Luka Itu Perih, Tapi Sampai Kapan Kau Akan Terus Menggaraminya?
Adhiti Larasati | 16 October 2011

 

Rasa – rasanya, baru kemarin saja tulang – tulang di tubuhku ini serasa mau dicopot oleh serangan Plasmodium Falciparum. Tapi saat itu, tibalah waktu untuk rapat koordinasi di kota pada tanggal 1 Oktober. Aku kaget karena setibanya di kota Ikalah yang sekarang sedang terserang malaria, sampai akhirnya masuk rumah sakit pula. Padahal kemarin dulu Ika yang merawatku. Kami pun bergantian menjaga Ika di rumah sakit.

Entah kenapa, hari – hari itu perasaanku sungguh berkecamuk. Hanya Tuhan, aku, dan teman – teman sesama PM Fakfak yang tau kenapa. Hingga akhirnya, Senin sore aku kembali ke desa. Saat itu aku harus menghadapi kenyataan bahwa guru – guru sudah mulai berkuliah. Dua orang guru lainnya juga pergi ke kota sehingga tinggallah Kepala Sekolah sendiri bertugas ditemani olehku. Malam itu aku tidur menginap di rumah Mama Kei karena Mama dan Bapak sedang pergi ke kota dan aku sendirian saja di rumah. Keesokan harinya, aku baru sadar bahwa aku telah kehilangan handphoneku. Sepulang dari kota, aku memang tidak mengecek HP sama sekali dan tidak membongkar isi tas. Yang aku ingat, terakhir kali aku memegang HP dalam perjalanan menuju desa. Saat itu aku memang mengalami kantuk yang luar biasa, sehingga tidak sempat lagi memperhatikan barang – barang di sekelilingku. Aku terduduk lemas. Bukan sekedar HP, yang kubutuhkan adalah data – data penting seperti nomor telepon kolega, sahabat, dan sanak saudaraku. Aku juga kerapkali menulis jurnal harian di HP yang belum sempat aku pindahkan ke laptop. Yang lebih kusesalkan lagi, banyak potongan memori yang tersimpan rapi dalam bbm, sms, maupun foto dan video. Mungkin, memang sudah saatnya kenangan – kenangan itu sirna dan cukup tersimpan rapi dalam lipatan – lipatan sel otakku.

Saat mengajar, pikiranku masih digelayuti banyak hal hingga akhirnya tubuhku memberontak lagi. Saat itu Mama sedang pergi ke kota mengurusi pernikahan keponakannya. Sejak sebulan yang lalu mama sudah berpesan padaku untuk juga menghadiri pernikahan kakak sepupuku yang jatuh di hari Kamis karena beliau menugaskanku sebagai pagar ayu. Bapak juga sedang pergi ke kota mengurusi permasalahan desa tentang DAK yang sampai membuat dua orang aparat desa masuk tahanan. Hal yang cukup menjadi beban pikiranku juga. Aku muntah, lagi. Pulang sekolah kuputuskan untuk pergi ke Puskesmas di desa sebrang. Menunggu ojek yang tak kunjung datang, akhirnya Mama Kei menyuruh Amrin dan Munira (muridku) untuk mengantarkanku menyebrang teluk ke desa sebrang menggunakan kole – kole (perahu). Menemui dokter PTT temanku, dia mendiagnosa bahwa malariaku negatif. Dia bilang muntahku mungkin berasal dari penyakit maag yang aku derita. Aku pun sedikit lega. Aku tidak mau melupakan lagi bahwa tubuh ini memiliki hak untuk beristirahat. Aku bertekad sehabis ini aku akan segera makan, minum susu, dan mendopping diri dengan vitamin – vitamin. Aku kembali ke desa menggunakan kole – kole. Walaupun berada di tepi laut, jangan kalian bayangkan bahwa kampungku adalah laut berpasir putih. Karena berada di muara sungai, laut di kampungku dipenuhi dengan tanah berlumpur. Apalagi saat itu sedang meti (surut) besar dan matahari sedang berada di titik teriknya sehingga kami (aku, Munira, dan Amrin) harus melewati gundukan lumpur untuk mencapai perahu yang ditambatkan di pinggir pantai. Bodohnya, aku tidak hati – hati sehingga kakiku menginjak tiram dan terpeleset hingga rokku robek dan menyisakan luka di lutut. Perih. Luka itu perih. Apalagi dia mengeluarkan cukup banyak darah yang menembus bagian rokku. Tapi aku tau, perihnya luka itu lebih disebabkan oleh banyaknya kejadian yang aku alami belakangan ini. Kulihat wajah Munira sudah memucat karena merasa bersalah tak bisa menopang tubuhku “Muhammad Mama Ibu, jalan licin eee! Habis Mama Ibu terlalu berat jadi beta tara bisa tahan”. Aku hanya meringis kesakitan dan berkata pada Munira bahwa aku baik – baik saja. Amrin dengan lucunya menepuk jidatnya dengan tangan “Ooo, katong bilang juga apa Kakak Ibu, jangan pakai sendal di tempat pecek – pecek ini!”

Dalam perjalanan kembali ke desa di kole – kole, aku banyak – banyak berpikir dan merenung. Aku tidak terlalu memperhatikan obrolan Munira dan Amrin. Aku hanya mendengar Amrin berkata “HP lai baru hilang baru sekarang luka”. “Ah, tapi luka itu sedikit saja Kakak Ibu. Katong punya luka lebih besar!” ucapnya menghibur sambil menunjukkan luka di lututnya, yang memang lebih besar dari luka milikku. Luka di lutut itu menyadarkanku bahwa luka itu memang perih. Luka itu seolah mengejekku dan membisikkan di telingaku bahwa memang benar aku sedang terluka. Tapi lantas, apa aku akan membiarkannya tetap terbuka dan menyiraminya dengan air garam di lautan yang menciprati tubuhku? Kembali terngiang – ngiang pernyataan Eky dalam suatu obrolan di rumah sakit saat menunggui Ika, “Luka itu perih, tetapi manusia lebih suka untuk menggaraminya dan menyiraminya dengan cuka. Lebih baik tutup luka itu dan ambil betadine untuk mengobatinya”. Aku memutuskan, lebih baik kuambil betadine untuk segera mengobati luka itu!

 

Fakfak, Oktober 2011Rasa – rasanya, baru kemarin saja tulang – tulang di tubuhku ini serasa mau dicopot oleh serangan Plasmodium Falciparum. Tapi saat itu, tibalah waktu untuk rapat koordinasi di kota pada tanggal 1 Oktober. Aku kaget karena setibanya di kota Ikalah yang sekarang sedang terserang malaria, sampai akhirnya masuk rumah sakit pula. Padahal kemarin dulu Ika yang merawatku. Kami pun bergantian menjaga Ika di rumah sakit.

Entah kenapa, hari – hari itu perasaanku sungguh berkecamuk. Hanya Tuhan, aku, dan teman – teman sesama PM Fakfak yang tau kenapa. Hingga akhirnya, Senin sore aku kembali ke desa. Saat itu aku harus menghadapi kenyataan bahwa guru – guru sudah mulai berkuliah. Dua orang guru lainnya juga pergi ke kota sehingga tinggallah Kepala Sekolah sendiri bertugas ditemani olehku. Malam itu aku tidur menginap di rumah Mama Kei karena Mama dan Bapak sedang pergi ke kota dan aku sendirian saja di rumah. Keesokan harinya, aku baru sadar bahwa aku telah kehilangan handphoneku. Sepulang dari kota, aku memang tidak mengecek HP sama sekali dan tidak membongkar isi tas. Yang aku ingat, terakhir kali aku memegang HP dalam perjalanan menuju desa. Saat itu aku memang mengalami kantuk yang luar biasa, sehingga tidak sempat lagi memperhatikan barang – barang di sekelilingku. Aku terduduk lemas. Bukan sekedar HP, yang kubutuhkan adalah data – data penting seperti nomor telepon kolega, sahabat, dan sanak saudaraku. Aku juga kerapkali menulis jurnal harian di HP yang belum sempat aku pindahkan ke laptop. Yang lebih kusesalkan lagi, banyak potongan memori yang tersimpan rapi dalam bbm, sms, maupun foto dan video. Mungkin, memang sudah saatnya kenangan – kenangan itu sirna dan cukup tersimpan rapi dalam lipatan – lipatan sel otakku.

Saat mengajar, pikiranku masih digelayuti banyak hal hingga akhirnya tubuhku memberontak lagi. Saat itu Mama sedang pergi ke kota mengurusi pernikahan keponakannya. Sejak sebulan yang lalu mama sudah berpesan padaku untuk juga menghadiri pernikahan kakak sepupuku yang jatuh di hari Kamis karena beliau menugaskanku sebagai pagar ayu. Bapak juga sedang pergi ke kota mengurusi permasalahan desa tentang DAK yang sampai membuat dua orang aparat desa masuk tahanan. Hal yang cukup menjadi beban pikiranku juga. Aku muntah, lagi. Pulang sekolah kuputuskan untuk pergi ke Puskesmas di desa sebrang. Menunggu ojek yang tak kunjung datang, akhirnya Mama Kei menyuruh Amrin dan Munira (muridku) untuk mengantarkanku menyebrang teluk ke desa sebrang menggunakan kole – kole (perahu). Menemui dokter PTT temanku, dia mendiagnosa bahwa malariaku negatif. Dia bilang muntahku mungkin berasal dari penyakit maag yang aku derita. Aku pun sedikit lega. Aku tidak mau melupakan lagi bahwa tubuh ini memiliki hak untuk beristirahat. Aku bertekad sehabis ini aku akan segera makan, minum susu, dan mendopping diri dengan vitamin – vitamin. Aku kembali ke desa menggunakan kole – kole. Walaupun berada di tepi laut, jangan kalian bayangkan bahwa kampungku adalah laut berpasir putih. Karena berada di muara sungai, laut di kampungku dipenuhi dengan tanah berlumpur. Apalagi saat itu sedang meti (surut) besar dan matahari sedang berada di titik teriknya sehingga kami (aku, Munira, dan Amrin) harus melewati gundukan lumpur untuk mencapai perahu yang ditambatkan di pinggir pantai. Bodohnya, aku tidak hati – hati sehingga kakiku menginjak tiram dan terpeleset hingga rokku robek dan menyisakan luka di lutut. Perih. Luka itu perih. Apalagi dia mengeluarkan cukup banyak darah yang menembus bagian rokku. Tapi aku tau, perihnya luka itu lebih disebabkan oleh banyaknya kejadian yang aku alami belakangan ini. Kulihat wajah Munira sudah memucat karena merasa bersalah tak bisa menopang tubuhku “Muhammad Mama Ibu, jalan licin eee! Habis Mama Ibu terlalu berat jadi beta tara bisa tahan”. Aku hanya meringis kesakitan dan berkata pada Munira bahwa aku baik – baik saja. Amrin dengan lucunya menepuk jidatnya dengan tangan “Ooo, katong bilang juga apa Kakak Ibu, jangan pakai sendal di tempat pecek – pecek ini!”

Dalam perjalanan kembali ke desa di kole – kole, aku banyak – banyak berpikir dan merenung. Aku tidak terlalu memperhatikan obrolan Munira dan Amrin. Aku hanya mendengar Amrin berkata “HP lai baru hilang baru sekarang luka”. “Ah, tapi luka itu sedikit saja Kakak Ibu. Katong punya luka lebih besar!” ucapnya menghibur sambil menunjukkan luka di lututnya, yang memang lebih besar dari luka milikku. Luka di lutut itu menyadarkanku bahwa luka itu memang perih. Luka itu seolah mengejekku dan membisikkan di telingaku bahwa memang benar aku sedang terluka. Tapi lantas, apa aku akan membiarkannya tetap terbuka dan menyiraminya dengan air garam di lautan yang menciprati tubuhku? Kembali terngiang – ngiang pernyataan Eky dalam suatu obrolan di rumah sakit saat menunggui Ika, “Luka itu perih, tetapi manusia lebih suka untuk menggaraminya dan menyiraminya dengan cuka. Lebih baik tutup luka itu dan ambil betadine untuk mengobatinya”. Aku memutuskan, lebih baik kuambil betadine untuk segera mengobati luka itu!

 

Fakfak, Oktober 2011

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran