Jan
09

Kerja, kerja, dan kerja sampai mimpi kita semua terwujud.

Itulah kalimat yang pernah saya dengar dari seorang teman dan merupakan kalimat ajaib bagi saya di tanah pengabdian ini. Saya seorang gadis yang sedang mengajar di SD YPK SION ANSUS, Kelurahan Ansus, Distrik Yapen Barat, Kabupaten Kepulauan Yapen. Di tanah pengabdian ini, pertama kalinya bagi saya untuk pergi mengajar dengan harus mendayung perahu setiap hari, tetapi saya percaya Tuhan akan selalu memberikan perlindungan kepada saya.

Selepas mengajar, saya selalu duduk sambil menuliskan impian saya bagi pendidikan di Ansus. Suatu hari, terlintas dalam pikiran saya untuk mengajak anak – anak untuk hidup hemat dengan membuat buku tabungan. “Ah, mana mungkin anak – anak ini mau menabung. Mereka kan sudah terbiasa menghabiskan uang dalam satu hari tanpa memikirkan hari esok”, pikir saya dengan penuh pesimis. Pikiran ini sementara membatasi saya untuk mulai mewujudkan impian kecil ini.

Sementara dengan pikiran yang berada dalam dua kubu ini, saya bertemu dengan Bapak Raymond Djopari. Raymond Djopari adalah Kepala Bank Papua KCP Ansus dan memberikan sebagian waktunya untuk mengajar pelajaran matematika di SD YPK SION, SMP YPK EKLESIA, dan SMA YASUKA ANSUS.

Sore itu selepas mengajar les, percakapan antara saya dan beliau terjadi. Saya membagikan impian ini kepada beliau, dan tidak disangka beliau juga sudah melakukan inisiatif sederhana ini terhadap beberapa siswa – siswa SMP di Ansus. Hal ini lantas membuat saya semakin berani untuk melangkah dan melupakan segala kecemasan yang membatasi ruang gerak saya.

“Itu ide yang bagus ibu, saya juga sedang mencobanya di SMP. Beberapa siswa SMP sudah membuka rekening tabungan disini. Bank Papua mempunyai jenis tabungan untuk pelajar yang diberikan nama SIMPEL (Simpanan Pelajar). Pembukaan awal hanya Rp 5.000,- dan tabungannya selanjutnya minimal Rp 1.000,-”, ucap Beliau ketika saya menyampaikan impian saya ini.

“Wah, ya pak. Saya juga mempunyai impian agar anak – anak di Ansus ini bisa menabung, sehingga mereka tidak menggunakan uang mereka hanya untuk jajan saja. Oya, pak bagaimana ya caranya anak – anak dapat menabung di bank ini, tanya saya dengan antusias.

“Ibu, sampaikan ide ini kepada kepala sekolah lalu berkunjung ke rumah orangtua untuk menjelaskan rencana ini dan tolong minta juga fotokopi kartu keluarga atau kartu tanda penduduknya”, balas ayah dari enam anak ini.

“Wah kartu keluarga ya? Apakah bisa ya? Kartu Keluarga atau Kartu Tanda Penduduk adalah benda yang jarang dimiliki oleh masyarakat di daerah saya, lantas bisakah impian ini terwujud ya?, batin ini dengan penuh gelisah.

“Ya sudah pak, saya pamit pulang dulu karena sudah sore. Terimakasih ya pak. Nanti kalau ada yang saya bingungkan, saya akan menanyakan bapak lagi”, ucap saya untuk mengakhiri diskusi sore itu. “Siap ibu, saya akan selalu membantu. Sore, balas Beliau.

Malam itu selepas dari segala rutinitas, saya duduk di bangku yang biasanya saya gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah, dan memulai menyusun tahapan impian sederhana saya, serta berdoa agar Tuhan yang memimpin setiap tahapannya.

Pagi itu dengan penuh semangat, saya menyiapkan diri untuk pergi bertemu dengan anak – anak yang selalu penuh dengan kejutan. Saya siap dengan tahapan yang telah saya susun tadi malam dan siap untuk segala tanggapan dari kepala sekolah, orangtua, dan anak – anak. Pertemuan di kelas biasanya akan kami mulai dengan sembahyang dan pengucapan salam, setelah itu pelajaran, tetapi hari itu ada yang berbeda yaitu berbagi impian saya kepada anak – anak.

“Anak – anak, kemarin ibu pernah mengajar tentang menabungkah?, tanya saya. “Iya, ibu”, jawab mereka dengan antusias. “Nah, kenapa kita harus menabung?”, tanya saya lagi. Putri Kirana Loho, salah satu muridku mengangkat tangannya dan mencoba untuk menjawab, “uangnya bisa dipakai untuk sekolah tinggi, bu”. “Ya benar sekali”, jawabku dengan senyum. Jawabannya memberikan gambaran impian dari semua anak, bahwa mereka sebenarnya ingin bersekolah dan memperoleh pendidikan yang baik dan benar, tetapi sesuatu membatasi impian mereka.

“Baik, sekarang ibu punya benda yang menarik untuk kalian”, ucap saya sambil menunjukkan contoh buku tabungan Simpanan Pelajar yang Pak Djopari berikan kemarin sore. “Nah inilah buku tabungan yang kemarin ibu ajarkan kepada kalian. Jadi, siapa yang mau menabung di bank? Kalau yang mau menabung mulai besok bawa uang Rp 1.000,- ya atau kalau kalian diberikan uang jajan yang banyak boleh dibagi sedikit untuk tabungan ya biar uang kalian tidak cepat habis ya”, jelasku.

Tiba – tiba Putri dan Elisabet menghampiriku dan memberikan beberapa uang mereka untuk ditabung, “Ibu, ini untuk tabung”. “Oh, baik – baik. Ibu catat disini ya. Ayo yang lain juga besok menabung ya” ucapku. “Ayo sekarang kita belajar Bahasa Indonesia….”, ucap saya mengajak anak – anak untuk belajar.

“Pelajaran hari ini telah selesai. Mari kita sembahyang dulu sebelum pulang”, saya mengajak anak – anak untuk menyanyikan lagu sekolah minggu dan berdoa. Sembahyang (menyanyikan lagu sekolah minggu dan berdoa) merupakan perbuatan yang baik yang selalu dilakukan di sekolah saya sebelum dan sesudah belajar. -Bersambung-

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!