My Mothers
Bartolomeus Bagus Praba Kuncara | 25 November 2011

“Wanita itu kuat, apalagi kalau jadi ibu”

-Bartolomeus B-

2 Wanita, 1 Hati

                Ibuku, namanya Priskila Djohar Titiek Sumarni....Ga da yang banyak kenal memang, tapi ibuku salah satu tokoh perempuan di desaku. Lahir 54 tahun yang lalu dengan tanggal lahir yang sama dengan ayahku (5 Mei). Menikah umur 19 tahun, dan melahirkan 10 anak.

                Masih jelas di benakku, saat masih SD. Keluarga kami termasuk keluarga yang “Diimani besok tetap makan”. Hidup di tengah desa yang “ sangat desa” . Ibuku lalu tiap sore berjalan mencari bayam di pinggir jalan, kalau ada orang yang panen nangka, ibuku minta isinya, atau pergi cari jantung pisang, atau cari apapun yang bisa dimakan tapi tetap bergizi untuk anaknya. Belum pernah aku mendengar mulut ibuku mengeluh.

                Setiap malam, nyamuk sangat banyak, karena depan rumahku ada hamparan sawah yang luas. Ibuku tengah malam selalu bangun dan memastikan anaknya tidak digigit nyamuk. Kala itu obat nyamuk yang digunakan berupa bunga nangka yang masih kecil. Satu-persatu nyamuk dibasmi. Di balik gorden, di balik selumut kami, di atas rambut kami, dan selalu ditutup dengan mencium pipi anaknya.

                Cucian di rumah yang tidak pernah ada habisnya, anak-anak yang tidak pernah berhenti makan dan bertengkar, suami yang sering pergi ke luar kota. Anak-anak remaja yang mulai melawan. Jika satu mungkin mudah, tapi ini 10. Belum pernah aku mendengar mulut ibuku mengeluh.

 

                Mama piaraku, Alfonsina Batmomolin namanya. Apalagi ini, yang tahu ya yang hanya di MTB. Salah satu guru di SDK Adodo Molu, wali kelas 6 . Usianya sebenarnya lebih muda dari kakakku yang nomor 3, tapi karena aku tinggal di sana, beliau jadi ibuku.

                Selalu tidur paling terlambat, bangun paling cepat. Teh dan roti disiapkan buat anak piaranya dari Indonesia Mengajar ini. Selalu marah kalau anaknya lupa makan. Bajuku tidak boleh dicuci sendiri, tanpa sepengetahuanku, baju-baju kotorku selalu raib di tukang cucian. Semua hal yang di rumah diatur agar tetap teratur. Berbeda dengan ibu-ibu lainnya yang memanggil anaknya “pig and dog”, ibu ini merawat anaknya seperti ibu seharusnya merawat anaknya. Hingga suatu malam...Selesai mengajar, menyiapkan makanan, dan mengobrol denganku....beliau melanjutkan dengan melipat baju-baju kami serumah (ga boleh bantuin). Aku turun untuk menyelesaikan dokumen KTSP SD. Jam 10 naik lagi ke rumah..Pemandangan yang sama kulihat kira-kira 10 tahun lalu. Mama piaraku belum mandi dan tertidur di atas tumpukan baju-baju....Wajah yang lelah. Tapi paginya...aku tidak mendengar mulutnya mengeluh.

               

                Teringat kata-kata salah satu kakak rohani di kampus , kak Icha....wanita itu menjadi cantik kalau dinctai. Nah....disini banyak terlihat ibu-ibu yang berumur 25, 27, 30 tapi fisiknya sudah seperti ibu-ibu usia 40, 50, 55. Mereka bekerja angakat pasir, angkat batu, ke kebun, belah kayu, dan masih harus mengurus rumah. Tapi bagaimanapun keadaan mereka, aku tidak mendengar mulut mereka mengeluh.

Rasanya bersyukur punya ibu...karena tidak semua bisa merasakannya...           

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran