Telah Lahir, Adhiti Jr !
Adhiti Larasati | 26 February 2012

               Ya, telah lahir seorang Adhiti cilik di Kampung Offie, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Putri cantik ini lahir pada tanggal 14 November 2011. Tubuhnya begitu mungil, terbungkus rapi dengan kain bayi. Parasnya cantik, persis seperti ibunya dengan hidung mancung dan bulu mata yang amat lentik. Apakah dia anakku? Tentu saja bukan !

                Namanya adalah Adhiti Iha. Dia adalah putri ke-5 dari pasangan Yusuf Iha dan Noon Patiran, pasangan suami istri di kampungku yang sekaligus juga merupakan salah satu orang tua muridku. Pak Yusuf dan Mama Noon adalah saudara dari keluarga angkatku. Pak Yusuf memanggil ayah angkatku dengan sebutan Bapak. Konon, ayah angkatkulah yang mejadi wali dari pernikahan mereka.

                Aku cukup kaget ketika pasangan suami istri ini menamai putrinya dengan namaku. Aku sungguh terharu. Bagiku, itu adalah sebuah kehormatan. Karena nama adalah lambang harapan. Nama adalah sebuah doa orang tua kepada anaknya. Nama adalah sebuah identitas seumur hidup yang membedakan seorang makhluk Tuhan dengan makhluk Tuhan lainnya. Walaupun Shakespeare berkata apalah arti sebuah nama.

Sebelum menamai putrinya, dengan rendah hati Mama Noon meminta izin padaku

“Ibu, beta kasih nama beta pu anak ini dengan Ibu pu nama, tara apa-apa toh?” Ibu, saya memberi nama anak saya dengan nama Ibu, Ibu tidak keberatan kan?

“Aish mama, beta ini malah rasa senang. Baru saya pu nama lagi itu bukan orang tua yang buat. Dong ambil dari bahasa Sansekerta. Dong pu arti itu Ibu dari Dewa Matahari. Ibu dari segala sumber kehidupan”. Aish, mama, saya malah senang. Lagipula, nama saya bukanlah orang tua saya yang membuatnya. Mereka mengambil nama saya dari bahasa Sansekerta. Artinya Ibu dari Dewa Matahari. Ibu dari segala sumber kehidupan

“Iyo toh, beta ini pikir – pikir lebih baik kasih nama dong Ibu pu nama saja. Supaya dong bisa ambil Ibu pu sifat baik sedikit kah..”

Iya. Saya ini menimbang – nimbang lebih baik saya memberi nama putri saya dengan nama Ibu. Supaya dia bisa meniru sifat – sifat baik yang Ibu miliki.

“Aish, mama ini bisa saja..”

 Aku sesungguhnya sangat malu ketika Mama Noon menjelaskan hal itu. Rasa malu yang bercampur dengan rasa haru luar biasa. Aku bersyukur, masih ada yang menganggapku orang baik.

“Iyo toh..Mama Ibu..Mama Ibu ini bukan tinggal – tinggal di Offie selamanya. Sebentar juga Mama Ibu su pergi. Jadi, beta ini kasih nama dong Adhiti supaya nama Mama Ibu tidak hilang dari kampung ini”

Memang benar toh..Ibu ini bukan tinggal selamanya di Kampung Offie. Sebentar lagi  juga Ibu akan pulang. Jadi, saya memberi nama anak saya Adhiti supaya nama Ibu tetap dikenang di Kampung Offie.

“Aduh..mama ee..beta ini tara tau harus bilang apa..makasih lagi mama..beta Cuma pikir mudah – mudahan nona ini besar nanti jaaaauuuuuuh lebih baik dari beta dan bawa Kampung ini maju..:) ”

Mama, saya tidak tahu harus berkata apa. Terimakasih banyak. Saya hanya berharap mudah – mudahan nona kecil ini akan tumbuh menjadi wanita yang jaaaauuuuh lebih baik daripada saya dan membawa kampung ini menuju kemajuanJ

“Aaamiiiiiin”

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran