Melihat Dari Atas
Bartolomeus Bagus Praba Kuncara | 30 December 2011

24 Juli 2011

“Kita bisa membangun rumah besar dengan gedung sampai langit, Tapi jika kita tidak mendidik anak-anak kita, mereka yang pertama kali akan meruntuhkan. Rumah kita nanti”  -Marthen R. Bebena-

Melihat dari Atas

Angin kencang yang dingin mewarnai minggu pagi. Kemarin setelah sampai di Wadankou, senang sekali melihat Dedi dapat diterima anak-anak dengan sukacita. Setiap saat mereka berkerubut untuk menunggu apa yang akan Dedi ajar. Mereka suka sekali menyanyi.

Selamat malam semua,

Lulalu...lalu...lalu...,

jadi lagu yang menyenangkan buat mereka. Dari hal ini, sepertinya Dedi sudah dapat melihat kebutuhan anak-anak muridnya. Melihat wajah antusias mereka yang mendongak ke arah kami, itu menyenangkan.

Angin yang berhembus mulai semilir. Di gereja, Pak Camat memberikan pidato motivasi setelah prosesi ibadah. Sebelumnya setelah memberi persembahan pujian You Raise Me Up (mantap sekali suara beliau), Pak Camat kembali mengingatkan masyarakat tentang pendidikan. Kehadiran IM yang dinilai sebagai berkat Tuhan, dihimbaukan pada masyaarakat agar tidak menyia-nyiakan IM di desa mereka.

Karena ingin ambil gambar aku naik ke atas di lantai dua.

Pak Camat menyampaikan kalimat yang kutulis di atas tulisan ini. Itu kata-kata yang menurutku “Offering Right Statement”.

Ketika seseorang berdiri di dataran, yang menjadi dimensi pandang hanya apa yang sejajar dengan matanya. Status kekayaan, jabatan, rumah bagus, televisi besar, sound system berdebum kencang, bisa memerintah orang, istri cantik/ suami ganteng, dan thethek bengek lainnya yang membuat orang terbatasi pandangannya. Ketika naik ke tempat yang labih tinggi, hal-hal itu akan terlihat menjadi titik-titik, dan kita bisa melihat ternyata dunia kita jauh lebih luas dari yang kita bayangkan.

Pelajaran satu sudah dapat, nah sekarang ada pelajaran lagi yang menarik.

Setelah makan siang, ada Rapat Negeri (rapat Desa). Pak Camat memimpin langsung rapat. Dalam rapat dibicarakan persiapan agustusan, persiapan tarian Nabarilaa dari bapak-bapak Wadankou di upacara 17 Agustus Kabupaten, dan terakhir tentang pembangunan pusat kecamatan dan jalan lintas Molu.

Rencananya, September ini akan mulai dibangun pusat kecamatan dan jalan darat lintas Molu. Namun sebelum membahas itu, Pak Camat menjelaskan terlebih dahulu bahwa ternyata desa Wadankou yang saat ini warga mukimi adalah salah satu bagian daerah Cagar Alam Tafermar. Jadi, menurut kementrian Kehutanan, wilayah Wadankou masih berada di wilayah Wadankou Lama yang terletak di sebelah Adodo Molu. Tapi ternyata, warga yang dulu masih nomaden, sudah meninggalkan Wadankou Lama (sekarang jadi hutan Kayu Putih) dan menetap di area cagar alam yang kini jadi Wadankou Baru. Awalnya, penduduk akan dipindahkan, karena pemukiman tersbut melanggar hukum, namun karena mereka sudah hidup di sana sejak puluhan tahun silam, mereka tetap diperbolehkan di sana dengan ketentuan tidak boleh memperluas pemukiman atau melakukan pembangunan lain. Ketetapna ini diberikan Kementrian Kehutanan karena Tafermar merupakan salah satu cagar alam nasional.

Beranjak dari situ, dijelaskan bahwa pembngunan pusat kecamatan akan masuk wilayah Wadankou, tapi Wadankou yang lama demikian juga pusat jalan Lintas Molu. Eh....tidak disangka, ada salah satu penduduk yang tetap tidak terima kalau pembangunan berada di wialayah dekat Adodo Molu dan Wadankou lama. Rapat sedikit memanas. Awalnya kupikir bakal terjadi bentrok, karena sebelumnya pernah diceritakan bahwa orang Wadankou sempat ingin menyerbu Adodo Molu, karena daerahnya tidak dijadikan ibukota kecamatan. Namun, pak Camat, pak Kades dan Pak Pendeta berhasil tetap fokus dan tidak menghiraukan suara-suara yang provokatif. Beliau bertiga menjelaskna kembali alasan pembangunan yang dilakukan, bahkan sebenarnya pembangunan lebih banyak di daerah Wadankou lama yang merupakan tanah milik warga Wadankou. Di sini ada seni utnuk memilah opini yang hanya membuat keruh atau opini membangun yang perlu ditanggapi.

Rapat selesai dan kami beristirahat hingga sore. Kemudian malam hari kami pulang dan sempat mengambil beberpa foto. Menggunakna salah satu motor warga Nurkat kami berangkat. Eh tapi, baru 10 menit jalan, kemudi kami patah dan kami terhanyut untuk beberapa saat. Akhirnya malam itu menginap lagi di tempat Dedi..

Wah semoga besok tidak terlambat datang ke sekolah....karena aku piket besok senin. Piket perdana.....

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran