Terlihat Bodoh Sejenak
Bartolomeus Bagus Praba Kuncara | 28 January 2012

28 Juli 2011

“Bersulit-sulit untuk mengabdi itu Nobels Job” -Anies Baswedan-

Terlihat Bodoh Sejenak

Hari ini, banyak hal mengajariku tentang apa itu belajar. Sebelumnya kutekankan setiap hari pada anak-anak murid kelas 4 bahwa tidak ada murid yang bodoh, tapi semua pintar dan tidak bisa itu menandakan harus belajar lagi. Nah bercerita sedikit bagaimana terlihat bodoh karena harus belajar lagi.

Pagi ini harus menggantikan ibu piara untuk menjadi guru jaga. Ibu piaraku  akan pergi ke Saumlaki untuk PPL dan berangkat bersama Bapak-Ibu Camat (pulang pada hari yang belum ditentukan). Sesaat seblelum bersiap-siap ke sekolah, ketua UPTD memanggilku untuk membantu latihan padus. Akhirnya membantu melatih padus  dan jam 8.30 ke kelas untuk mengajar. Hari ini belajar menulis indah tentang profesi dan anggota keluarga (gabungan IPS dan bahasa). Satu per satu murid membaca kalimat yang berbeda dan mereka sedikit lebih bisa. Dalam 1 minggu ini, sepertinya kemajuan belum terlalu banyak.

Saat istirahat, kami memperbincangkan masalah instansi yang harus membayar 1 juta untuk Pesparawi. Mengingat kondisi sekolah dengan kas kosong, kami memutuskan untuk menyumbang separuhnya. Selanjutnya kembali ke kelas dan mengingatkan para murid untuk datang les jam 15.00. Tiba saat memukul bel pulang, bel kupukul hanya tiga kali. Lalu ada murid yang nyeletuk, “wah pak lebih banyak lagi harusnya,”. Terdenganr tawa dari kantor, dan bu Kepsek menanyakan bel apa itu, saat kujawab bel pulang...Ha..ha..ha semua langsung makin tertawa. Aku pun ikut tertawa dan kupukul bel sekali lagi seperti arahan anak murid tadi.

Selanjutnya anak-anak apel sebelum pulang. Aku mengingatkan untuk mereka membawa bekal makanan dan minuman besok. Setelah mereka pulang, kepsek bertanay lagi, “ Pak tadi tidak diumumkan mereka untuk balik ya?”. “Maksudnya balik apa Bu?,” tanyaku. Sontak guru-guru tertawa. Ternyata ada pengumumann untuk kelas 5-6 yang baris-berbaris untuk latihan jam 15 di sekolah. Bu kepsek akhirnyab mengingatkanku bahwa guru piket harus menanyakan dulu apda ada pengumuman dari kepsek. “Siap..siap!”, jawabku dalam hati.

Sesaat sebelum pulang, setelah semua kelas dikunci, ternyata buku ajarku tertinggal di kelas. Aku meminta kunci ke kepsek dansemua guru tertawa melihatku.  Mantap...hari ini penuh dengan tertawa. Semua orang menertawaiku dan akupun ikut tertawa.

Jam 15.00 anak-anakku datang. Anak-anak masih tetap belajar tulis-menulis. Setelah lama mereka kuajak belajar membaca. Akau mengeluarkan buku Alkitab bergambar yang berbentuk persegi. Sesaat sebelum akau bercerita, ada anakku namanya Irvan, dia menyeletuk,”Itu persegi kan pak?”,....Wahhhhhhhh.bagai diguyur air seger. Ternyata materi yang kuajarkan 1 minggu yang lalu diingat oleh anak muridku. Walau mereka terkesan tidak bisa, itu hanya karena mereka belum PD. Hal itu cukup jadi obat hari ini...Seger banget.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran