Bercak Adalah Sebuah Warna-warna Mempesona
Diah Setiawaty | 17 December 2010

Saya tidak tahu kenapa, saya kerap kali melakukan kebodohan-kebodohan di depan umum. Secara casual melakukan komedi slapstik yang betul-betul tidak saya rencanakan sebelumnya. Beberapa yang benar-benar memalukan ingin saya share di blog ini bagaimanapun reaksi yang akan saya dapatkan. Seorang teman saya sesama Pengajar Muda pernah berkata

Diah, you can’t miss all the time!”

Ketika mendapati saya (lagi-lagi) melakukan kesalahan akibat kecerobohan saya. Dia memberi masukan bahwa saya harus fokus dan tidak boleh membiarkan pikiran saya kemana-mana untuk menghindari terjadinya hal-hal seperti ini. Saya berdalih dalam hati

“Itu karena saya terlalu fokus kepada apa yang saya pikirkan. Sayangnya apa yang saya pikirkan seringkali tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang saya hadapi” (penghalusan sekaligus excuse atas tindakan absent minded saya)

Baiklah...

Let me tell you a waltz, about this tragic comedy *inspired by Before Sunset movie.

Tragedi Papan Jabuk

Hari pertama saya tinggal di rumah orang tua angkat, keluarga angkat saya sedang mengungsi ke rumah saudara yang letaknya hanya dua rumah sebelum rumah keluarga angkat saya. Hal ini karena rumah Ayah angkat saya sedang di renovasi dan dipasangi lantai keramik. Seperti kebanyakan rumah yang ada di Kalimantan, rumah pengungsian sementara milik saudara angkat saya ini sepenuhnya terbuat dari kayu. Saat saya tiba untuk bermalam disana hari sudah malam. Penerangan sangat minim karena tidak adanya listrik. Saya segera dijamu dengan sate ayam dan bercengkrama dengan seluruh anggota keluarga dengan nuansa temaram karena lampu minyak.

Tiba-tiba saat itu saya memiliki hasrat yang besar untuk besar untuk buang air kecil. Saya pun meminta ijin untuk pergi ke toilet. Ternyata toilet yang dimaksud adalah tempat mencuci piring kecil yang berada di samping rumah. Tempatnya tidak beratap dan tidak memiliki lubang pembuangan apapun. Air yang tumpah di lantai kayu tersebut akan segera jatuh melalui celah-celah kayu ke bawah rumah yang juga merupakan rawa-rawa. Disana terdapat beberapa ember air yang dapat digunakan untuk membersihkan diri.

Dengan disinari cahaya bulan dan bintang yang bersinar saat itu,  saya pun menuntaskan hajat saya. Ketika hendak meninggalkan lokasi tiba-tiba

BrakkkkK!!!!

Kaki kanan saya sudah terperosok ke dalam lantai kayu. Kejadian itu berlangsung sangat cepat sehingga saya tidak menyadari seluruh keluarga saya tiba-tiba sudah berada di sekitar saya dan menolong saya berdiri. Lantai kayu tersebut bolong tetapi kaki saya tidak apa-apa. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah ini karena lantai kayunya yang lapuk (jabuk) atau bobot tubuh saya yang terlalu berat. Saya pun segera meminta maaf atas kerusakan yang saya timbulkan di malam pertama Mereka hanya berkata “Memang Jabuk itu kayunya, tetapi kakinya tidak apa-apa kan?”

Keesokan harinya tetangga sebelah rumah yang memang masih saudara menyapa saya yang melintas di jalan dengan berteriak

“kasihannya tadi malam, kakinya tidak apa-apakah?!” ujarnya dengan wajah tersenyum simpati

“Iya Bu, tidak apa-apa!” ujar saya sambil balas berteriak

Sebetulnya saya sangat malu, apa lagi kejadian ini terjadi di malam pertama kepindahan saya. Bayangan saya saat itu adalah

Jangan-jangan seluruh desa sudah mengetahui tentang hal ini!

Walaupun saya tidak tahu pasti, tapi tragedi ini membawa kesan mendalam bagi saya dan keluarga angkat saya. Sebuah proses inisiasi yang konkrit untuk mengetahui dan menyelami kehidupan penduduk desa.

Rubuhnya Meja Kami

Suatu siang yang terik ketika saya mengajar di kelas, saya melakukan kebiasaan buruk  yang sulit untuk dihentikan. Saya menopang pada satu kaki sementara tangan saya menekan meja. Sebuah pose berdiri yang tidak baik, terutama ketika mengajar. Sialnya saat itu saya tidak tahu kalau meja itu sudah rapuh dan doyong. Alhasil saya terjungkal-jungkal di depan kelas sementara murid-murid saya terpingkal-pingkal melihat gurunya melakukan akrobat seperti badut sirkus.

“Huh,Untung saya lentur!”

ujar saya sembari mengibas salah satu pundak dengan mimik serius berusaha dengan sangat mengembalikan wibawa di depan anak-anak. Well...tentunya ucapan itu tidak sepenuhnya bohong.

Untungnya nasib saya lebih beruntung dari meja yang saya tekan tadi. Meja itu benar-benar bertransformasi dan berganti rupa dengan mutakhir serupa robot-robot Transformer hingga wujudnya menjadi tumpukan papan yang posisinya rata dengan tanah.

“Memang jabuk ini Bu! Tapi tidak pernah diganti”

Ujar Jumadi salah seorang murid kelas V  yang jago membuat puisi dengan wajah yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata, antara prihatin dan tertawa terbahak-bahak. Tetapi memang benar, ada hikmah di balik setiap kejadian. Tanpa kejadian tersebut saya mungkin tidak mengetahui kelebihan serta potensi salah satu murid saya yang dalam kesehariannya sangat aktif dan sulit berkonsentrasi kecuali dalam pelajaran matematika. Ia dengan sigap mengambil batu dan mengetok-ngetok meja tersebut selama beberapa menit. Saya tertegun dan membiarkan ia melakukan pekerjaannya. Tidak sampai lima menit ia berhasil kembali mentransformasikan tumpukan papan itu  kembali dan berdiri menjadi sebuah meja yang kokoh, bahkan lebih kokoh dari sebelumnya, ini setelah saya uji dengan menumpu kepada meja tersebut. Berkat murid saya yang satu itu, Irma, Meja itu pun tidak jadi diganti dengan meja lainnya. Bahkan kalaupun saya bercerita ke guru lain bahwa meja itu pernah hampir mencelakai saya, apalagi fakta bahwa meja itu pernah rata dengan tanah, pasti tidak ada yang percaya. Betul-betul bakat yang luar biasa.

Superman Woosh untuk murid saya yang super...Superman Woosh untuk Irma!

Meledak!

Dari judulnya anda pasti sudah bisa menebak kebodohan apa lagi yang saya lakukan. Ya kali ini saya  melakukan kesalahan (kegagalan tepatnya) dalam percobaan ilmiah untuk praktik IPA kelas V dan VI SD.

Boys and girls don’t try this at home.

Kegiatan yang dilakukan dalam ercobaan ini sebenarnya relatif sederhana, yaitu berusaha memasukkan telur ke dalam botol tanpa merusak bentuk telurnya. Caranya dengan memanaskan dan memperbesar tekanan udara yang ada di dalam botol. Sedangkan telur yang saya gunakan adalah telur ayam yang sudah diperam sekitar satu  harian menempuh jarak berkilo-kilo meter dan dimasak dangan air mendidih selama tiga menit (alias telur rebus).  Kesalahan terletak ketika saya memanaskan botol kaca di atas lilin tanpa memberikan media apapun di dalamnya sedangkan kepala botol sudah saya sumbat dengan telur. Akibatnya tekanan di dalam botol menjadi sangat besar tetapi tidak ada udara yang keluar. Yang terjadi kemudian adalah botol kaca bekas sirup itu meledak tepat di depan saya, yang pada saat kejadian sedang memegangi botol tersebut. Untungnya saya sudah berganti posisi dengan Ibu angkat saya, sehingga bukan dia yang terkena resiko kecelakaan kerja.  Syukurnya ledakan ini tidak menimbulkan korban jiwa atau korban luka-luka. Adik-adik saya yang juga melihat saya melakukan percobaan ini di depan dan di samping saya selamat begitu pula saya. Di kemudian hari saya baru tahu kalau cara melakukan percobaan ini sebenarnya adalah mendidihkan air di dalam  botol baru akhirnya disumbat dengan telur rebus, atau membakar sesuatu di dalam botol yang menyebabkan udara di dalam botol menjadi sangat panas lalu botol tersebut disumbat dengan telur rebus. Secara teori tekanan di dalam botol menjadi besar ketika botol tersebut disumbat. Akhirnya tekanan itu akan menghisap telur di luar botol seperti vacuum. Ada juga yang bilang kita bisa memasukkan seluruh telur itu bahkan dengan cangkangnya ke dalam botol tanpa merusak apa-apa yaitu dengan air cuka. Walaupun saya belum tahu pasti bagaimana caranya tetapi saya mensinyalir telur tersebut mungkin direndam terlebih dahulu ke dalam air cuka tetapi menurut kolega saya botol tersebut harus diisi air cuka terlebih dulu. Akhirnya kami melakukan percobaan yang sebenarnya di sekolah dengan tabung reaksi dan pemanas dari minyak tanah. Walaupun belum sepenuhnya berhasil karena air belum benar-benar mendidih ketika kami melakukan percobaan tersebut sehingga telur hanya berhasil masuk setengahnya ke dalam tabung tapi kami masih belum berputus asa dan akan melakukan eksperimen ini lagi.

Doakan kami ya! Kami pasti bisa!

The Mad Cow

Suatu pagi saya tak sengaja bangun lebih pagi untuk melakukan ritual pagi, yaitu lari bolak-balik dari depan ke belakang rumah sebanyak dua ratus kali. Jaraknya tidak jauh sekali pergi hanya sekitar empat sampai lima meter sehingga total jarak yang saya tempuh setiap pagi sekitar 800m-1 km. Pagi ini pagi yang istimewa karena saking paginya matahari belum menampakkan sinarnya. Bintang kejora pun masih menyala terang di atas sana. Tepat setelah sholat subuh saya keluar, mengabaikan fakta bahwa saya bisa saja bertemu dengan babi hutan yang konon besarnya bisa mencapai seukuran sapi. Seperti kebanyakan rumah di Rantau Panjang rumah saya dan tetangga kanan dan kiri tidak memiliki pagar, kami juga memiliki halaman yang sangat luas yang biasanya dibiarkan kosong dan ditumbuhi rumput-rumput liar. Beberapa membuka usaha di lahan tersebut. Saya betul-betul lupa kalau nenek angkat saya memelihara sapi yang ternyata sudah mulai mencari makan bahkan ketika matahari belum bersinar, mematahkan streotype pemalas yang biasa diderita olehnya dan binatang ternak sebangsanya (kerbau, lembu,dll).  Karena gelap saya benar-benar tidak melihat apa-apa dan joging dengan santai tanpa menyadari kalau di sebelah kanan saya terdapat sapi yang mencari makan dan singgah di teras rumah kami. Saat itu saya terkejut bukan karena melihat seekor sapi, tetapi tepatnya karena melihat sapi yang kaget melihat sesosok mahluk berwarna kuning berlari ke arahnya. Sapi tersebut lari sekuat-kuatnya dengan tenaga kuda yang syukurnya tidak mengakibatkan ia menubruk tembok gudang ternak di sebelah rumah kami. Rasanya terakhir kali saya melihat sapi coklat lari sekuat itu ketika melihat tayangan karapan sapi Madura di televisi. Kali ini saya menyaksikannya,live, di pagi buta. Syukurnya kali ini tidak ada saksi yang menyaksikan kebodohan saya. Hanya ada beberapa orang yang lewat dan menatap saya heran ketika matahari sudah terbit. Mungkin karena saya baru melakukan kegiatan tersebut dan penampilan saya yang cukup mencolok. Pendatang, menggunakan kaos kuning dan celana tidur abu-abu, lari pagi bolak-balik disamping rumah. Syukurnya beberapa hari terakhir saya berhasil menambah  jarak tempuh saya sehingga setiap dua hari sekali saya bisa lari bolak-balik sejauh 8 km. Tidak hanya itu, seperti film forest gump saya memiliki follower runner yaitu anak-anak SMP putri yang saya ajar. Mereka dengan antusias ikut lari walaupun jarak tempuhnya cukup jauh. Bahkan suatu pagi kami berhasil menempuh jarak 18 km bersama!

Dibalik kesalahan dan aksi-aksi aneh yang sarat dengan kebodohan saya bersyukur atas hikmah yang saya dapat, seperti lirik lagu band Efek Rumah Kaca yang berjudul Sebelah Mata,yang juga menjadi judul tulisan ini

Bercak adalah sebuah warna-warna mempesona...

Ya karena saya yakin tanpa gelap kita tidak tahu apa arti terang.Tanpa musuh jahat tidak akan ada pahlawan.Tanpa kesalahan kita tidak akan dapat melakukan refleksi dan perbaikan diri.Tanpa noda kita tidak tahu yang benar dan yang salah.Tanpa pengalaman buruk niscaya kearifan, kebijaksanaan, dan kedewasaan mungkin selamanya tidak muncul.

But hey, I can’t miss all the time. I Agree!

Maka seraya terus memperbaiki diri saya hanya berharap pengalaman-pengalaman bodoh itu kelak meninggalkan kesan yang punya rasa khusus dan makna yang mendalam, baik bagi yang menyaksikan maupun melakukannya. Semoga!
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran