Guruku yang Berumur 11 tahun
Astuti Kusumaningrum | 17 March 2012

Abdul Muis, itulah namanya. Ia baru duduk di bangku kelas V SD dan baru berumur 11 tahun. Walaupun begitu, ia adalah guruku. Guru silatku…..

Curugbitung, apalagi Kampung Gobang memang terkenal akan silatnya. Silat bukan hanya sebagai ilmu bela diri tetapi juga sebagai seni gerak dan tari. Di kampung ini, silat telah menjadi tradisi... Ada sunatan, maka warga ‘nanggap’ silat. Ada hajatan, warga pun, ‘nanggap’ silat. Dan Muis selalu ada di sana...

Pernah suatu ketika, kuutarakan keinginanku untuk belajar silat. Keesokan harinya, Muis mengetuk pintu rumah dan mengajakku untuk ikut ekskul silat di SMP Satap (satu atap), tempat bapaknya mengajar silat.

Setelah mempersilahkanku, ia kemudian berdiri di bagian paling depan dan memberikan panduan gerakan silat sementara bapaknya menabuh kendang dan memukul gong. Saat itu, aku terkagum-kagum. Muis yang notabene masih berumur 11 tahun dan duduk di bangku kelas V SD ikut mengajar silat teman-teman sebayanya bahkan anak-anak yang jauh lebih tua (SMP dan SMK) juga...

Setelah mengobrol dengannya, baru kuketahui bahwa Muis lahir dalam keluarga seniman dan keluarga persilatan. Sejak yang ia ingat, ia sudah belajar silat dari ayahnya, Pak Mbang. Kalau tidak gerakan silatnya, dia belajar musiknya dengan bermain kendang.

Ia adalah anak yang cerdas. Pada saat naik ke kelas V, ia berhasil mendapatkan rangking 2 di kelas. Dengan kemampuan silatnya, ia bahkan pernah tampil di ibukota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung. Sementara aku menjadi gurunya di sekolah, ia pun menjadi guruku, guru silatku....

Hari ini tepat 2 minggu sudah sejak terakhir kali aku belajar silat padanya.. Pada saat latihan terakhir bersamanya, 2 minggu lalu, ia terjatuh saat melakukan putaran salto. Hal itu menyebabkan tangannya patah dan membentuk huruf S. Aku masih teringat ekspresi ngeri dan panik di wajahnya saat melihat bentuk tangannya yang menyerupai kepala bebek. Bahkan masih terngiang-ngiang di benakku, tangisan dan teriakannya ketika aku menahan tubuhnya sementara tangannya diluruskan kembali oleh Mang Salam.

Jarak kampung yang jauh dari puskesmas ataupun rumah sakit membuat kemampuan dan pemahaman akan ilmu urut dan tulang yang dimiliki Mang Salam menjadi satu-satunya bantuan yang dapat diandalkan saat itu.

Kini, sudah 2 minggu, aku tidak menjumpainya duduk dan belajar di bangku kelasku. Beberapa hari lalu, aku mendapatkan kabar bahwa keadaan tangannya memburuk. Ia merasakan sakit terus-menerus pada jari-jarinya dan tidak bisa berhenti menangis.

Setelah tadi dibawa ke dokter dan di rontgent, di satu-satunya klinik rontgent yang berjarak 1 jam perjalanan dengan motor, ternyata kedua tulang tangan kirinya, tulang hasta dan pengumpilnya, patah. Bebat batang kawung atau aren tidaklah cukup untuk menahan tulang tangannya yang patah agar tidak bergeser. Satu-satunya yang bisa hanyalah pelat platina. Sementara, kalau dibiarkan terus menerus tanpa pelat, tangannya mungkin akan sembuh tapi dengan disertai kecacatan. Ketika kutanyai, satu-satunya hal yang menghalangi bapaknya untuk segera membawanya ke rumah sakit agar dipasang pelat adalah permasalahan dana. Suatu alasan klise yang vital.

Menjelang ulangan akhir semester, Muis tetap membaca dan belajar di sudut rumah yang menjadi tempat khusus baginya karena ia tidak bisa bergerak. Bergerak membuat tulangnya bergeser dan itu menyakitinya. Ia tetap berharap dapat mengikuti ulangan walaupun harus mengerjakannya di rumah.

Senyumnya selalu mengembang setiap kali melihat kedatanganku, namun aku merasakan kekhawatirannya. Akankah tangannya bisa sembuh seperti sedia kala? Akankah ia bisa belajar dan mengajar silat lagi?

Abdul Muis, guruku yang berumur 11 tahun....

Gobang, 20 November 2011 (pukul 22.30)

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran