info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

Cerita R.A Kartini dari Polce, Jagoan Kelas 3

Anggun Piputri Sasongko 7 Mei 2013

 

Hari ini saya bangun pagi langsung menuju kalender yang terpampang ditembok kamar. Selasa, 17 April 2013.  Berarti 4 hari lagi tanggal 21 April yang diperingati sebagai Hari Kartini. Tapi sayangnya saya lihat 21 April jatuh di hari Minggu, yang artinya sekolah libur. Tentunya saya tidak bisa merayakan bersama anak-anak di sekolah.  Apalagi sekarang musim kerja sawah, di hari libur anak-anak wajib ikut orangtua ke sawah atau kebun. Salah satunya untuk jaga burung.

Jadwal mengajar hari ini hanya 2 jam pelajaran di kelas 6. Pagi berarti saya tidak ada jam mengajar. Kebetulan sekali, Pak Ot yang adalah wali kelas 3 tidak hadir. Sayapun berinisiatif mengisi di kelas 3. Senang bukan main rasanya. Di akhir masa tugas jadi punya banyak kesempatan bersama anak-anak di kelas. Jam pelajaran pertama di kelas 3 hari ini adalah mata pelajaran IPS. Tidak ada buku paket, karena kunci lemari di bawa Pak Ot.  Akhirnya saya memulai dengan bercerita. Itu senjata saya setiap mengajar, apalagi ketika anak-anak begitu antusias mendengarnya.

Saya teringat tadi pagi, kalau 4 hari lagi Hari Kartini. Mulailah saya bercerita tentang pahlawan. Sampai akhirnya Kartini menjadi pilihan ceritanya. Ditengah cerita saya mengajarkan anak-anak menyanyi lagu Ibu Kita Kartini. Mereka cepat sekali menangkap apa yang saya ajarkan. Hanya dua kali latihan, anak-anak sudah mampu bernyanyi dengan lantangnya. Cerita saya lanjutkan kembali. Bel berbunyi tanda pelajaran berakhir. Namun cerita saya belum selesai. Bahkan nama lengkap Ibu Kartini saja malah belum saya ceritakan kepada anak-anak. Lalu saya janji, “nanti ketika pelajaran Ibu, Ibu akan selesaikan ceirtanya. Kalian boleh cari foto Ibu Kartini dan cari tahu siapa nama lengkapnya”.

Begitu saya selasai dan bersiap berjalan keluar kelas, tiba-tiba satu dari mereka angkat tangan dan mengucapkan “Raden Ajeng Kartini, Ibu” saya betul-betul terkejut. Langkah saya hentikan, berbalik dan mencari tahu siapa. Sambil saya bertanya kemudian berdirilah Pemberani cilik bernama Polce, “Raden Ajeng Kartini”.

Sayapun bertanya darimana ia tahu. Dan memberikan kesempatan untuk Polce bercerita tentang apa yang ia tahu tentang R.A Kartini. Siswa SD di daerah pelosok cenderung belum mengerti bagaimana bercerita. Ini memang kelemahan mereka. Mungkin saja karena terbiasa memakai bahasa daerah sehari-hari maka ketika di kelas mereka cukup kesulitan ini menyusun kata demi kata. Perbendaraan kata yang juga belum banyak mereka ketahui. Kembali lagi tentang Polce, ia lagi-lagi mengucapkan “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebelum saya bertanya lagi Polce bilang, saya tahu dari Bapak dirumah, Ibu. Pernah juga melihat di buku, katanya. “Ibu Kartini membela perempuan  agar bisa sekolah”

Lewat tulisan ini, jauh dari pojok selatan Nusantara, bagi seluruh perempuan Indonesia dimanapun berada. Selamat Hari Kartini. Salam dari jagoan-jagoan saya kelas 3.

 

“Tiada  awan dilangit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan kehidupan manusia serupa alam”

 


Cerita Lainnya

Lihat Semua