Upacara Pertama
Oleh: Barkah Aji Febriyanto,
Cerita Pengajar Muda
Bukan pura-pura tertawa. Kami tertawa karena Andra (Juru Foto), mengucap "cis kacang panjang". Padahal pakem foto ala Indonesia Mengajar, yang saya tahu, adalah "cis kacang buncis" dan "cang kacang panjang". sontak anak-anak tertawa mendengar kelucuan dari Andra tersebut. Demikianlah, anak-anak selalu punya cara alami untuk memancing tawa.
Foto ini diambil sesaat setelah upacara bendera, senin (9/12). Ini adalah upacara pertama SDN Amboniki setelah hampir 4 bulan saya ada disana. Sedang ada pembangunan ruang kelas baru, bahan2 bangunan ditumpuk dilapangan. Ruang kelas sudah hampir jadi, dan lapangan sudah bisa digunakan kembali.
Dalam upacara tersebut, saya mendapat kesempatan menjadi pembina upacara. Ternyata susah juga memberi wejangan. Mungkin karena saya belum cukup banyak makan asam garam kehidupan. Terlepas dari itu, momen bertumbuh dengan anak2 selalu kaya rasa. Dan upacara kali itu membawa serta sedikit renungan tentang nasionalisme. Banyak orang skeptis dengan konsep ini. Tak salah, nasionalisme kerap sekadar jadi dalih elit politik mencuri: uang, kekayaan alam, tanah adat, dst.
Namun, sisi terang dari nasionalisme tetap ada: memperluas empati. Memungkinkan 264 juta orang yang sama sekali asing, saling bekerjasama. Serta memiliki imajinasi dan harapan bersama. Memiliki proyek ambisius menyatukan ribuan pulau, ratusan suku dan mantan ratusan kerajaan menjadi Indonesia.
Cerita Terbaru
Cerita menarik lain dari Pengajar Muda

Bab 2 : Ngelong

Bab 1 : Ibu Guru Baru

Prolog : Bumi Silampari

Merica dan Pendidikan Lalomerui

Anak-Anak dan Kotak Ajaib di Kepala Mereka

Seluruh Cerita

Lihat seluruh cerita Pengajar Muda

Ikut Iuran