#7 Kelasku Selalu Ramai
Agung Cahya Nugraha | 19 October 2012

 

Mulai senin ini (15/10/2012) SD kami tidak lagi menggunakan guru bidang study. Semua guru dijadikan wali kelas. itu artinya semua kelas di pecah dua, dari kelas 1 hingga kelas 6. SDN Karang Agung tempat penempatan saya memang dikaruniai jumlah murid yang sangat banyak, ada sekitar 400-an siswa yang terdaftar di database kami, maklum dusun kami padat penduduk.

karena kebiasaan orang tua di sini (juga guru-guru) yang hobbi sekali menggunakan kekerasan (menangani, bahasa sininya) untuk mendidik anak-anak mereka, saya agak kesulitan mengontrol kelas. Setiap hari selalu saja kelas ribut. Walau anak putri cenderung kalem dan penurut, beberapa tingkah segelintir anak putra sudah cukup membuat kelas ramai.

Tentu saja, Panji dalah jagoan saya yang selalu menjadi biang di balik setiap keributan di kelas saya. Anak ini cerdas, dan seperti anak cerdas lainnya ia gampang bosan. Kalau tugas yang saya berikan sudah selesai, dia akan mencari kesibukan lain: mengganggu anak putri,  mengganggu teman yang ada di dekatnya, yang lebih aneh lagi kalau sudah tidak ketulungan, ia akan berguling di lantai tanpa maksud yang jelas. Anehnya teman-temannya tidak ada yang mempedulikannya, mungkin mereka sudah maklum. Saya pun lama-lama menjadi maklum.

Kalau menyebut nama Panji di ruang guru, beberapa guru akan tertawa dan mengucapkan selamat kepada saya. Anak ini memang sudah amat sangat terkenal sulit diatur.

Nah, kebetulan hari ini Panji tidak masuk, katanya ia harus membantu kakaknya bekerja mengumpulkan sawit. Memang kebiasaan anak-anak di sini, kadang mereka tidak bisa bersekolah karena harus membantu orangtuanya bekerja, walau ada juga anak yang memang malas datang ke sekolah.

Saya sedikit bisa bernafas lega karena hari ini Panji tidak masuk kelas. Kelas akan sedikit mudah saya tangani, pikir saya. Maklum, karena tidak ada guru bidang study, artinya saya akan full mengajar anak-anak ini sepanjang minggu dari senin hingga sabtu, tambah lagi latihan pramuka dan les di hari minggu. Itu artinya akan menjadi sangat melelahkan kalau anak-anaknya sulit diajak bekerja sama.

Lima menit pertama kelas berjalan lancar dan meyenangkan. Asik, kelas akan berjalan lancar hari ini, pikir saya. Sialnya,  saya keliru. Beranjak ke menit ke 30 anak-anak yang tadinya tidak terlalu berisik saat ada Panji, mulai membuat ulah. Menabuh-nabuh meja, membuat kegaduhan.

Saya larang, kemudian mereka menggati kegiatan lain: mengganggu teman lainnya, dan memuat banyak keributan lainnya lagi, yang membuat saya menahan nafas, mengelus dada dan mengepalkan tangan. Sisa hari itu saya habiskan bulak-balik menenangkan biang kerok imitasi tadi dan menjelaskan materi yang ditanyakan anak-anak putri.

Setelah kelas berakhir, saya menghembuskan nafas lega.

Ternyata, ketika Panji tidak hadir, kelas tidak menjadi lebih mudah dihandle.

Ketika biang kerok absen, akan ada anak lain yang mengambil jabatan biang kerok sementara. Se-prestise itu kah jabatan itu, sampai tidak boleh ada vacum of power?

Saya tersenyum sambil menutup pintu kelas.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran