Berkibarlah Benderaku
Oleh: Maisya Farhati,

Nur berlari ke kelas dan menangis. Tangisan itu adalah jawaban dari pertanyaanku, “Nur masih mau menjadi pembaca UUD 1945 atau Ibu harus carikan pengganti?”

Nur hari itu sakit gigi, dari kemarin sore tepatnya. Gusinya bengkak sehingga pipi kanannya nampak lebih berisi dari biasanya. Pagi itu, Senin, 10 Oktober 2011. Hari yang kami tunggu-tunggu: pelaksanaan upacara bendera. Aku berniat datang lebih pagi ke sekolah agar bisa menyambut murid-muridku, khususnya para petugas upacara. Namun jam 6.30 kulihat mereka sudah datang mendahuluiku. Bahkan Jannah, salah satu murid yang rumahnya paling jauh, telah tiba di sekolah. Sungguh luar biasa semangat mereka!

Sepuluh menit menuju jam 7, Nur, sang pembaca UUD 1945 belum datang. “Mungkin Nur tak sekolah, Bu. Dia sakit gigi dari kemarin sore,” kata Saiyah, pengibar bendera. Aku buru-buru mencari pengganti Nur. Husnul, murid kelas 5, menawarkan diri untuk menjadi pengganti. Namun aku juga berkata kepadanya jika Nur datang maka Nur yang akan tetap bertugas.

Kembali ke tangisan Nur. Aku bingung apa maknanya. Ia tiba tak lama sebelum upacara dimulai dan menangis mendengar pertanyaanku. Apakah ia tak ingin bertugas namun takut mengecewakanku? Ataukah ia ingin bertugas namun giginya terlampau sakit? Aku duduk di samping Nur, berusaha menenangkannya. Setelah tangisnya reda, ia berkata pelan, “Bu, saya mau membaca undang-undang…” Aku tersenyum dan memberikan teks UUD 1945. “Nur tidak apa-apa membaca dengan gigi yang sakit?” Ia mengangguk. Kawan, aku rasa Nur menangis karena ia begitu ingin membaca UUD 1945 pagi itu, namun ia takut tak sanggup melaksanakannya.

Beberapa menit menuju jam 7, guru yang datang baru aku seorang. Aku mengumpulkan semua murid untuk berbaris membentuk banjar menurut kelasnya. Selain petugas upacara, mereka belum pernah latihan sebelumnya. Maka pagi itu aku berikan briefing mengenai aba-aba dan posisi penghormatan, istirahat di tempat, dan ‘balik kanan bubar jalan”.

Jam 07.00 kepala sekolah datang, dan guru-guru lain datang pula tak berselang lama setelah itu. Dengan bantuan guru-guru lain, murid-murid kemudian berbaris di posisi masing-masing. Murid kelas 1 – 3 yang paling lama diatur. Namun akhirnya mereka bisa berbaris rapi juga.

Setelah semua siap, aku memberikan kode kepada Koma, sang pembawa acara, untuk memulai upacara. Sebagian dari para petugas kulihat gugup. Tapi selain mereka, sebetulnya aku sendiri yang deg-degan dan berharap semoga mereka dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik.

***

SDN 4 Telukjatidawang terakhir kali melaksanakan upacara bendera pada tahun 2004, tujuh tahun yang lalu. Oleh karenanya, murid-muridku semuanya belum pernah melaksanakan upacara bendera di sekolah. Dahulu waktu aku masih SD, aku menganggap upacara bendera adalah hal yang biasa, hanya sebuah rutinitas setiap Senin pagi. Tapi tanpa disadari, melalui upacara bendera lah aku tahu dan hapal lagu Indonesia Raya, lagu-lagu nasional, dan Pancasila, serta belajar mengibarkan bendera merah putih. Di sini, murid-muridku, bahkan kelas enam sekalipun, masih ada yang belum hapal Pancasila. Lagu Indonesia Raya pun mereka nyanyikan dengan nada yang masih banyak salah. Sungguh aku kaget saat pertama kali mengajar di sekolah ini.

Upacara bendera memang bukanlah satu-satunya cara mencintai tanah air, namun setidaknya merupakan jalan pembuka bagi anak-anak untuk mengenal dan kemudian mencintai Indonesia. Upacara juga bisa menjadi sarana pembelajaran kedisiplinan bagi mereka. Mereka belajar berbaris dengan tertib dan belajar menghargai dengan mendengarkan pembina upacara yang memberikan amanat.

 

Jadilah pagi itu, 10 Oktober 2011, merah putih berkibar di SDN 4 Telukjatidawang. Lagu Indonesia Raya menggema, para guru pun ikut menyanyikannya, membantu paduan suara yang hanya berjumlah dua belas orang (murid di sekolahku memang tak terlalu banyak, hanya 53 orang). Pada pelaksanaannya, aku akui memang masih terdapat kekurangan. Tapi sungguh aku menghargai kerja keras dan usaha mereka.

Seusai upacara, satu per satu petugas upacara aku jabat tangannya. Aku berkata, “Bagus sekali. Terima kasih ya.” Mereka tersenyum. Aku juga kemudian membuat ‘surat cinta’ bagi sebelas 23 petugas upacara (termasuk paduan suara).

Untuk Koma yang baik,

Terima kasih telah menjadi petugas pembawa acara dalam upacara tanggal 10 Oktober 2011 di SDN 4 Telukjatidawang.

Terus berlatih agar dapat lebih baik lagi di masa mendatang.

Koma pasti bisa!

Salam sayang,

Ibu Icha

 

Anak-anak sangat perlu diapresiasi. Anak yang tumbuh dengan apresiasi, akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Dan pada saat yang sama, mereka juga belajar untuk menghargai orang lain. Kalau bukan kita, siapa yang mau memulai memberi penghargaan kepada mereka?

 

(16102011)


Cerita Terbaru
Cerita menarik lain dari Pengajar Muda

Hari Turunnya Al Qur'an di Desaku, Kuala Baru, Aceh Singkil

Bab 2 : Ngelong

Bab 1 : Ibu Guru Baru

Prolog : Bumi Silampari

Merica dan Pendidikan Lalomerui

Seluruh Cerita

Lihat seluruh cerita Pengajar Muda

Ikut Iuran