Teras Baca dan Ruang Pintar Panamboang : Say No to Information Poverty (2)

Oleh: Aisy Ilfiyah (Angkatan I) | 27-07-2011
Tak berhenti pada teras baca, saya ingin semua anak dari kelas 1 hingga kelas 6 menyukai buku dan terbiasa dengan aktivitas bernama “membaca buku”. Tapi, buku dari mana??? permasalahan kembali muncul. Kemudian, masalah tempat?? Teras baca tak mungkin menampung semuanya. Dengan usaha merayu kepala sekolah dan guru-guru di tengah konflik internal sekolah yang memanas, Alhamdulillah akhirnya saya diperbolehkan memanfaatkan ruangan yang sebelumnya hanya digunakan sebagai gudang. Sejak bangunan sekolah ini didirikan secara permanen, ruangan ini tak terjamah oleh siapapun selain kursi dan meja rusak yang menghuninya. Sebenarya, ruangan ini tak begitu luas, hanya berukuran 3 m x 5 m. Namun, ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Masalah tempat, akhirnya tak begitu menjadi kendala. Dengan mengerahkan bantuan anak buah (siswa yang menjadi anggota teras baca), ruangan bekas gudang itupun kami sulap menjadi ruangan bersih dalam waktu yang tidak lama. Sekarang, masalah buku. Sebenarnya, saya yakin masih banyak orang (di luar sana) yang bersedia untuk berbagi dengan kami disini. Pernah juga sekolah mendapatkan bantuan buku dari provinsi, meskipun cuma satu kali. Bantuan buku sebanyak 5 kardus ukuran sedang. Namun sungguh mengenaskan, dari 5 kardus buku yang diberikan, tak ada satupun yang berisi buku pelajaran ataupun buku anak-anak. Semuanya adalah buku-buku sampel promosi dan buku sisa cuci gudang. Bagi saya, buku bekas pun tak masalah, asalkan sesuai dengan kebutuhan pembacanya, yaitu anak-anak. Tapi ini??? buku-buku yang saya sendiri “malas” membacanya. Buku-buku promosi parpol, promosi tokoh tertentu untuk sebuah jabatan, buku untuk meningkatkan spiritualitas, dsb. yang masing-masing judul sebanyak 20-30 eksemplar. Nah Lo???? “Orang yang berkuasa” di tingkat provinsi saja tak cukup pintar untuk memahami buku apa yang cocok untuk siswa SD. Mengenaskan sekali. Tak mau pusing dengan orang-orang di propinsi sana, Alhamdulillah pertolongan Allah berupa buku tak lama kemudian bisa terpenuhi. Lantaran tangan orang-orang yang peduli dengan pendidikan, sekolah mendapat bantuan banyak buku dari Indonesia Mengajar (buku pelajaran, majalah, dan beberapa komik sains), Yayasan 1001 buku (melalui teman pengajar muda, Hendra Aripin), dan Universitas Airlangga melaui program pengabdian masyarakat pun turut andil dengan mengirimkan  buku pelajaran dan ensiklopedia anak dalam jumlah yang cukup besar. Subhanallah,, Allah membuktikan bahwa memang masih banyak orang-orang yang mau peduli dan berbagi. Tempat?? Ada. Buku?? Ada. Dua syarat telah terpenuhi untuk segera menyulap gudang menjadi ruang baca untuk anak. Sebenarnya, saat itu bisa saja buku-buku hanya ditata di atas meja. Namun, otak ‘licin’ saya kembali beraksi. Seingat saya, belum lama ini, sekolah mendapat dana BOS dalam jumlah yang cukup lumayan. Sebaiknya, saya cepat-cepat mengajukan proposal pada kepala sekolah untuk pengadaan rak buku. Saya kerap kali merasa beruntung karena memiliki kepala sekolah yang memiliki pemikiran terbuka, dan paham betul dengan kebutuhan siswa (Meskipun hampir semua guru di sekolah ini masih bermasalah dengan komitmen dan hampir tak pernah mendukung kebijakan yang dibuat olehnya). Permohonan saya untuk pengadaan rak buku pun tak mengalami kendala yang berarti. Rak berukuran sedang yang cukup untuk menampung 500an buku pun akhirnya dapat kami miliki. Dengan beramai-ramai, kami mengecat sendiri rak tersebut dengan warna yang beraneka rupa. Anak-anak dengan senang hati ikut menempel dan menghias dinding ruangan. Menyenangkan sekali. Oia, ruangan ini memiliki nama “Ruang Pintar SDN Panamboang” dengan jargon, “Siapa yang ingin pintar, boleh masuk ruang pintar”. Jargon ini ternyata cukup provokatif pada anak-anak. Terbukti, ruangan ini hampir selalu dipenuhi anak-anak pada jam istirahat sekolah. Ruangan ada, buku ada, rak juga sudah ada. Untuk semakin melengkapinya, saya membentuk tim pustakawan kecil (Puscil) yang nantinya menjadi pengurus dan pengelola Ruang Pintar ini. hehehehehe.... Alhamdulillah, banyak anak yang penasaran dan tertarik untuk mengikuti program ini. Puluhan anak mendaftar untuk menjadi anggota puscil, namun setelah melakukan seleksi, saya hanya mengambil 10 anak pilihan. Tugas mereka sama seperti halnya tugas dan fungsi pustakawan perpustakaan. Puscil melakukan pengolahan buku, mulai dari inventarisasi, mengklasifikasikan buku (mengelompokkan buku berdasarkan subyek: bahasa, sains, sosial, sejarah, dsb.) hingga memberikan label pada buku. Menyenangkan sekali bukan??? Setiap hari ada 3 puscil yang bertugas di Ruang Pintar ini. Mereka bertugas pada setiap jam istirahat sekolah untuk melayani siswa yang datang ke ruang pintar. Sedangkan training kepustakawanan dilakukan setiap hari Senin pukul 13.00 – 14.00 WIT. Pada 15 April 2011 lalu, Ruang Pintar ini diresmikan oleh Wakil Rektor I Universitas  Airlangga dan dihadiri pula oleh banyak undangan (Kadikdas dan Kadikmen Dinas Pendidikan Halsel dan staf, kepala desa, kepala dusun, komite serta wali murid). Saat itu, saya (merasa) melihat ratusan senyum di banyak wajah. Wajah semua yang hadir, juga wajah anak-anak, dan tak terkecuali saya sendiri. Saya yakin, itu adalah senyum harapan. Harapan untuk segera meninggalkan information poverty. (Panamboang, 25 April 2011, catatan lama yang gak sempat2 d’upload dan ngendon d’laptop selama berbulan-bulan, karena penulisnya mempunyai alasan klasik, malas upload)