Jogging 18 Km
Diah Setiawaty | 17 December 2010

Tanggal 12 bulan 12 lalu adalah hari yang bersejarah bagi saya dan  beberapa murid-murid saya. Setelah beberapa kali saya melakukan jogging sejauh kurang lebih 6 km beberapa murid yang rumahnya saya lintasi ternyata penasaran dengan kegiatan saya tersebut. Awalnya beberapa anak ada yang menegur saya sambil bercanda “Lari terus Bu, sampai Jakarta.” Saya hanya tersenyum, beberapa Ibu-ibu juga menyapa dengan tersenyum lebar seraya menegur “Begini nih kerjaan orang Jakarta”. Saya pun menjawab “Tetapi kerjaan di rumah sudah selesai Bu” Sambil tertawa dan terus berlari.

Akhirnya dua hari lalu berapa murid kelas 2 SMP yang ikut les Bahasa Inggris mengatakan ingin ikut berjogging bersama saya. Pada awalnya kami menempuh jarak dekat-dekat saja, enam sampai delapan km tergantung jarak rumah mereka. Tetapi hari ini, minggu 12 Desember 2010 kami berjanji untuk bangun pagi-pagi sekali dan jogging dari Desa Rantau Panjang sampai  ke Tanah Grogot yang jalannya sekitar 8km dari rumah saya, bolak-balik berarti sekitar 18km.

Lucunya seperti adegan dalam film Forrest Gump, pengikut saya semakin banyak, ada beberapa murid laki-laki yang juga ikut. Bahkan ada murid  kelas 3 SD yang juga ikut berlari dengan semangat. Tidak ada sekalipun kegentaran di wajahnya mendengar bahwa kita akan berlari begitu jauhnya.  Saya mulai berangkat pukul enam pagi, menjemput anak-anak murid saya sepanjang jalan, begitu beberapa anak yang sedang bermain di depan rumah melihat, mereka segera berlari mengikuti kami. Pada akhirnya kami tidak hanya berlari dan berjalan sampai ke Tanah Grogot tetapi sampai Siring, Pinggir Sungai Tuak. Jarak yang saya tempuh bolak-balik mencapai 18 km. Sebuah prestasi bagi saya dan murid-murid saya. Sepanjang perjalanan saya bercengkrama dengan murid-murid saya.

“Ibu kalau disana mencuci pakai mesin cucikah Bu?” tanya salah seorang dari mereka

“Iya” Jawab saya

“Kalau disini mencuci dengan tangan kah?”

“Iya” jawab saya lagi sampai tersenyum

“kasihannya Ibu, memang begini lah desa kami Bu. Penduduknya miskin-miskin pula. Rumah Ibu beton kah disana?” saya kembali tertegun dengan rasa simpati mereka. Segalanya menjadi paradoks, mereka yang bersimpati terhadap saya bukan sebaliknya

“Iya, tapi Ibu mau punya rumah dari kayu seperti di sini” jawab saya

“Saya ndak mau punya rumah beton Bu, saya ingin punya rumah kayu saja.” Ujarnya lagi.

Saya mengerti dan saya senang mereka tidak merasa iri bahkan merasa bangga dengan rumah dari papan kayu milik mereka.

“Ibu, berapakah biayanya dari sini ke Jakarta?” tanya mereka lagi

“Kenapa? Kamu mau membiayai Ibu pulang kah?”

“Ndak Bu saya mau tahu saja, mungkin kalau ada rejeki saya bisa ke sana.”

“Kamu pasti bisa ke Jakarta kalau pintar belajarnya, nanti masuk saja ke Universitas Indonesia. Di sana kamu bisa puas belajar di Jakarta selama empat tahun , setelah itu bahkan bisa keliling dunia.”

Mereka tertegun sejenak mendengar penuturan kami, seraya kami melewati padang rumput yang terik. Matahari sudah semakin naik sedangkan perjalanan kami masih jauh. Beberapa murid bahkan ada yang sudah duduk-duduk di tengah jalan, mengingat panjangnya jalan yang kami tempuh dan jarangnya mobil atau motor yang lewat. Sesekali saya memberi komando kepada mereka untuk berjalan satu baris jika ada motor atau mobil yang melintas. Mereka yang tadinya tersebar di sepanjang jalan secara acak segera membentuk satu barisan yang rapih di sebelah kiri jalan. Saya memang selalu menekankan kalau berjalan harus di sebelah kiri. Maklum beberapa kecelakaan sering terjadi di Rantau Panjang karena banyak orang tidak paham rambu-rambu dan aturan berkendaraan. Di jalan yang seperti jalan tol yang begitu lurus dan panjang itu (Karena itu disebut Rantau Panjang) pengendara motor seenaknya berjalan di sisi kanan jalan, semata-mata karena mereka tidak tahu kalau mereka seharusnya berjalan di sebelah kiri. Akibatnya setelah belokan terkadang terjadi kecelakaan. Saya sendiri pernah mengalami ketika pulang dari pasar dengan Ibu angkat saya. Seorang pelajar dengan sepeda motornya hampir menabrak kami, dia bahkan tidak mengerti kenapa kami membunyikan klakson padahal jalan di sebelah kanan masih luas. Padahal seharusnya ia mengambil bahu jalan sebelah kiri.

Kembali ke perjalanan saya, setelah empat setengah jam berlari dan berjalan. Dengan hanya beberapa kali singgah di warung,jembatan dan di tepi sungai untuk membeli minum atau sekedar  duduk-duduk melepas lelah akhirnya kami sampai di tempat tujuan.Murid-murid saya pun hilang satu persatu masuk ke dalam rumah masing-masing yang letaknya benar-benar di tepi jalan. Walau begitu lelahnya mereka masih berharap minggu depan kami melakukan ekspedisi lagi. Kami pun berencana untuk jogging dan bersepeda ke daerah transmigrasi yang jaraknya lebih dekat dari perjalanan kami tadi. Beberapa dari mereka bahkan meminta ikut dengan saya jogging dua hari sekali (jarak dekat). Saya bahagia, terlebih melihat murid saya yang umurnya bahkan belum sampai sepuluh tahun, Dian, bisa berlari dan berjalan begitu jauhnya. Sesampainya di rumah saya takut ia kelelahan, tetapi ia malah dengan tersenyum dan tertawa-tawa langsung menceburkan diri ke sungai sebelah rumahnya.

Hari selasa ketika saya joging sore beberapa pengikut saya pun datang, kali ini bermunculan wajah-wajah baru. Kami berjoging sepanjang kurang lebih 10 km. Walaupun beberapa mengeluh sakit, Dian bahkan katanya hari senin tidak masuk sekolah karena kakinya sakit, ketika selasa sore saya temui di jalan dan menanyakan apakah Ia masih sakit? Apakah masih di bolehkan berlari oleh orang tuanya, ia pun berkata

“Sudah tidak sakit Bu, orang tua saya malah senang dan menginginkan saya berlari lagi”

Ini pun menjadi pelajaran bagi saya untuk tidak langsung membawa murid saya yang baru berlari untuk berlari jauh, kecuali yang sudah biasa berlari maraton sore bersama saya. Rencananya saya akan rutin mengadakan lari sore dan lari setiap minggu mengingat antusiasme murid-murid dan sambutan dari orang tua murid. Beberapa murid-murid bahkan dimotivasi oleh orang tuanya untuk lari agar orang tuanya dapat menitip berbelanja di Pasar Senaken, pasar terdekat dari desa kami yang jaraknya sekitar 8 km dari rumah saya.

Saya percaya mungkin salah satu dari murid saya di masa depan bisa menjadi atlet yang mengharumkan nama Indonesia ( Aaamiin.. )yang jelas saya akan senantiasa mendorong dan memotivasi mereka untuk melakukan beragam kegiatan yang membangun dan memaksimalkan potensi mereka mengingat kekuatan mereka yang luar biasa, kecerdasan mereka, dan terutama semangat mereka.

Saya juga bercerita kepada murid-murid bahwa motivasi saya berlari salah-satunya adalah karena saya ingin  mengharumkan nama Indonesia mendaki Mount Everest, gunung tertinggi di dunia, pada 7th Summit tahun 2012. Sebuah perhelatan Internasional yang tujuannya untuk mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia. Sejauh ini sudah tiga puncak yang berhasil di daki selama penyelenggaran even ini, diantaranya......cari di internet.

Saya pun baru mengetahui hal ini di dalam training camp Pengajar Muda ketika kami dikunjungi oleh Abah Iwan dan Wanadri. Sebuah momen yang betul-betul menginspirasi dan memotivasi karena saya bertemu dengan seorang Indonesia yang betul-betul pernah mendaki Mount Everest. Saya juga bertemu dengan orang-orang dari Garda Depan Indonesia. Mereka yang mengunjungi pulau-pulau terluar di Indonesia dan memberi tonggak-tonggak berukir kordinat batas terluar Indonesia beserta sebuah pesan untuk senantiasa menjaga Indonesia. Hal ini tentunya adalah sebuah upaya nyata agar tidak lagi terjadi kasus-kasus sengketa batas negara dan sengketa pulau seperti yang pernah terjadi di Ambalat. Hebatnya lagi melalui tiga tahun ekspedisi menggunakan kapal laut, mereka berhasil mengunjungi dan menandai seluruh pulau terluar di Indonesia seraya membawa patung Soekarno yang berwarna merah dan Hatta yang berwarna putih dan mengambil foto mereka di setiap tempat. Mereka membawa pesan bahwa proklamator Indonesia masih ada dan senantiasa menjaga batas-batas terluar Indonesia. Betapa mengharukan dan menginspirasi apa yang mereka perbuat.

“Untuk itudiperlukan paru-paru yang kuat dan salah satu caranya adalah dengan lari maraton setiap hari yang jaraknya seperti dari sini (baca: SD Kami yang terletak di ujung desa sampai ke Tanah Grogot” lanjut saya menerangkan kepada mereka di sela-sela pelajaran les Bahasa Inggris kepada anak-anak kelas 2 SMP.

Mereka ternganga sambil matanya menerawang ketika mendengar penuturan saya.

“Mahalkah biayanya Ibu?”

“Ibu tidak tahu, tetapi selama ada kemauan pasti ada jalan yang penting kita selalu berusaha dan berdo’a.”

Walaupun tergolong ambisi besar dan saya tidak pernah tahu apakah saya dapat melakukannya, tetapi saya tetap memelihara mimpi tersebut sambil berharap beberapa anak dapat termotivasi dan semakin bersemangat berlari.

Pengalaman berlari bersama mereka terutama ketika menempuh jarak yang sangat jauh, tertimpa panas terik matahari di sepanjang padang rumput, di mana fatamorgana dan tingkah laku buas manusia mulai muncul membawa kedekatan tertentu di antara saya dan murid-murid yang mungkin tidak bisa di rasakan semua guru. Saya bersyukur atas hal itu. Saya akan terus berlari bersama mereka dan saya benar-benar berharap saya dapat memotivasi mereka untuk berlari lebih jauh lagi dalam jalan panjang kehidupan. Mencapai yang terbaik dalam segala yang mereka lakukan.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran