Behind The Scene Liputan Trans TV (part 1)
Diah Setiawaty | 20 March 2011

Emotion were, indeed, a wild horse ....

~Coelho

Tanggal 8  dan 9 lalu, Trans TV datang dan meliput sekolah dan aktivitas saya sehari-hari. Ketika di kabarkan seminggu sebelumnya saya begitu kaget, me out of everybody? Dari sebelas orang Pengajar Muda di Passer kenapa saya yang terpilih untuk acara Bingkai Berita? Spekulasi pun bermunculan di kepala saya mulai dari keturunan Cina (meskipun sudah sangat jauh) sampai kepada tulisan-tulisan saya di blog ini. Ini wajar mengingat banyak yang kondisinnya lebih memprihatinkan dibandingkan saya (terutama PM di daerah pesisir), banyak yang hasil kerja kerasnya di sekolah lebih tampak daripada saya akhirnya saya menanyakan kepada kru Trans TV tersebut. Ia menyatakan bahwa dari sebelas profil pengajar muda yang ia sodorkan kepada saya produsernya tertarik dengan profil saya (this answer made me even more suspicious, me and my conspiracy thought). Perasaan saya campur aduk antara rasa syukur karena dengan begitu semua orang dapat melihat apa yang selama ini saya kerjakan, apa yang selama ini saya ceritakan di blog saya mengenai sekolah dan terutama kondisi anak-anak saya yang terus berjuang dan antusias untuk sekolah meskipun didera banyak tantangan dan kesulitan. Antusiasme yang anehpun muncul karena tidak pernah terbayangkan bahkan dalam impian terliar saya di shoot oleh stasiun TV nasional mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi (persis seperti reality show yang dilakukan oleh artis-artis Hollywood) tepat di saat saya hanya ingin jadi nobody, seseorang yang tidak bernama, anonim.

Di sisi lain saya juga takut, takut terbebani dengan ekspektasi setiap orang mengenai Pengajar Muda yang begitu idealis, mengingat dari sisi itu saya tidak begitu “Pengajar Muda”. Kegelisahan saya juga muncul karena Trans datang di saat kondisi saya tidak begitu stabil, mengingat saya baru saja dilanda sebuah persoalan pribadi agak pelik (sekali lagi menurut saya) sehingga saya khawatir melakukan berbagai hal aneh yang memalukan. Tetapi secara teknis kedatangan mereka secara teknis di saat yang tepat karena saya baru mendapatkan sumbangan buku-buku dari komunitas IM Care dan dari pihak-pihak lain yang mensupport GIM, sehingga saya dapat menunjukkan rasa terima kasih saya dengan menunjukkan kepada Indonesia, melalui layar kaca bagaimana antusias anak-anak untuk  membaca buku-buku kiriman para donatur tersebut dan mungkin saja menarik lebih banyak donatur yang ingin menyumbang buku atau apapun.

Well, bagaimanapun mereka tetap datang dan cerita ini adalah behind the scene dari shooting kami  di hari pertama sampai terakhir (atau lebih tepatnya cerita ini adalah kisah behind the scene liputan Trans TV  versi saya.)

Hari pertama dua orang kru trans TV datang ke sekolah, Marcell dan Dayat sang Kameramen, bersama supir mereka Agus. Mereka datang terlambat satu jam yang alasannya adalah karena mereka lupa mencocokkan jam mereka ke WITA (waktu Indonesia Bagian Tengah). Saya tidak bermasalah akan hal itu, yang agak gelisah adalah guru-guru saya di sekolah. Beberapa guru menannyakan tentang kedatangan mereka, ada yang mengingatkan saya kalau ini sudah lewat jam yang dijanjikan, bahkan beberapa mulai menyindir dengan mata menyangsikan apakah benar ada kru Trans yang akan datang. Sekali lagi ini wajar mengingat seluruh warga sekolah sangat antusias akan kedatangan mereka. Tepat ketika saya sedang mengisi pelajaran matematika di kelas satu, menggantikan guru kelas yang tidak dapat masuk karena sakit. Ya dari sinilah sebuah kekacauan dimulai, setelah keluar kelas sebentar untuk menyambut mereka, saya memberikan PR kepada anak-anak dan bersiap-siap pulang. Ketika semua sedang bersiap pulang tiba-tiba salah satu murid saya Riansyah menangis karena takut ditinggal teman-teman padahal dia belum selesai mencatat PR. Murid saya ini memang sering menangis karena hal-hal yang menurut saya sepele. Pernah suatu hari dia menangis tersedu-sedu karena pensilnya hilang. Yang membuat saya panik adalah tangisan Riansyah sangat menyayat, dia menangis ketakutan tersedu-sedu dan alih-alih menyelesaikan menulis soal PR dari papan tulis out of panick attack ia justru membuat tulisan tersebut dari awal di halaman baru. Saya pun berusaha meredam tangisannya dan setiap saya  berusaha menenangkannya ia justru semakin panik dan terus menangis dan memulai menulis di lembaran baru. Para kru trans TV tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka mulai menshoot saya dan mengambil gambar saya yang panik dan larut akan emosi Riansyah.

Saya mencoba menahan anak-anak lain pulang dengan harapan tangis Riansyah mereda. Saya membujuk anak-anak menunggu Riansyah selesai mencatat dengan mengajarkan mereka bernyanyi Gelang Sipatu Gelang..setelah beberapa lama, tangis Riansyah tidak juga reda hingga salah satu guru membantu saya,  yang membuat saya bingun anak itu bahkan tidak mau menyimpan bukunya ketika saya berkata itu tidak menjadi PR tetapi tugas sekolah besok, sehingga diijinkan untuk di lanjutkan di sekolah besok. Terus terang sayapun ikut panik, trauma masih kecil pun mulai datang, saya ingat masa-masa dimana saya terkena manic depression karena dimarahi orang tua saya. Masa-masa ketika saya dilecehkan secara seksual di pinggir jalan, berbagai hal yang membuat saya menangis seperti Riansyah...tangisan yang tidak bisa dihentikan dan serasa menyayat-nyayat jantung saya. Saya takut ternyata Iriansyah memiliki orang tua yang keras terhadap nilai atau pelajaran seperti orang tua saya dulu...Begitu banyak yang berterbangan di kepala saya ketika melihat tangis Riansyah dalam waktu kurang lebih satu menit. Saya menarik napas dalam dan kembali ke kesadaran, kembali ke masa sekarang, segera, karena tangisnya tidak bisa dihentikan,  akhirnya dengan inisiatif saya membariskan anak-anak mengajak mereka membaca buku-buku baru ke perpustakaan, dengan harapan Riansyah juga ikut antusias pergi keperpustakaan. Saat melihat anak-anak berbaris tangisannya menjadi semakin keras, saya segera menghampirinya dan membantu memasukkan bukunya seraya mengajaknya beralih ikut ke barisan

“Ayo Riansyah, nanti ketinggalan kereta...kita mau jalan-jalan ke perpustakaan” Akhirnya ia mau melepaskan bukunya dan ikut berjalan...di lapangan seraya saya bernyanyi naik kereta api disertai suara anak-anak, tangisnya mulai reda dan ketika kita sampai di perpustakaan dan mulai membaca tangisnya hilang sama sekali, dan ia seperti anak-anak lainnya membaca buku-buku baru yang penuh gambar dan warna dengan antusias... saya baru bisa menghirup napas lega dan bersyukur. Pelajaran untuk saya hari itu adalah, like in psychology and new ages philosophy ketika kita sedih atau mood kita tidak enak yang perlu kita lakukan adalah bergerak, mendengarkan lagu, atau melakukan apapun yang membuat kita sibuk dan mengalihkan pikiran kita. Terutama jika kegiatan yang kita lakukan adalah kegiatan yang menyenangkan.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran