#2 Sarapan Pagi
Agung Cahya Nugraha | 13 July 2012

 

Pagi ini aku duduk di meja, menikmati sarapan yang disiapkan nenek (aku memanggilnya ibu, meskiumurnya sudah 60-an). Seperti biasa, waktu makan selalu ku gunakan untuk mendengar cerita dari orang-orang rumah, cara untuk menjadi bagian dari mereka.

"Bu, kapan Aan pulang dari Palembang?" kataku.

Aan adalah anak pertama dari ibu piara ku (Bu Mus), anaknya nenek. Aan yang kuliah di UIN Palembang sudah beberapa bulan terakhir berhenti kuliah, padahal jarang sekali ada anak Sungai Kubu (nama dusunku) yang bisa keluar berkuliah ke Palembang. Kebanyakan mereka putus di SMP atau SMA.

Ibu tersenyum, mengaduk kopi hitamnya lalu bertutur dengan logatkhas yang pelan dan lembut. Ia bercerita dalam bahasa palembang sambil menerawang, menceritakan apa yang pernah ia alami.

Dari tempatku duduk aku bisa merasakan perih-nya ibu.

Orang tua Aan tidak mengerti kenapa Aan berhenti kuliah, mereka bingung padahal dari segikeuangan,sebenarnya Aan tidak perlu bingung. Bu Mus dan Pak Sri (orang tau Aan) sudah mengusahakan agar Aan tidak kekurangan.

Kata nenek, untuk membiayai biaya sekolah Aan, Bu Mus yang sekarang bekerja sebagaiguru honorer di sekolahku dulu pernah jadi tukang kredit. Keliling dusun tiap hari menawarkan barang elektronik. Dulu tuh kita masih susah, katanya.

Bahkan sekarang pun, sambil menjadi guru, Bu Mus masih berjualan baso memenuhi pesanan orang dusun dan PT (sebutan perusahaan sawit di sini). Ia sering bulak-balik palembang untuk belanja bahan-bahan bakso, padahal biaya bulak balik dengan speed boat itu sendiri tidak murah, dan jadwal speed boat ke palembanghanya ada jam 2 dini hari.

Nenek sedih. Kalau melihat perjuangan dirinya dulu untuk mensekolahkan Bu Mus dan anak-anaknya yang lain. Kalau dirasa-rasa, berat nian membanting tulang mencari uang. Ia berlelah-lelah dan mengesampingkan rasa malu berjualan nasi, keliling dusun menjual sayur dan mencari pinjaman. Semuanya untuk anaknya, agar anaknya bisa sekolah. Alhamdulillah anak-anaknya dah jadi 'uong' (orang) sekarang.

"Biarlah gajihnya kecil, tapi 'lemak' (enak) kalau kerja pakai baju bersih, tempat bersih. Nda kaya mbah (kakek), sudah capek, keringatan, badan bau, gajinya kecik pulo (kecil pula)", kata mbah yang pekerjaanya sampai sekarang adalah menggarap kebun.

"Kalau ingat dulu, mbah yang SD saja nda tamat, nyesel nian rasanya. Padahal anak-anak sekarang, uang ado, sekolah banyak. Mereka belajar, mereka pinter, itu semua untuk mereka sendiri nantinya. liat saja saya mas, sekolah nda tamat, sudah tua nya masih gini-gini bae," tambah kakek dengan logatPalembangnya.

Aku terenyuh. Jadi ingat Ibu Bapakku di rumah. Pastilah sama pikirannya seperti orang tua ini. Aku jadi malu sendiri kalau ingat masa-masa sekolah ku dulu yang terlalu banyak main-mainnya ketimbang belajar.

Baru dua hari aku pindah ke rumah ini (sebelumnya aku masih tinggal di rumah PM 2), sudah begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan. Tentang ketulusan, tentang kerja keras dan keluguan mereka. Juga tentang bersyukur karena pernah kuliah. 

 "Senin besok Aan pulang, kalau jadi" kata nenek akhirnya.

Amuba!!!                                           

Dayung dayung dayung!

Rabu 4/7/12/17.44

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran