Memupuk ke Indonesiaan Lewat Bendera dan Lagu
Adji Prakoso | 30 September 2012

Indonesia bukan hanya milik elit dari Istana sampai Pendopo Bupati. Anak-anak desa terdalam juga berhak menikmati indahnya rasa cinta tanah air.

Pendidikan cinta tanah air yang tergembleng dan melekat hangat selama aktif di organisasi mahasiswa mendapat tantangan besar, ketika dipercaya menjemput kehormatan menuntaskan janji kemerdekaan di SDN Kepayang, salah satu sekolah di desa terdalam wilayah kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan. Ketika baru menginjakan kaki dua minggu di desa, saya mengajak murid-murid menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di luar aktivitas sekolah. Tujuan awalnya ingin menggetarkan langit dan aliran anak sungai Musi lewat lagu sakral yang mengudara lewat perjuangan berdarah dan pengorbanan. Namun kesan pertama bukan getaran menusuk relung kalbu, melainkan terukirnya kesedihan di jiwa. Sedih melihat tunas-tunas kecilku tertatih menyanyikan lagu kebangsaannya. Dentingan nada yang terurai dari mulut mereka berbeda dengan nyanyian saudara-saudara sebangsanya. Belum lagi banyak murid yang masih salah dalam beberapa lirik.

Tantangan memupuk rasa cinta tanah air di salah satu pedalaman republik tidak berhenti dimenyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ketika saya bermain tebak-tebakan dengan murid kelas enam mereka juga tidak mengetahui siapa nama Wakil Presiden Republik Indonesia, ada yang menjawab Jusuf Kalla, Alex Noerdin bahkan nama Ir. Soekarno ikut terurai dari bibir polos mereka. Tebak-tebakan nama Wakil Presiden tidak berhenti di kelas enam. Saya coba ulangi ketika pertemuan awal pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas empat. Pertanyaan tersebut di landasi rasa penasaran untuk mengetahui pengetahuan umum dan pemahaman anak tentang negara tercintanya. Di kelas empat tempat saya dipercaya menjadi walikelas, mereka berebut menjawab pertanyaan yang diberikan. Penyebabnya pertemuan pertama dengan murid-murid kelasku disampaikan bahwa keberanian mengakat tangan untuk menjawab pertanyaan guru atau bertanya adalah pondasi menjadi siswa pintar.

Jawaban mereka beragam dengan semangat bergelora, ada yang menjawab Alex Noerdin “ Gubernur Sumatera Selatan”, Pahri Azhari “Bupati Musi Banyuasin”. Dodi Reza Alex “  mantan calon bupati Musi Banyuasin”, Beni Hernedi “Wakil Bupati Musi Banyuasin”. Nama-nama tersebut terekam dalam memori tunas-tunas kecil karena mereka tokoh yang pernah berkunjung ke desa atau jadi perbincangan masyarakat dalam pemilihan kepala daerah beberapa bulan lalu. Pertanyaan selanjutnya Desa kita berada di pulau mana anak-anak ? Mereka semua terdiam tidak mengetahui jawabannya. Selanjutnya peta yang saya buat dari karton, dipasang salah satu sudut dinding kelas. Saya minta anak-anak menunjuk pulau mana tempat desa kita berada. Ada yang menunjuk Papua, Kalimantan, Jawa dan Bali.

Hati langsung termotivasi untuk menyelesaikan tantangan menggemakan ke Indonesiaan dan memupuk rasa cinta terhadap tanah mereka dilahirkan. Saya mencoba menggemakan ke Indonesiaan lewat pintu upacara bendera setiap senin. Tidak pahamnya mereka terhadap ibu pertiwi, salah satu faktor penyebabnya tidak pernah diajak mengibarkan sang saka merah putih di langit sekolah. Antusiasme murid-murid meledak ketika diumumkan setiap hari senin diadakan upacara bendera, untuk perangkat di gilir dari kelas enam sampai empat. Mereka berebut minta jadi perangkat. Selain itu, setiap harinya dikelas empat kami menyanyikan lagu-lagu nasional atau daerah sebelum memulai perjalanan. Tunas-tunas kecilku bernyanyi penuh semangat, menggetarkan relung hati ini.

Sedangkan untuk menjawab tantangan pengetahuan umum tentang ke Indonesiaan lainnya, agar murid-murid punya pengetahuan nama tokoh nasional, daerah, dan pahlawan. Pintu masuknya lewat permainan dan tebak-tebakan dengan murid-murid. Saya juga coba mengubah lirik lagu disini senang-disana senang, menjadi lagu ini Indonesiaku untuk memberikan pengetahuan nama pulau-pulau besar di Indonesia kepada anak-anak murid. Lirik ubahannya yaitu “ Di barat Sumatera, di timur Papua, Utara Kalimantan. Jakarta di Jawa, Pulau Dewata Bali, Pulau K itu Sulawesi. Ini Indonesiaku banyak pulau-pulaunya, beragam budayanya aku cinta. Ini Indonesiaku banyak pulau-pulaunya, beragam budayanya aku cinta”. Lagu ini Indonesiaku di gemakan ketika mengajarkan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Harapannya tunas-tunas kecilku semakin mencintai dan punya pengetahuan cukup tentang bumi pertiwinya. Jikalau masih ada kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran