takut saya tidak dapat berenang dan tenggelam.

Sementara itu di bawah sana saya pikir sungai ini dangkal, tetapi ketika saya berusaha untuk naik ke permukaan rasanya memang agak lama. Sempat terteguk air sungai yang coklat kental itu karena ketidak siapan saya untuk berenang. Tetapi karena saya biasa berenang maka saya tidak panik. Di bawah sana saya melemaskan otot-otot dan berenang ke atas. Sampai saya rasakan beberapa tangan merengkuh saya dan dengan cepat menarik dan membopong saya ke atas. Saya bahkan belum merasa berenang! Hal pertama yang saya lakukan ketika sampai di atas adalah tertawa terbahak-bahak. Bagi saya saat itu pengalaman tersebut sangat lucu. Warga yang tadinya panik pun tertawa bersama saya. Beberapa berkata

“ Ibu jangan kapok ya kesini lagi”

Saya tertawa dan berkata

“Iya saya pasti kembali lagi”

Setelah beberapa hari baru tahulah saya bahwa ada beberapa guru yang berhenti mengajar karena takut dan pernah mengalami hal serupa.  Saat itu Ibu Kades dengan murah hati segera meminjamkan saya dua potong pakaian kering karena jelas saya sudah basah kuyup.

“Saya tidak bisa melihat kamu ketika menolong tadi, sungguh tidak terlihat apa-apa, saya hanya merengkuh-rengkuh”

Kata Pak Yusri seraya tersenyum. Setelah itu barulah saya tahu kejadian ini bukan hanya dagelan semata, kejadian yang baru saya alami merupakan peristiwa serius yang dapat berakibat fatal. Dengan kata lain, saya sungguh beruntung bisa selamat, tertawa-tawa, dan menuliskan kejadian yang menurut sahabat saya merupakan: another kejadian dodol akibat kedodolan saya. (Apapun itu maksudnya)

Perasaan aneh bercampur, teringat keinginan untuk berenang yang tertahan oleh logika bahwa sungai ini sudah tercemar dan saya takut terjangkit gatal-gatal. Ternyata Kandilo menyambut dan mengetahui keinginan saya berenang, ia pun menjamu saya dengan airnya. Orang Kalimantan berkata ketika saya baru datang ke tempat ini “Kalau sudah pernah minum air sungai Kandilo, pasti akan kembali kesini, tidak akan bisa pulang”. Saya tertawa sendiri kalau ingat saya sudah pernah minum, literally, air sungai Kandilo. Benar-benar air Kandilo langsung tanpa dimasak. Ingatan saya kembali kepada air keran di Swiss dan minum secara casual.

Usai kejadian setelah saya utarakan keinginan saya dan perasaan saya ketika beradai di sungai itu. Beberapa orang, termasuk Ibu angkat saya, berkata  hati-hati di sungai ini, jangan berkata sembarangan walaupun hanya dalam hati.... Ayah angkat saya bahkan berkata bahwa ia punya perasaan bahwa saya akan jatuh begitu mendengar saya akan pergi ke Pulau Rantau. Kalau mau ditarik lebih jauh bahkan fasilitator kabupaten saya saat itu tidak mengijinkan saya tinggal di seberang sungai tuak dengan alasan saya bisa jatuh dari perahu kecil itu. Ia terlihat tidak percaya dengan kemampuan saya terlebih lagi melihat bobot saya yang sedikit di atas rata-rata. Dahulu saya sempat merasa tersinggung. Tetapi sekarang....

Yes dear, everything happen for a reason...moreover everything really is a sequence.

Terima kasih Kandilo atas sambutannya yang  begitu ramah. Walaupun saya tidak habis pikir tentang my weird kalau tidak bisa dibilang bad....relationship dengan elemen kayu. Saya pulang dengan perasaan penuh. Perasaan diterima oleh sungai Kandilo, oleh masyarakat Pulau Rantau yang tiba-tiba langsung mengenal saya dan menerima saya dengan akrab, terlebih lagi oleh anak-anak yang menantikan kehadiran kami dengan antusias.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran