#1. Dua bulan
Agung Cahya Nugraha | 04 July 2012

“Dua bulan bersama keluarga PM4 adalah bagian terbaik perjalanan hidupku”.

Di sana terlalu banyak pelajaran yang didapat. Mulai dari belajar mengemukakan pendapat, belajar menahan pendapat, belajar maju untuk memimpin, belajar berani menjadi yang dipimpin, berlajar mengalah, belajar ngotot, belajar menjadi diri sendiri.

Sekaligus, 2 bulan ini telah benar-benar menguliti diri. Hingga makin lah sadar kalau diri begitu kerdil, begitu banyak hal yang harus dilakukan untuk beranjak. Makin hari makin kagum akan sosok-sosok PM lain yang (sebenarnya sudah) berkilauan dengan sendirinya. Berkilau karena pandangan hidupnya yang dalam, karena pengalamannya yang luas, karena prestasinya yang hebat, karena kecerdasannya yang mengagumkan.

2 bulan luar biasa ini telah menyadarkan bahwa kami ini adalah 71 manusia aneh, yang telah tak sadar mengikatkan diri masing-masing pada sebuah tiang besar yang disebut Pengajar Muda Angkatan ke-4, di bawah payung Indonesia Mengajar yang menancap kokoh di atas bumi Nusantara.    

Dalam 2 bulan ini, di antara kita, tak ada lagi kebohongan. Semua adalah keluguan. Semua kita dengan polosnya terbahak-bahak, tertawa bahagia, bersyukur syahdu, berharu-biru, kecewa marah, mengelus dada, tersenyum senang (apa lagi saat pengumuman penempatan). Saat itu kita semua berhimpun, saling menguatkan, menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama (saat itu aku benar menangis, kebanyakan kita pun begitu), masih ingat kah?

Di antara nafas yang kita hirup bersama, di sela-sela pelatihan kopassus, makan di tenda biru, coffee break, sesi di ruang Iphone (BB dan Matriks), me time, olahraga, piket, group time, ice breaking (maga-maga, teko kecil, tidur di kasur), pancek, juga plano. Semua ikatan dengan beragam titel, tanpa sadar, terjalin. Perseteruan kecil, perteman, persahabatan, rasa sayang, perasaan cinta, kagum, persaudaraan, yang semuanya bermuara ke dalam sebuah kata yaitu keluarga (aku sudah merasa kalian adalah keluargaku).

Karenanya, begitu berat hati ketika melepas keluarga PM4 satu per satu di Wisma Handayani dan Bandara pergi. Pergi untuk tak berkumpul lagi kecuali satu tahun mendatang. Dari 71, berkurang lah tim MTB 7 orang, Bawean 6 orang, kemudian satu persatu menyusul hingga kini aku sendiri. Kalian benar-banar pergi hingga mustahil untuk kita semua berkumpul lagi kecuali tahun depan.

Kini, aku sendirian, di tanahku. Kaki beralas sendal jepit basah di atas dermaga kayu buatan yang pancangnya dibasahi aliran sungai Kubu (anak sungai Musi). Hamparan air kecoklatan lebar bergerak-gerak pelan, memantul-mantulkan cahaya senja. Di belakang, sebuah sekolah menunggu ku.

Sebuah sekolah dengan ratusan anak-anak yang gelak tawanya tiba-tiba saja ingin aku jaga, tiba-tiba saja teriakannya ingin selalu aku dengar, tiba-tiba saja derap kakinya yang ingin aku ikuti, tiba-tiba saja mimpi-mimpinya ingin aku peluk dan terbangkan tinggi.

Oh iya, (sebenarnya) aku tidak benar-benar sedang sendiri menatap lembayung itu. Sekelilingku ada banyak malaikat-malaikat kecil. Berteriak lucu, berkerumun sambil tergelak polos dengan mata-mata yang berbinar bening.

Lalu...

“Dua bulan bersama keluarga PM4 adalah bagian terbaik perjalanan hidupku”?

(Kita lihat satu tahun ini kawan :)

The journey just begins

AMUBA!!!!

Dayung dayung dayung!                                 

Selasa /3 juli 2012 /22.00

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran