Adilkah ini?
Atika Fara Amalia | 18 December 2011

Belajar dan mengajar tanpa lelah itu memang dibutuhkan oleh seorang guru. Kita tidak hanya mengajar saja, namun kita bisa belajar dari anak murid kita. Kadang kita bisa belajar ikhlas, sabar, mengelola emosi dan masih banyak lagi. Saya sudah hampir 6 bulan berada di SD 6 Payabakong, hampir semua anak dari kelas 1 samapi kelas 6 adalah anak murid saya. Hal ini dikarenakan saya bukan wali kelas, dan selalu masuk semua kelas dikala guru yang lain belum hadir. Tak jarang saya menjadi rebutan anak murid agar masuk kelasnya.

Ibu tamong kelas lung, ya bu (ibu masuk kelas saya ya)”

Dan anak muridkupun selalu menggandeng ke kelas mereka, padahal saya tidak ada jam pelajaran di kelas itu. Andaikan saya bisa dibelah menjadi 6, pasti mereka tidak akan rebutan seperti ini. Sedih dan terharu bila pagi-pagi mereka sudah semangat belajar, sedangkan guru belum semua datang. Tapi saya yakin lambat laun akan ada perubahan, walau tidak signifikan. Semua itu selalu membutuhkan sebuah proses yang tidak sebentar. Yakinlah.

Selama 6 bulan ini saya mengamati seorang anak kelas 5 bernama Adil. Bisa dibilang dia anak ‘bandel’ menurut teman-teman dan guru di sekolah saya. Dan kebandelannya itu memang ada di dirinya. Saya merasa penasaran dengan latar belakangnya. Pasti ada sebab yang membuat dia menjadi seperti ini. Biasanya anak yang bandel itu kurang kasih sayang dari lingkungan sekitar. Hari demi hari kulalui untuk mengamati anak muridku, tidak lupa adilpun juga kuperhatikan. Berbagai sumberpun kutelusuri, dari bertanya kepada guru sekampung, anak muridku, hingga mamakku. Dan memang benar adil adalah anak broken home. Dia dan adiknya (devi namanya) ditinggal mamaknya ke negeri jiran, mereka tinggal dengan neneknya. Perhatian dari keluarganya sangat kurang, apalagi dari lingkungan.

Kucoba untuk mendekatinya secara perlahan-lahan. Mengajak dia ngobrol atau sekedar bercanda di depan kelas atau sewaktu jalan pulang. Jurusku ini belum juga mempan. Adil masih saja terlambat datang ke sekolah, bahkan sering bolos sekolah. Ditambah lagi bila pelajaran berlangsung, dia anjang sana anjang sini alias berkunjung ke kelas sebelah. Hingga pelajaran usaipun terkadang dia masih berada dalam misi berkunjungnya tersebut. Weleeeh..weleeeh..betah amir yak dia. Hal ini berlangsung hingga tanggal 14 Desember 2011. Benar-benar belum bisa berubah sedikitpun. Semua jurus sudah kukeluarkan lho. Sepertinya saya harus bertapa lagi untuk mendapatkan jurus terbaru dan ampuh.

Nah tanggal 14 Desember 2011, sewaktu saya mengajar matematika di kelas 5 terjadilah perkelahian yang luar biasa dahsyat antara adil vs mulyadi. Mereka berkelahi karena mulyadi tidak terima kalau meja sekolah dipatahkan oleh adil. Mereka benar-benar tidak bisa dipegang.

“Bu faraaaaaaa, ada yang berkelahi buuu..” teriak salah seorang murid di kelas 5. Sontak aku berbalik badan, dan mengingatkan mereka berdua untuk tidak melanjutkan perkelahian tersebut.

“Hai nak, ayoo saling memaafkan” kataku dari belakang kelas.

Saat itu saya sedang mengajar matematika di papan tulis yang berada dibelakang kelas. Ternyata mereka tetap tidak memperhatikan saya. Lalu kudatangi mereka untuk menghentikan perkelahian tersebut. Dibantu dengan beberapa anak muridku, akhirnya bisa di pisahkan. Namun tidak berhenti begitu saja, mereka selalu saja memberontak dan ingin melanjutkan perkelahian tersebut. Adil tidak mau saya pegang, dan tidak mendengarkan kata-kata yang saya ucapkan. Matanya merah dan nafsu untuk berkelahi selalu saja memuncak.

Adil berhasil lepas dari peganganku dan mengejar mulyadi untuk memulai perkelahian lagi. Untungnya mulyadi berhasil saya pegang dan saya ajak keluar.

“Mulyadi anak pintar, kenapa berkelahi nak?” saya ajak dia berbincang santai diluar

“Dia, sudah mematahkan meja bu. Kan kasihan ibu nanti.” Jawabnya.

Terharu dan sedih mendengar jawabannya. Dia kasihan sama gurunya hingga dia rela berkelahi dengan Adil.

“Nak, ibu selalu bilang kan bahwa sesama teman harus saling menyayangi?” kataku.

Dia hanya bisa mengangguk saja. Belum sempat saya selesai berbicara, adil sudah ada didekatku dan siap untuk memukul mulyadi. Untungnya dengan sigap saya dan beberapa anak muridku mencegah perkelahian ini.

Bel istirahatpun berbunyi, Mulyadi lari  menghindari adil. Namun adil tidak mau kalah, dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa lepas dari peganganku. Sembari memegang adil, saya memberikan beberapa nasihat kepadanya. Sedikit demi sedikit emosi dia agak mereda. Teman-temannya hanya bisa memandangi saya dan adil yang berada didekat pintu kelas.

Akhirnya kupersilakan adil dan teman-temannya untuk beristirahat. Hingga pulang sekolah saya tidak melihat adil lagi. Kutanya beberapa temannya, mereka bilang tidak tahu. Tasnya masih dikelas. Hem..mungkin dia main di desa sebelah.

***

Seperti biasa, pagi ini berangkat sekolah bersama beberapa orang murid saya. Setiap langkahku disini memang sangat bermakna. Pagi ini saya mengajar kelas 5 lagi. Jadwalnya matematika. Beberapa anak muridku terlambat datang ke kelas. Mereka menunggu diluar hingga kami selesai berdoa. Selalu saya biasakan dan mengingatkan kepada anak muridku agar datang tepat waktu dan tertib. Sedikit demi sedikit ada perubahan dengan anak muridku.

Beberapa anak perempuan masuk kelas setelah usai kami berdoa. Sebelum memulai pembelajaran, saya selalu memberikan cerita-cerita atau motivasi kepada mereka. Sewaktu saya sedang bercerita, tiba-tiba tidak disangka tidak diduga, ada yang memberi salam dari luar.

“Assalamualaikum bu”

“Waalaikumsalam.wr,rb” menjawab ucapan salam dengan hati yang terkejut sekaligus bahagia. Benar-benar kejutan luar biasa dipagi ini.

“Bu, maaf terlambat. Lung telat beudoh (saya terlambat bangun)” ucap adil

“iya nak masuklah” jawab saya sambil mempersilakan dia masuk dan duduk di kursinya.

Dalam hatiku sangat terkagum-kagum. Anak selama ini dicap sebagai anak bandel, hari ini dia masuk kelas dengan mengucap salam dan meminta maaf akan keterlambatannya. Luar biasa.

Selama pelajaran berlangsungpun dia tidak henti-hentinya bertanya kepada saya. Terkejut untuk kedua kalinya, Adil ternyata bisa langsung menangkap apa yang saya jelaskan. Dia langsung bisa menyelesaikan soal yang kuberikan pada kelompoknya. Sewaktu ada teman yang berbicara, adil langsung mengingatkan agar tidak mengganggu pelajaran saya. Bener-bener kejutan di 6 bulan saya berada di SD 6 Payabakong.

Air mata ini sudah tidak tahan untuk keluar. Lelah sekali menahan air mata hingga akhir pelajaran. Bahagia bercampur terharu. Setelah pelajaran usai, adil memanggilku.

“Bu fara, preh lung (tunggu saya)” teriaknya

“kiban adil (gimana adil)”

“Salam dulu bu”, katanya sambil menarik tanganku dan menciumnya. “Adil anak carong (pintar) belajaar teruus yuk nak”.

“iya bu, saya mau”

Serasa mendapatkan berlian mendengarkan jawaban yang tulus dari adil. Subhanallah Adil berubah. Hingga sempat terlintas dalam benakku ‘benar-benar adilkan yang ku hadapi saat ini?’. Bukan mimpi ternyata, setelah kurasakan cubitan dibadanku. Adil benar-benar sudah adil pada dirinya. Sedikit demi sedikit dia mulai berubah ke arah yang lebih baik. Waktuku hanya tinggal 6 bulan lagi disini, waktu yang terbilang cukup singkat untuk bisa membentuk mereka semua. Saya yakin adil akan menjadi seorang pemimpin yang adil kelak nanti. Adil yang benar-benar adil.

Salam dari ujung barat Indonesia

Fara PM Aceh Utara

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran