Filosofi Desain Kenanga
Arumdari Nurgianti | 25 July 2015

Berjuanglah nak,,,anggaplah waktu setahun ini adalah kesempatanmu untuk merasakan pengalaman hidup Ibu di masa kecil dulu yang penuh dengan keterbatasan tapi sangat dekat dengan alam”.

Sebuah pesan dari Ibu tiba-tiba muncul memberi semangat di masa-masaku beradaptasi dengan tempat baru yang mungkin jauh dari zona nyaman. Satu bulan tak terasa telah dilalui, berjalan dengan kehidupan yang serba alami membawaku bisa merasakan sebuah filosofi dari semua yang pernah ku pelajari selama bertahun-tahun di kampus, kreatifitas tanpa batas melalui desain ternyata dapat kita temukan tanpa dengan alat yang canggih, software atau bahkan mesin yang hebat. Alam bisa lebih nyata mengungkap sebuah karya yang sangat indah. Warna, bentuk, tekstur menyatu menjadi sebuah keindahan.

Bidara Berwarna

“Ibu..e...Ibu..e...Mae liat sini ! Ini buah bidara ibu, coba kita pecahkan....”Tertegun dan...wawww...bidara itu mengeluarkan warna yang sangat indah, bidara yang matang mengeluarkan turunan warna merah ke jingga. Dan yang belum matang mengeluarkan warna turunan hijau ke kuning. Filosofi pertama yang mengungkap  warna.

Pasir Kali Dorolede

Aliran sungai dorolede yang tenang menemani keempat anakku untuk mandi di kali. Tak lama mereka berkumpul dan berkotor-kotoran dengan pasir hitam. Sementara ku amati saja kegiatan mereka, namun ditengah pengematanku, aku menghampiri mereka dan mengikuti aktivitasnya. Aku diajarkan bagaimana membentuk pasir yang basah menjadi sebuah bentuk gunung. Secara perlahan pasir itu angkat di keluarkan melalui sela jari, dan benar teksturya mengeluarkan bentuk seperti bebatuan gunung. Alhasil terbentuklah gunung yang berkawah lengkap dengan lempengannya. Menakjubkan...Filosofi kedua yang mengungkap sebuah bentuk.

Biji Pohon Pantai Kenanga

Matahari barulah terbit, namun kami sudah semangat menghirup udara pantai. Anak-anak berlarian dan mengajakku untuk mengumpulkan biji-bijian berserakan di pesisir yang tak lain berasal dari sebuah pohon yang sangat besar. Anak-anakku mengajarkan penataan biji menjadi tata letak rumah yang didalamnya ada kamar, ruang tamu dan dapur. Luar biasa, biji itu tertata sangat indah buah hasil dari anak-anakku. Mereka bercerita satu sama lain dari kegiatan yang ada di rumah. Filosofi ketiga yang mengungkap penataan.

Bongsay Mahkota

Sekelompok anak sedang mempersiapkan perlombaan sholawat yang diadakan di desa kenanga. Terlihat ada yang menarik digunakan diatas kepala anak-anak tersebut. Bunga bongsay yang dirangkai, ditata sehingga membentuk mahkota yang sangat indah. Aku hampiri mereka, benar bunga asli bongsay yang mereka dapat dihalaman rumah dibuat menjadi karya yang indah. Hanya dengan benang, mereka rajut perhelai  disusun menyesuaikan kepala mereka masing-masing. Filosofi keempat yang mengungkap sebuah fungsi.

Bersyukur...baru satu bulan ini aku mendapat banyak sekali inspirasi dari anak-anak Kenanga, apakabar dengan waktu setahun. Semua yang mereka ceritakan akan sangat berguna untuk menggali kreatifitas. Kelak anak-anak ini akan bisa mengkolaborasikan keindahan warna, bentuk, tata etak , tekstur menjadi sebuah mahakarya. 

Filosofi desain dari kenanga membawaku untuk lebih peka dengan alam. Ya...alam yang mengewali adanya keindahan di dunia ini.  

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran