Cintaku Kepada Guru
Diah Setiawaty | 25 November 2010

Cintaku kepada Ibu lebih besar dari uang saku ku”



Kalimat ini terletak dalam surat ucapan terima kasih yang dibuat anak-anak kepada guru-gurunya dalam rangka hari guru. Sekilas kata-kata ini terdengar menggelikan, “Berapa sih uang saku anak-anak? Begitu murahnya kah cinta mereka kepada gurunya? Jika anda berpikir seperti itu sebelumnya  coba pikirkan dan cermati sekali lagi. Apakah ada kebutuhan yang sangat besar di mata anak-anak selain uang saku dan jam bermain mereka? Terlebih lagi ketika ekonomi keluarga begitu sulit sehingga uang saku mereka begitu kecilnya sehinggas hanya cukup untuk membeli es lilin dan makanan kecil seharga kurang dari seribu rupiah. Apakah yang lebih berharga di mata anak-anak ketika mereka tinggal di pedalaman Kalimantan yang beriklim tropis yang ketika udara panasnya begitu menyengat sehingga dapat membuat keringat terus menerus  meleleh dari sekujur tubuh. Banyak orang Kalimantan yang memakai bedak dingin di wajah pada siang hari untuk mengurangi panas yang menyengat sehingga wajah mereka tampak seperti mengenakan masker putih kekuningan. Tetapi tidak anak-anak itu, mereka harus belajar di ruang-ruang kelas yang tidak berpedingin udara. Jangankan Air Conditioner seperti yang terdapat di ruang kelas sekolah-sekolah di kota-kota besar, untuk kipas angin pun mereka tidak dapat merasakannya karena di sekolah tidak ada listrik.

Sekolah adalah perjuangan.  Banyak dari mereka yang harus menyebrang sungai terlebih dahulu untuk ke sekolah.  Terkadang mereka juga menempuh panas dan hujan di sampan kecil yang tidak beratap untuk pergi dan pulang sekolah. Terkadang mereka tidak beralas kaki atau hanya menggunakan sendal jepit usang. Maka buku dan uang saku adalah kemewahan bagi mereka. Mereka tidak memiliki buku dan sehari-harinya harus mengandalkan meminjam buku di perpustakaan, yang itu pun tidak bisa di bawa pulang karena sekolah takut bukunya hilang atau rusak, mengingat medan yang mereka tempuh setiap harinya dan keterbatasan buku di sekolah. Uang saku mereka yang kecil jumlahnya itu, pada akhirnya benar-benar mereka manfaatkan untuk membasahi kerongkongan dan untuk mengganjal perut seadanya.

Akhirnya terlihat bahwa sebesar itulah cinta mereka kepada gurunya.Besar menurut mereka.  Cinta yang sederhana tetapi penuh dengan keikhlasan, karena memang tidak banyak yang berharga dan bisa diberi oleh mereka.

“Hari ini adalah hari Ibu Guru”

Tulis salah seorang anak dalam puisi yang dibuatnya dalam hari guru. Sungguh saya terharu membacanya. Ingin saya katakan kepada mereka,

“Hari ini hari milikmu, juga esok masih terbentang...wahai anakku. “

Di hari yang spesial bagi para pahlawan tanpa tanda jasa ini saya menggagas anak-anak kelas VI menyanyikan lagu Terima kasih Guruku. Sedangkan anak-anak kelas empat dan lima membuat puisi berantai dan surat untuk gurunya yang bertema hari guru. Isi suratnya begitu mengharukan, sebagian menulis surat yang panjang yang mengungkapkan betapa mereka berterima kasih terhadap para guru dan betapa bangga mereka memiliki guru-guru ini sebagai guru mereka. Ada juga yang bernada mengkritik untuk menggugah semangat gurunya agar tidak malas mengajar dan mengurangi waktu mengobrol di ruang guru dengan bahasa yang sederhana tetapi menohok.



“Bapak dan Ibu Guru

Jangan males ngajarin anak muridnya ya...”

Selamat Hari Guru



Di hari yang berbahagia ini sayangnya saya juga menyaksikan ironi, bahwa ketika murid-murid menuliskan dengan tulus penghargaan mereka berupa sajak-sajak berantai, salah seorang guru muda masih mengeluhkan tulisan mereka yang seperti cakar ayam dan bagaimana ia kewalahan ingin mengajar anak-anak ini tulisan yang bagus. Saya membatin dalam hati, tulisan saya pun tidak bagus sampai sekarang. Dihadapannya saya mencoba menjelaskan bahwa itu karena motorik mereka masih lemah dan mereka butuh lebih banyak latihan.

Sejujurnya  saya tidak kuat melihat hal-hal seperti ini, batin saya menangis. Menyaksikan bahwa terkadang  kita luput melihat gajah di depan mata tetapi semut di pelupuk mata terlihat. Betapa beberapa guru-guru kita miskin akan pujian dan penghargaan sehingga tidak bisa melihat ketulusan anak-anak tersebut merangkai kata demi kata untuk menjadi sebuah puisi, yang saya akui tidak mudah. Setiap anak mendapat satu huruf dan ia harus membuat satu kalimat puisi yang diawali dengan huruf tersebut. Ini menjadi sebuah evaluasi bagi kita bersama. Saya bahkan tidak yakin guru muda itu benar-benar membaca bait-bait syair yang dirangkai susah payah

Begitu pula ketika murid kelas VI ingin memberikan penghargaan berupa nyanyian Terima kasih Guru. Saya melihat ada guru senior yang berusaha menertibkan barisan mereka dengan suara keras dan bentakan. Sekali lagi saya terpukul.

Kondisinya guru tersebut tidak mengetahui bahwa anak-anak bukannya tidak rapih tetapi mereka sudah membuat formasi berdiri seperti itu. Saya mengerti bahwa tujuannya guru tersebut ingin mendisiplinkan mereka, tetapi sangat tidak sesuai konteks dan sikonnya.Apa lagi cara mendisiplinkan murid dengan bentakan dan hukuman tidak lagi sesuai diterapkan untuk anak-anak.

Tidak lagi...

Tidak terhadap mereka yang sesungguhnya cerdas dan ikhlas.

Tidak terhadap mereka yang sudah latihan disela-sela waktu kosong. Menghabiskan waktu bermain mereka.

Tidak ketika mereka ingin memberikan persembahan yang didorong oleh keikhlasan, kerelaan, kesukaan, keriangan, dan kreativitas dan paling penting kecintaan terhadap guru-gurunya.

Saya berusaha membesarkan hati mereka dengan tetap tersenyum ceria.

Saya menangis dalam hati.

Maka tidaklah mengejutkan jika akhirnya (kembali) saya temukan di sebuah bait puisi pendek, tulisan anak kelas 4 sebuah kritik berupa puisi yang teruntai cerdas. Dimulai dari huruf M.

Mentalku sehat kah?

Mental Ibu?

Menohok sekaligus menebas, bahwa perilaku guru juga mempengaruhi  mental anak didiknya.

Saya membayangkan penerus-penerus Chairul Anwar. Jenius-jenius kecil dalam sastra. Berasal dari pedalaman Kalimantan. Mungkin anak didik saya bahkan bisa mendapatkan Nobel sastra suatu hari nanti.

Mereka tetap tersenyum dan menyanyi riang. Setelah selesai pun mereka satu persatu menyalami guru-guru dan mengucapkan Selamat Hari Guru. Dari mereka saya benar-benar belajar Not to Sweat The Small Stuff. Dari mereka saya belajar arti Give and Forgiveness. Maka tidak salah ketika seorang anak kelas 4 SD menulis dalam puisi singkatnya, sebait yang kembali membuat saya terkagum-kagum...

Dari guru saya banyak belajar, tetapi Ibu guru juga banyak belajar dari saya...


Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran