Pemimpin Kecil ini, Bernama Rendy
Adji Prakoso | 10 July 2012

Namanya Rendy, siswa kelas 4 SDN Kepayang. Dari sosok manis ini, saya belajar mendalam tentang kepemimpinan dan pengorbanan. Nilai kepemimpinan yang ditunjukannya tidak hanya diucapkan normatif lewat bibir. Rendy membuktikan dirinya seorang pemimpin yang rela berkorban lewat langkah kongkrit, meskipun yang dilakukan bisa membahayakan keselamatanya. Namun demi orang tua, guru atau teman-teman yang dicintai, dia berkorban melebihi batas usianya.

Pertemuan awal dengan dirinya tidak terlalu istimewa. Saya memperhatikan Rendy sebatas anak yang punya kemampuan fisik kuat dan bakat olahraga. Saya belum melihat bakat kepemimpinan muncul dari sosoknya. Bakat olahraganya memang diatas rata-rata temannya, dia piawai menggiring si kulit bundar dan tembakan keras menggetarkan nyali penjaga gawang rival timnya. Rendy mencintai sepakbola, bahkan menjadikan olahraga yang digandrungi seantero bumi ini sebagai cita-cita di masa depan. Rendy juga ciamik melakukan smash menyilang dan ahli menghalau bola-bola keras yang menyambar areal timnya. Bukan hanya pintar bermain sepakbola, sosok manis ini juga berbakat di olahraga volley.

Karakter pemimpinnya terlihat saat kami melakukan pengajian rutin di rumah ibu Kepala Sekolah. Sebelum pengajian dimulai, aktivitas yang dilakukan shalat Maghrib bersama. Saat meminta seorang siswa mengumandangkan adzan, yang terdengar suara saling tunjuk nama temannya. Namun tidak lama berselang, terdengar suara menyatakan siap jadi muadzin. Dia adalah Rendy, siswa yang piawai dan berbakat dalam olahraga. Tanpa instruksi, saya mengiyakan kesanggupannya menggemakan panggilan shalat. Saya perhatikan seksama lantunan adzan yang keluar. Merdu suaranya dan penuh penghayatan. Dari moment ini karakter seorang pemimpin yang berani dan menghayati tanggung jawabnya muncul di sosok Rendy.

Nilai kepemimpinan Rendy juga muncul esok harinya di sekolah, Rendy memberikan kue bolu kepada pengajar muda angkatan 2 ibu guru Milastri Muzakkar. Kue itu hasil buah tangannya sendiri. Inilah simbol kasih sayang dan hormatnya kepada ibu guru Mila. Kasih sayang dan penghormatan Rendy kepada ibu guru, nilai kepemimpinan yang wajib diteladani. Bukan hanya saya kagum atas sikap mengasihi dan hormatnya kepada seorang guru, saya  perhatikan raut wajah mbak Mila memancarkan kekaguman, ketika Rendy menyerahkan kue bolu hasil olahannya itu.

Malam harinya saat hendak makan bersama setelah pengajian. Rendy menunjukan karakter kepemimpinan yang kuat. Di saat ada beberapa teman-temannya lupa membawa bekal makan bersama. Dia ikhlas dan tanpa komando membagi kuenya. Meskipun dia tidak membawa bekal kue yang banyak. Sekali lagi dia menunjukan karakter pemimpin yang tulus berbagi untuk kepentingan bersama. Walaupun yang dibaginya adalah barang kesukaan. Saya jatuh cinta dengan sikap kepemimpinannya. Saya mendekat dan berbicara kepada Rendy “kamu hebat berbagi kue dengan teman-teman. Ini kue buat sendiri atau ibu yang membuatnya?”. Rendy menjawabnya sembari tersenyum, “Iya kue ini saya buat sendiri pak, saya sejak kecil diajarkan ibu memasak. Jadi sudah terbiasa memasak makanan sendiri”. Pembelajaran tentang kemandirian juga dipetik dari tindakan Rendy memasak santapannya sendiri. Inilah kemandirian sejak kecil yang dibiasakan akan terakumulasi membesar di kemudian hari

Esok harinya ketika acara perpisahan mbak Milastri Muzakkar. Dia membantu saya mengabadikan moment perpisahan lewat foto. Saya mengajarkannya sebentar, namun hasil jepretannya bersaing dengan orang yang terbiasa memotret. Apalagi foto yang diabadikan menggunakan kamera dslr, dimana tingkat kesulitan pemakaiannya tinggi. Rendy rela mengorbankan dirinya sedikit muncul dalam foto, dibandingkan teman-temannya. Namun hati ini bersedih, mendengar kecelakaan menimpa sosok pemimpin cilik itu. Rendy terjatuh dari ketinggian dan mengalami  patah tangan, saat dirinya membantu merapikan tenda yang digunakan perpisahan mbak Mila. Kisah sedih itu, terjadi ketika dia naik ke atas bergegas menurunkan besi tenda, tiba-tiba dirinya terjatuh kebawah. Saya terkejut mendengar Rendy mengalami musibah ini, karena sedang mandi saat kejadian itu terjadi. Pengorbanan yang luar biasa ditunjukannya meskipun resiko yang dihadapinya besar.

Saya belajar nilai kepemimpinan dari tindakannya. Kepemimpinan yang tidak hanya terurai dari ucapan, namun lahir dari perbuatan. Rendy jadi sosok inspiratifku. Saya berharap tinggi, kelak mutiara hebat ini jadi pemimpin yang mengharumkan desa tanah kelahirannya dan Indonesia. Cepat sembuh Rendy, siswa dan guru belajarku tentang kepemimpinan

Aku tambahkan permintaan dalam doa, Semoga kelak engkau jadi pemimpin bermanfaat yang berkontribusi untuk kemajuan desa dan tanah air ini.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran