#5 Anakku menepati janji
Agung Cahya Nugraha | 28 September 2012

 

Hingga hari itu saya masih menjadi orang yang menganggap remeh tentang janji. Maksud saya, sebagian dari kita kan  (termasuk saya, hehe) ketika berjanji akan sesuatu, misalnya jalan pagi bareng, akan bilang ‘insya Allah’ dengan ringannya, kemudian besoknya lupa pada janji yang kita buat.

Tapi di sini, justru saya diajari oleh anak-anak SD ini bahwa janji merupakan kalimat suci yang harus ditunaikan. Suatu sore saya pernah berjanji pada anak-anak kalau sabtu nanti kami akan merujak bareng.

Tiba lah hari yang dimaskud. Saya benar-benar lupa, dan sedang kurang sehat. Tiba-tiba suara langkah kaki yang banyak menyerbu, ada suara mengetuk-ngetuk pintu kamar. Begitu saya buka, wajah berbinar memenuhi kusen pintu.

“Ngapain?”

“Ngerujak jadi ngga pak?”

Saya kaget setengah mati, anak-anak ini ingat betul apa yang pernah saya janjikan, mereka tak pernah lupa. Dengan tatapan penuh antusias dan penasaran, mereka benar-benar datang menagih janji yang saya buat.

Pernah di hari lain, saya dibilang begini sama murid saya,

“Pak kita kan nda boleh melanggar janji ya?”

“Iya”

“Sekarang kan jumat, waktu itu pak pernah bilang kalu jumat pak mau main bola kaki sama kami”

Saya tersenyum.

“Hayu kita main, nanti ya mainnya istirahat. Sebentar lagi,” anak itu mengangguk dengan wajah puas, lalu menyampaikan pada temannya. Sedetik kemudian terdengar teriakan hore dari gerombolan anak laki-laki.

Dari situ saya mulai belajar agar tidak menghianati janji yang saya buat, terutama janji kepada anak-anak. Mungkin karena saya selalu teringat wajah polos dan antusias mereka saat menagih hutang rujak dulu, saya menjadi tidak tega untuk menghianati sebuah janji.

Suatu sore, tiba-tiba saja terbesit sebuah ide untuk menangani anak yang sulit di atur di kelas. Kebetulan, anak itu adalah anak yang menagih janji maen bola pada saya tadi. Panji namanya.

“Ji sini, “

“Apa pak?”

“Kenapa ya panji ini, kalau pak bilangin susah banget nurutnya. Harus berulang-ulang baru mau nurut, kasihan kan teman lain kamu ganggu terus,”

Panji terdiam, sedang berfikir.  Anak ini cerdas, dia selalu mengeluarkan jawaban cerdas untuk ngeles dan menghindar. Namun kali ini saya tahu dari air wajahnya kalau dia sedang terpojok,pasalnya barusan dia tertangkap mata sedang menarik-narik kuncir dua rambut teman perempuan sekelasnya, sedang main kuda-kudaan dengan itu.

“Panji mau janji ngga, kalau bapak bilang sekali nanti panji langsung nurut.”

Anak ini terdiam, ia sedang berfikir, tidak langsung menjawab.

“Panji itu pinter, piinter banget. Kali-kaliannya jago. Cuman itu, panji itu susah dibilanginnya. Dibilang berkali-kali dulu baru nurut.

Gimana, mau janji ngga sama pak?” saya memang jujur dan royal kalau memuji. Anak-anak di sini sering dimarahi guru dan diejek teman, mereka jarang sekali mendapat pujian. Makanya mereka senang sekali kalau mendapat pujian. Dan saya selalu berusaha memberi pujian yang tulus dan jujur.

Akhirnya setelah beberapa lama dia tersenyum. Anak ini tiba-tiba menyodorkan tangannya padaku sambil tersenyum.

“Deal,” katanya.

Hatiku meloncat bahagia, mungkin dengan cara ini anak ini bisa saya kontrol.

“Cowok sejati ngga pernah ingkar janji. Bapak pegang kata-kata kamu ya, deal!”

Dan begitu terkejutnya saya, ketika besok, saya menemukan panji menjahili teman perempuannya.

“Panji, duduk, ngga boleh begitu sama perempuan,” kata saya.

“Siap tuan mude!” sambil menghormat seperti hormat bendera, lalu berlari ketempat duduknya.

saya tertegun. panji benar-benar menepati janjinya. menepati janjinya sebagai laki-laki sejati.

Dari mereka saya belajar tentang menepati janji, justru dari anak kecil berumur 10 tahun, anak SD yang saya wali kelasi.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran