Obor Penerang Malam Kemenangan
Adji Prakoso | 15 October 2012

Berawal dari perbincangan sederhana dengan beberapa murid di bawah rumah orang tua asuhku di desa. Perbincangan membahas kegiatan apa yang dilakukan untuk menyambut malam penuh makn ? Malam yang dirayakan penuh suka cita oleh seluruh umat Islam dipenjuru dunia. Maklum saja selama ini, saya hanya penikmat atau peramai malam kemenangan bagi umat Islam.

Tahun ini kondisinya berbeda 100 % karena dipundak ada amanat mendidik anak-anak di desa terdalam. Kehormatan jadi pendidik bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi ada tanggung jawab membentuk karakter siswa didik. Pintu utama pendidikan karakter adalah menanamkan nilai moral dan cinta tanah air. Penanaman nilai moral jelas membutuhkan siraman ajaran keagamaan, namun harus dengan metode yang mudah dipahami anak-anak.

Merayakan malam jelang hari kemenangan “Idul Fitri“ salah satu upaya mendekatkan anak-anak kepada nilai agama yang dianutnya. Apalagi mendengar penuturuan beberapa murid sekolahku, selama ini tidak pernah ada perayaan malam kemenangan yang dikhususkan untuk mereka. Gema takbir yang berkumandang hanya terfokus di masjid, itupun harus berbagi dengan orang dewasa. Jelas suasana yang tidak menarik bagi anak-anak.

Perbincangan dengan anak murid di bawah rumah orang tua asuh berakhir gembira, ketika beberapa murid sepakat dengan ideku menggemakan takbir keliling desa menggunakan obor. Satu jam kemudian kami bergerak menuju hutan di belakang desa, mencari bambu sebagai bahan pembuat obor. Saat berjalan ke hutan belakang desa, rombongan kami bertemu dengan anak-anak SMP. Saya langsung utarakan ide bertakbir keliling desa. Mereka tanpa tedeng aling-aling langsung bersedi jadi bagian didalamnya malam nanti. Sungguh bagaikan pepatah pucuk dicinta ulam tiba.

Waktu di rumah orang tua asuhku menunjukan pukul 19.00 WIB, saya langsung bergerak menuju lapangan sekolah, tempat yang disepakati sebagai start awal menabuhkan takbir keliling desa. Sempat sedih karena hanya 15 anak yang berkumpul dilapangan sekolah untuk  menggemakan takbir keliling desa. Modal keyakinan bahwa yang dilakukan bermanfaat kami langkahkan kaki menuju hulu desa walaupun dengan personil seadanya. Selain personil seadanya, takbir hanya bisa di gemakan lewat toa yang dipinjamkan perangkat desa. Namun lantunan takbir berkumandang lantang di langit desa kepayang, kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan.

Kepercayaan atas manfaat bertakbir keliling desa, disambut hangat oleh masyarakat. Jumlah anak-anak yang merapat dalam barisan diperjalanan menuju hulu desa bertambah banyak. Bahkan pemuda-pemuda ikut ambil bagian. Orang tua yang menyaksikan anaknya mengumandangkan takbir juga melemparkan senyum penuh suka cita. Sungguh suasana yang menyejukan jiwa. Ini pengalaman berharga yang terukir indah dalam memori jangka panjangku.

Ketika melintas di depan masjid, yang letaknya di hulu desa. Kami bergabung dengan rombongan pembawa beduk yang dikomandani beberapa anak SMP. Mereka sengaja menunggu barisan kami melintas. Suasana semakin meriah ketika bedug masuk dalam barisan. Jumlah anak-anak yang bergabung juga semakin membludak. Bahkan hampir seluruh anak didesa merapat dalam barisan penggema takbir di desa Kepayang. Setelah ujung hulu sudah kami singgahi, perjalanan memutar menuju hilir desa lewat jalan yang sama. Sambutan masyarakat di hilir desa sama sumringahnya dengan di hulu. Selanjutnya barisan menuju sekolah, untuk menggemakan takbir. Gema takbir di lapangan sekolah berlangsung lama sekaligus menutup takbir keliling di desa Kepayang. Sungguh pengalaman indah yang tidak tergantikan dengan apapun.

 

“ Meskipun ini malam kemenangan pertama jauh dari kehangatan keluarga. Namun jiwaku tidak merasa dalam keheningan, semua karena cinta mereka anak-anak pinggir sungai lalan “   

 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran